Connect with us

BABAD BANTEN

Letusan Krakatau dan Kelompok Fundamentalis dalam Revolusi Banten (1)

Published

on

Sebuah desa bernama Sanedja di Kota Cilegon, Banten. Saat itu Senin pagi, 9 Juli 1888. Jauh sebelum fajar tiba, sejumlah orang dengan jubah putih memotong kabel telegraf dan memblokir jalanan. Saat fajar mulai muncul, mereka kemudian menyerang tempat tinggal orang-orang Eropa, asisten residen, manajer penjualan garam, pemungut pajak, dan controleur junior. Seluruh keluarga dan seisi rumah menjadi sasaran pembunuhan. 

Korban pertama yang menjadi sasaran adalah seorang jurutulis bernama Dumas. Awalnya dia bisa lolos melewati jendela. Sementara pengasuh anaknya yang dikira para penyerang isterinya Dumas, diserang dengan tombak. Bayi Dumas tercacah dalam pelukannya. Dumas sendiri kemudian ditemukan berlindung bersama seorang Cina. Dia diseret keluar dari tempat persembunyiannya kemudian ditembak.

Alur peristiwa revolusi di Banten yang kemudian dikenal Geger Cilegon itu diceritakan oleh Simon Winchester dalam bukunya Krakatoa. Dalam rubrik Babad Banten kali ini, redaksi Banten Hits akan mengulas peristiwa yang melatarbelakangi pecahnya Geger Cilegon. Tulisan bersumber dari buku Krakatoa yang ditulis Simon Winchester, serta bahan lainnya yang didapat lewat pencarian di internet. Tulisan akan kami sajikan secara bersambung.

Pimpinan para penyerang itu, menurut Simon, adalah para haji. Mereka terdiri dari 40 orang yang terpilih. Mereka mengenakan jubah putih. Sumpah dituntut dan ditawarkan. Semua peserta menyetujui secara tertulis untuk melakukan pembunuhan. Para petarung dipilih dan diajari tehnik-tehnik pencak silat dan dipersenjatai dengan hebat menggunakan pedang, tombak baru dan golok.

Setelah mengawali aksi di rumah jurutulis Dumas, para penyerang juga menyerang penjara. Pintu penjara didobrak terbuka, lalu para tahanannya dilepaskan. Seorang pria bernama Johan Hendrik Gubbels yang menjabat asisten residen di tempat itu, dikejar dari satu sisi ke satu sisi lainnya di kota itu hingga akhirnya ditikam sampai mati setelah ditemukan oleh para penyerang. Elly, putri Johan Hendrik Gubbels yang masih kecil dirajam sampai mati, kemudian kepalanya dihancurkan dengan batu besar. Sementara, Dora, saudari kandung Elly juga turut dibunuh oleh para penyerang yang pagi itu seperti kerasukan dan menikmati pesta darah.

Pembantaian dan pembunuhan berlangsung selama berjam-jam, hingga sore hari tibalah satu batalion lengkap pasukan infanteri Belanda serta satu skuadron pasukan kavaleri. Serdadu infanteri dipersenjatai dengan senjata baru yang menakutkan, baru tiba dari Holland. Senjata itu bisa menembak berkali-kali. Senjata inilah yang kemudian menyudahi pemberontakan ganas yang sangat singkat ini.

Militer Belanda benar-benar bersemangat untuk membunuh sore itu. Saat mereka membuka tembakan, peluru demi peluru mereka sepertinya tidak ingin menahan siapapun. Para pemberontak yang berjumlah sekitar 200 orang itu berantakan dengan 30 orang terbunuh, 13 orang terluka. Saat identitas mereka diiperiksa, hampir semua dari mereka yang ditemukan adalah haji.

Dalam laman www.wikipedia.org disebutkan, Geger Cilegon dikobarkan Ki Wasyid bersama para tokoh Banten. Peristiwa ini dilatarbelakangi kesewenang-wenangan Belanda yang saat itu merupakan peralihan terhadap kependudukan Belanda di Banten. Kebencian masyarakat makin memuncak saat masyarakat tertekan dengan dua musibah yakni dampak meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda (23 Agustus 1883) yang menimbulkan gelombang laut yang menghancurkan Anyer, Merak, Caringin, Sirih, Pasauran, Tajur, dan Carita. Selain itu musibah kelaparan, penyakit sampar (pes), penyakit binatang ternak (kuku kerbau) membuat penderitaan rakyat menjadi-jadi.

Di tengah kemelut ini, kebijakan pemerintah Belanda yang mengharuskan masyarakat membunuh kerbau karena takut tertular penyakit membuat warga makin terpukul. Belum lagi, penghinaan Belanda terhadap aktivitas keagamaan menambah rentetan alasan dilakukan perlawanan bersenjata. Di lain pihak, tekanan hidup yang makin terdesak membuat warga banyak lari ke klenik (tahayul).

