Connect with us

GAYA HIDUP

ISBANBAN; Dari Pemuda Banten untuk Indonesia

Published

on

Jum’at (20-22/06/2014), puluhan pemuda-pemudi asal Banten yang berusia antara 16-23 tahun menyusuri jalan berbatu di Kecamatan Padarincang, tepatnya di  Kampung Sukamaju, Desa Citasu, Kabupaten serang. Lokasi tersebut sebenarnya tak jauh dari jantung pusat pemerintahan Propinsi Banten. Namun karena hancurnya kondisi jalan menuju lokasi, perjalanan Serang-Padarincang memakan waktu hampir satu jam.

Puluhan anak muda ini tergabung dalam komunitas Istana Belajar Anak Banten (ISBANBAN). Mereka mengunjungi tempat-tempat terpencil di Banten untuk menyediakan kecukupan bahan bacaan bagi warga kampungnya. Untuk anak muda seusia mereka di jaman sekarang ini, aktivitas yang mereka lakukan sudah tergolong langka. 

Jum’at (20-22/06/2014), puluhan pemuda-pemudi asal Banten yang berusia antara 16-23 tahun menyusuri jalan berbatu di Kecamatan Padarincang, tepatnya di  Kampung Sukamaju, Desa Citasu, Kabupaten serang. Lokasi tersebut sebenarnya tak jauh dari jantung pusat pemerintahan Propinsi Banten. Namun karena hancurnya kondisi jalan menuju lokasi, perjalanan Serang-Padarincang memakan waktu hampir satu jam.

BACA :  Novotel Tangerang Kembali Gelar Wedding Open House

Puluhan anak muda ini tergabung dalam komunitas Istana Belajar Anak Banten (ISBANBAN). Mereka mengunjungi tempat-tempat terpencil di Banten untuk menyediakan kecukupan bahan bacaan bagi warga kampungnya. Untuk anak muda seusia mereka di jaman sekarang ini, aktivitas yang mereka lakukan sudah tergolong langka. 

ISBANBAN dimotori oleh Panji Aziz Pratama. Berawal ketika peristiwa banjir melanda Desa Citasu pada Januari 2013. Panji saat itu menjadi relawan untuk membantu korban banjir bersama Banten Muda Community. Saat itu ia menemukan begitu banyak kekurangan fasilitas yang dimiliki warga setempat.

“Awalnya kita datang ke sini untuk bantu korban banjir, kemudian mengetahui bahwa anak-anak di sini tidak memiliki akses sumber bacaan dan sarana bermain yang mendidik,” terangnya.

BACA :  KJL, Ajak Anda Jelajahi Destinasi Wisata di Lebak

Dari pengalaman menjadi relawan banjir di desa itulah kemudian timbul ide untuk berbuat lebih jauh dari sekedar membantu korban banjir.  Panji dan kawan-kawan kemudian bertekad untuk mendirikan taman bacaan dan bermain yang mendidik.

Untuk menunjang kegiatan sosial mereka ini, para relawan ISBANBAN menggunakan sepeda motor dan angkot sewaan yang datang senja hari di kampung terpencil itu. Begitu mereka tiba, puluhan anak -anak yang berlarian riang gembira langsung menyambut kedatangan mereka.

“Assalmu’alaikum kakak-kakak,” ujar anak-anak menyambut para relawan muda.

Ketika Syafrizal, salah seorang relawan menanyakan kabar anak-anak kampung itu, mereka langsung menjawab serempak, “Alhamdulillah, luar biasa, Allahuakbar!” jawab anak-anak itu kompak.

BACA :  Keliru Jika saat Diet Harus Hindari Lemak, Ini Diet Ketogenic Ala Chef Edwin Lau

Usai melakukan serangkaian kegiatan, malam harinya para relawan ISBANBAN melakukan evaluasi kegiatan yang sudah dilakukan dan mempersiapkan kegiatan esok harinya. Hingga jam menunjukkan pukul 02.00 WIB, para relawan masih tampak berdiskusi membahas berbagai hal; mulai impian mereka untuk menjadikan Kampung Sukamaju sebagai pilot project, sampai mendirikan ISBANBAN di seluruh pelosok Banten.

Pagi hari sekitar pukul 05.30 WIB, relawan ISBANBAN melanjutkan kegiatan mereka dengan mengajak anak-anak bermain di halaman sebuah penggilingan padi. Di hadapan mereka terhampar sawah hijau. Cahaya matahari pagi menerpa wajah-wajar ceria mereka.

Anak-anak muda yang tergabung di ISBANBAN telah jalan terjal dan sunyi untuk menebarkan manfaat kepada sesama. Jauh dari ingar-bingar pusat belanja dan simbol-simbol kemodernan anak muda, mereka mencurahkan tenaga dan pikiran untuk Indonesia.(Rus)



Advertisement
Click to comment

Terpopuler

Please disable your adblock for read our content.
Refresh