Connect with us

PERSONA

Abdul Hamid dan Sepenggal Kisah Relawan Banten dalam Peristiwa “Tsunami Aceh”

Published

on

Minggu, 26 Desember 2004 silam, gelombang tsunami membuat Aceh porak-poranda. Nyawa-nyawa tercerabut dari kehidupannya, hingga menyisakan trauma.

Abdul Hamid, seorang warga Banten memiliki kisah tersendiri dalam sebuah misi kemanusiaan “Tsunami Aceh” 10 tahun silam.

Abdul Hamid saat ini merupakan staf Palang Merah Indonesia Kota Serang. Kepada wartawan Banten Hits.com Dian Sucitra, dia menuturkan

pengalamannya selama 20 hari di pesisir barat Provinsi Aceh.

Calang adalah ibukota Kabupaten Aceh Jaya. Di tempat itulah Abdul Hamid diterjunkan bersama Tim PMI Pusat.

“Saya ingat berangkat dari Jakarta pada 10 Februari 2005,” kenangnya.

Ketika ditanya mengapa ia baru dikirim Februari, Abdul Hamid mengatakan, lokasi tersebut merupakan tempat terparah, sehingga korbanpun paling banyak. Tim Banten dikirim untuk melanjutkan tugas yang sudah dilakukan tim lain dari Jawa Barat, Maluku, dan Lampung.

Matanya menerawang pada saat dirinya mendarat dengan helikopter di kegelapan malam, sekira pukul 02.00 WIB. Calang tampak hitam. Mata Abdul Hamid tak bisa melihat apapun di bawah helikopter selain gelap. Hanya hidungnya yang paling banyak berfungsi menghirup bau yang aneh. Tidak pernah ia mencium bau semacam itu sebelumnya.

Ketika mendarat matanya mulai menyesuaikan pandangan secara terbatas, namun tak ada apapun yang bisa dipastikan sebagai asal bau tersebut. Waktu shubuh di tempat itu pukul 06.00 WIB. Setengah jam berikutnya mentari menghapus tabir gelap dan menunjukan pemandangan horor yang menjelaskan asal aroma aneh yang menyengat hidungnya

“Mungkin kami sengaja didaratkan malam hari agar tidak bisa melihat ratusan ribu mayat yang berserakan,” terang Abdul Hamid mengungkapkan keterkejutannya.

Namun, tim Relawan Banten yang datang untuk misi kemanusiaan tidak disambut oleh masyarakat setempat yang selamat, bahkan ketika berusaha berinteraksi Abdul Hamid mendapatkan caci maki dengan bahasa lokal yang tidak dimengertinya. Entah karena tim sebelumnya tidak bekerja di lokasi tersebut atau karena masyarakat Calang yang loyal terhadap GAM tidak menyukai kehadiran Tim PMI dari Banten.

“Saya sampai harus menggebrak meja untuk menyampaikan bahwa kami datang untuk menolong,” ujarnya.

Harga dirinya sebagai orang Banten kemudian muncul. Dia mengatakan, jika masyarakat Calang tidak bersedia ditolong maka dengan senang hati mereka akan pulang.

“Kami jauh-jauh datang dari Banten untuk menolong, karena bagi kami Banten dan Aceh adalah saudara, jika bapak-bapak dan ibu tidak suka dengan kedatangan kami, dengan senang hati kami akan pulang,” ungkapnya.

Kalimatnya yang diucapkan dengan nada tinggi disertai memukul meja membuahkan hasil. Salah seorang warga kemudian mempertemukan Abdul Hamid dengan Kecik, sebutan untuk kepala desa di daerah itu.

Usai bertemu Kecik, relawan langsung melakukan pekerjaan membersihkan mayat, mendirikan posko, dan seluruh aktivitas yang dibutuhkan untuk menangani pascabencana.

Beberapa hari setelahnya, ia mengetahui bahwa Sang Kecik adalah komandan GAM, keramahan warga sangat ia rasakan setelah sang Kecik meminta warga untuk bekerjasama.

“Waktu itu warga ada yang bilang bahwa Kecik adalah komandan GAM dan menjamin keselamatan kami, jika kami (PMI Banten) diganggu, maka Kecik sendiri yang akan membunuhnya,” ungkapnya.

Pekerjaan yang mereka lakukan selama 20 hari lamanya menumbuhkan rasa cinta dalam persaudaraan. Bahkan Abdul Hamid diminta untuk tetap tinggal dan menikahi seorang gadis desa di Calang.

“Saya bilang saja saya sudah beristeri,” kenangnya sambil tersenyum.(Rus)

Trending