Connect with us

BABAD BANTEN

Tujuh Perilaku Buruk Orang Banten di Zaman Kerajaan

Published

on

Banten yang termasyhur sebagai pelabuhan terbesar di Nusantara pada abad 16-17, selalu digambarkan sebagai sebuah wilayah yang tengah berkembang dan menjadi kota tujuan pedagang-pedagang asing di dunia yang tertarik dengan kekayaan hasil pertanian di Banten.

Dalam rubrik Babad Banten kali ini, redaksi Banten Hits akan menyajikan catatan harian seorang warga negara Inggris bernama Scott yang bertugas untuk kompeni Inggris di Hindia Timur. Dia tinggal di Banten dari tahun 1603-1605.

Yang menarik dari tulisan Scott adalah tentang kondisi Banten yang diceritakan sebagai sebuah negeri yang dipenuhi kekacauan; kemiskinan melanda, wabah penyakit merajalela, keadaan alam yang mengkhawatirkan serta perilaku manusia-manusia di wilayah itu yang sangat buruk.

Seluruh tulisan bersumber dari buku Banten; Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII yang ditulis Claude Guillot. Dalam pembahasan tentang tulisan Scott mengenai Banten, Guillot memberi catatan; pada saat kedatangan Scott, Banten sedang dilanda sebuah krisis politik sangat parah. Scott sendiri dinilai tak mengetahui penyebab kiris yang melanda Banten itu.

Pertama-tama dalam catatannya itu, Scott menyebut Banten sebagai wilayah yang rawan terhadap peristiwa kebakaran. Tercatat, selama kurun 15 bulan telah terjadi 15 kali kebakaran di Banten. Pada saat itu, rumah-rumah di Banten terbuat dari bambu beratapkan jerami.

Lalu, Scott juga menggambarkan lingkungan Banten sebagai negeri maut. Tanahnya tertutup rawa, kumuh, dan gersang. Selain biji lada, Banten tak menghasilkan apapun sehingga tak mampu menyediakan makanan bagi penduduknya.

Air yang menjadi sumber kehidupan di tempat lain, berubah menjadi racun yang membuahkan penyakit dan kematian. Seluruh penduduk–kecuali orang kaya–tulis Scott, terpaksa harus menelan makanan yang hanya pantas diberikan kepada binatang.

Scott bahkan menggambarkan, kondisi Banten saat itu adalah kebalikan dari sebuah peradaban. Di sana binatang liar dan buas yang menyerang serta memangsa manusia berkembang biak dalam jumlah yang tak terhitung. Cuaca panas dan lembab menghancurkan barang-barang dan orang-orang yang setelah menjadi lemah karena makanan yang buruk, terserang berbagai macam penyakit khususnya diare dan pembengkakan.

Setelah memberikan gambaran soal kondisi lingkungan di Banten, Scott kemudian memberi penilaian moral terhadap orang-orang Banten. Menurutnya ada beberapa kejahatan yang sudah berakar dalam diri orang-orang Banten.

Pertama, kemaksiatan karena sistem poligami hewani. Menurut Scott, saat itu di Banten, setiap orang Jawa yang bukan budak dapat memiliki tiga isteri. Setiap isterinya itu diharuskan untuk mengambil sepuluh budak perempuan, bahkan sampai 40 orang. Budak-budak perempuan mereka ini diperlakukan juga seperti isteri mereka sendiri.

Kedua, kemalasan. Scott mencatat, hampir tak ada satu persen pun orang Banten yang saat itu mau bekerja.

Ketiga, nafsu mendapat keuntungan. Orang Banten, disebutkan Scott, siap memenggal kepala salah seorang kerabat dekatnya untuk dijual kepada para pemburu kepala. Raja hanya menikmati pembunuhan yang terjadi di kerajaannya, karena perbuatan ini memperkaya dirinya. Karena, semakin sering mereka saling bunuh, raja akan semakin banyak mengantungi denda dan menarik keuntungan.

Keempat, pencurian. Godaan untuk mendapat keuntungan yang ditambah dengan kemalasan dan sifat tak bermoral ini, tak pelak lagi berakhir dengan pencurian. Namun, dalam tulisannya itu, Scott disebut hanya dua kali mendapatkan pengalaman menjadi korban percobaan pencurian. Scott lebih banyak menuliskan soal korupsi di Banten yang dilakukan terbatas oleh orang-orang yang berkuasa.

Kelima, kebengisan. Scott menyebut, orang-orang Banten sebagai orang yang haus darah.

Keenam, sifat pengecut. Menurut Scott, orang-orang Banten jarang menanggapi tantangan berkelahi satu lawan satu dengan orang sebangsa ataupun dengan warga asing. “Mereka semua berusaha membalas dendan terhadap musuh mereka dengan cara pengecut,” tulis Scott.

Ketujuh, ketidakadilan sosial. Penduduk Banten saat itu terbagi atas dua golongan: kaum bangsawan dan kaum budak. Golongan pertama mengangkangi seluruh kekayaan dan kekuasaan dengan mengabaikan golongan kedua yang berada dalam keadaan serba kekurangan dan ketergantungan yang memalukan. Bahkan, kaum bangsawan ini disebut berani menghukum mati kaum budak sekecil apapun kesalahan mereka.

Terhadap tujuh daftar keburukan masyarakat Banten yang dituliskan Scott, Claude Guillot memberikan catatan kritis. Menurutnya, daftar keburukan masyarakat Banten ini, sebagaimana dalam petikan-petikan yang seperti apa adanya dari scott, jauh dari lengkap. Pasalnya, kata Guillot, seluruh bangsa di Asia dibidik oleh gambaran yang tidak terpuji itu, walaupun memang Scott menyusun tingkat-tingkatan kebuasan mereka. (Rus)

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Trending