Tersebutlah di desa Lebak Kelapa, terdapat pohon kepuh besar yang dianggap keramat, dapat memusnahkan bencana dan meluluskan yang diminta asal memberikan sesajen bagi jin, penunggu pohon. Berkali-kali Ki Wasyid mengingatkan penduduk bahwa meminta selain kepada Allah termasuk syirik. Namun fatwa Ki Wasyid tidak diindahkan. Melihat keadaan ini, Ki Wasyid dengan beberapa murid menebang pohon berhala pada malam hari. Inilah yang membawa Ki Wasyid ke depan pengadilan kolonial pada 18 November 1887. Ia dipersalahkan melanggar hak orang lain sehingga dikenakan denda 7,50 gulden.

Hukuman yang dijatuhkan kepada Ki Wasyid menyinggung rasa keagamaan dan rasa harga diri muridnya. Satu hal lagi yang ikut menyulut api perlawanan adalah dirobohkan menara musala di Jombang Tengah atas perintah Asisten Residen Goebels. Goebels menganggap menara yang dipakai untuk mengalunkan azan setiap waktu salat, mengganggu ketenangan ksrena suaranya yang keras apalagi waktu azan salat subuh.

Asisten Residen menginstruksikan kepada Patih agar dibuat surat edaran yang melarang salawat, tarhim dan azan dengan suara keras. Faktor-faktor ketidakpuasan terhadap sistem ekonomi, politik dan budaya yang dipaksakan pemerintah kolonial Belanda berbaur dengan penderitaan rakyat.

Perlawanan besar pun dilakukan. Perlawanan ini dipimpin oleh Ki Tubagus Ismail dan melibatkan sejumlah ulama dan jawara dalam Geger Cilegon membuat rakyat bangkit melawan Belanda. Insiden ini dilakukan untuk menyerang orang-orang Belanda yang tinggal di Cilegon. Sayangnya, insiden ini dapat dipadamkan Belanda karena serdadu Belanda yang dipimpin Letnan I Bartlemy sudah terlatih. Meski api perlawanan dapat dipadamkan, namun sebelumnya terjadi pertempuran hebat.

Ki Wasyid yang dianggap pemimpin pemberontakan dihukum gantung, sedangkan yang lain dihukum buang. Haji Abdurahman dan Haji Akib dibuang ke Banda, Haji Haris dibuang ke Bukittinggi, Haji Arsyad Thawil dibuang ke Manado/Minahasa, Haji Arsyad Qashir dibuang ke Buton, Haji Ismail dibuang ke Flores, dan banyak lagi yang dibuang ke Tondano, Ternate, Kupang, Manado, Ambon, dan Saparua. Semua pimpinan pemberontakan yang dibuang sebanyak 94 orang.

Meski pemeberontakan berhasil dipadamkan, Belanda secara perlahan kemudian melakukan reformasi. Pajak dikurangi dan batasan melakukan perjalanan dilonggarkan.

Lima tahun sebelum Revolusi Banten pecah, dua peristiwa penyerangan terhadap warga Belanda dilakukan pria berjubah putih. Peristiwa pertama terjadi pada Selasa, 2 Oktober 1883 di sebuah pasar di Serang. Saat itu persis lima minggu setelah letusan Gunung Krakatau.Korban penyerangan pertama adalah seorang serdadu Belanda yang tengah membeli tembakau.

Penyerangan kedua yang juga dilakukan oleh pria berjubah putih terjadi enam minggu kemudian. Entah bagaimana caranya, pria berjubah putih itu bisa masuk ke dalam markas garnisun dan mengamuk menggunakan golok. Seorang penjaga bernama Umar Djaman terluka dalam peristiwa tersebut.

Pelaku penyerangan berhasil ditangkap dan ditanyai oleh militer Belanda. Para penyidik militer dibuat pusing dengan jawaban dari penyerang. Akhirnya mereka membuat laporan bahwa motif penyerangan tersebut adalah kasus yang tak dapat dijelaskan berkenaan dengan “ketaatan religius yang ekstrem”.

Dalam bab mengenai peristiwa Geger Cilegon, Simon menuliskan kesimpulan, letusan Gunung Krakatau sungguh-sungguh membantu memicu gerakan politis dan religius yang membara dengan singkat dan ganas di Jawa. Simon juga menceritakan, bagaimana sikap semena-mena pemerintah Belanda yang eksploitatif lewat Kultuurstelsel atau tanam paksa bagi warga Indonesia, khususnya di Lebak, Banten. Praktik tanam paksa ini terungkap lewat publikasi sebuah buku berjudul Max Havelaar yang ditulis oleh pejabat kolonial muda bernama Eduard Douwes Dekker yang menggunakan nama samaran Multatuli…
 

   

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Trending