Connect with us

OPINI

Balada Orang Lebak (Max Havelaar Kini)

Published

on

Ilustrasi. (Foto: semenmerahputih.com)“Mengapa mereka mencari pekerjaan jauh dari tempat dimana mereka mengubur orang tua mereka?. Mengapa mereka melarikan diri dari Desa tempat mereka disunat? Mengapa mereka memilih kesejukan di bawah pohon yang tumbuh di sana, daripada bayang-bayang hutan kita” Potongan pidato dari Max Havelaar, Novel karya Multatuli alias Eduard Douwes Dekker (1820-1887), Mantan Asisten Residen Lebak.

Saya dilahirkan di Kabupaten Lebak Provinsi Banten, tempat dimana Eduard Douwes Dekker menulis novel yang fenomenal tentang kekejaman penjajahan Belanda terhadap kaum pribumi Kabupaten Lebak dulu dan apa yang terjadi pasca penjajahan tersebut bagaimana Lebak hari ini?

Ilustrasi. (Foto: semenmerahputih.com)“Mengapa mereka mencari pekerjaan jauh dari tempat dimana mereka mengubur orang tua mereka?. Mengapa mereka melarikan diri dari Desa tempat mereka disunat? Mengapa mereka memilih kesejukan di bawah pohon yang tumbuh di sana, daripada bayang-bayang hutan kita” Potongan pidato dari Max Havelaar, Novel karya Multatuli alias Eduard Douwes Dekker (1820-1887), Mantan Asisten Residen Lebak.

Saya dilahirkan di Kabupaten Lebak Provinsi Banten, tempat dimana Eduard Douwes Dekker menulis novel yang fenomenal tentang kekejaman penjajahan Belanda terhadap kaum pribumi Kabupaten Lebak dulu dan apa yang terjadi pasca penjajahan tersebut bagaimana Lebak hari ini?

Kabupaten Lebak kini menjadi tempat dimana bermacam-macam  perusahaan tambang dengan membumikan alat beratnya untuk mendatarkan gunung, mencukur hutan, membuat danau buatan,  menimbun lautan dll. Saya tak bisa menutup mata, telinga melihat terjadinya krisis-sosial Ekologi di tanah tempat saya dilahirkan ini, singkatnya saya tidak memposisikan diri sebagai pengamat, peneliti atau apapun itu. Inilah tulisan yang saya lihat dengar dan saya rasakan.

BACA :  Gunung Luhur (lagi)

Saya tidak berurusan dengan objektivitas dan netralitas, sebagaimana yang dituntut oleh dunia akademisi walaupun saya seorang mahasiswa. Seiring dengan berjalannya waktu semua persoalan yang tak habis-habisnya melilit kebebasan kami. Saya mulai sangsi dengan kata pembangunan apalagi yang dikampanyekan oleh sang ibu (Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya) tentang melanjutkan percepatan pembangunan. Kemerdekaan yang melilit kami ini hampir tak ada jeda untuk menarik nafas sebagai tanda lega.

Keadaan ini mirip dengan keadaan saat terjadinya penjajahan Belanda yang dituliskan dalam novel Max Havelaar, keadaan saat terjadinya kekejaman Romusha kini ruang hidup kami direnggut, tanah kami direbut, air tercemar udara tercemar, dan juga sejarah dan budaya perlahan-lahan dikubur dengan petanda-petanda yang tak kami kenal sebelumnya apa yang terjadi kian kompleks dibiarkan semakin hancur.

Hilangnya Ruang Hidup dan Budaya

Kampanye pembebasan lahan dan iming-iming ganti rugi lahan memiliki daya tarik yang menggiurkan, petani di Desa Mekarsari dan Citeras pun rela menjual tanahnya yang berupa sawah untuk dijadikan tambang dan akhirnya meninggalkan mata pencahariannya dan menjadikan generasi penerusnya sebagai buruh di perusahaan tambang tersebut.

Masuknya perusahaan-perusahaan tambang ini dengan membawa iming-iming lapangan pekerjaan.
Hampir sebagian besar masyarakat menjadi buruh di sebuah perusahaan dengan dijanjikan kesejahteraan dan janji-janji manis dari pengusaha kepada masyarakat itu tidak terbukti barulah masyarakat menyadari dan ada yang berkata “ketika sebelum terjadinya aktivitas tambang ada seorang warga yang mengajak untuk menolak tambang tetapi kami tak menghiraukan karena kami terhipnotis oleh janji manis pengusaha tersebut akhirnya ya kami jual saja tanah kami”

BACA :  Pilgub Banten: Membaca Jalan ke MK

Kondisi ini juga terjadi di Kecamatan Panggarangan dan Bayah, pembebasan tanah yang sangat masif dengan pola yang sama dilakukan oleh perusahaan yaitu berupa janji manis kepada masyarakat petani dan nelayan telah menjual tanahnya kepada  PT.GAMMA , PT. HOLCIM, SEMEN LEBAK dan Perusahaan semen lainnya dan  hampir sebagian besar masyarakat di sana menjadi buruh di perusahaan tersebut. Mereka (pengusaha)  melakukan pendekatan emosional kepada masyarakat layaknya kepada  keluarga sendiri, kedekatan emosional tersebut dibangun oleh tokoh-tokoh masyarakat di kampung. Pemuda-pemuda kampung yang polos dan tak tahu apa-apa diiming-imingi pekerjaan. Para pimpinan mereka menjalin asmara dengan gadis-gadis kampung, mensponsori pesta muda-mudi, menjadi donatur ragam acara seremonial.

Krisis Sosial Ekologi dan Budaya

Barulah sekarang saya menyadari janji-janji itu adalah ilusi. Akhir cerita, kami justru terpisah dari ruang-ruang kehidupan semula: ada jarak antara kami dengan tanah dan air. Hutan dan kebun jadi area tambang dan perusahaan semen, sedangkan perairan biru berganti warna menjadi kuning kecoklat-coklatan akibat aktivitas pertambangan yang jauh dari asas keselamatan manusia dan alam laut yang menjadi daratan akhirnya ada perubahan gerakan ombak dan lain-lain.

BACA :  Peran Bung Karno dalam Berstrategi di Olahraga: Kilas Balik Haornas 2019

Kerusakan lingkungan yang nyata tak juga menyentil masyarakat sebagai penghuni tanah dan air Lebak. Khususnya di Kecamatan Rangkasbitung, Panggarangan dan Bayah (pusat percepatan krisis di Lebak). Warga telah dihipnotis melalui kata ‘Percepatan Pembangunan’. Statusnya berubah dari warga negara pemilik sah tanah dan air, menjadi pengikut Gamma, pemuja modal.

Sekali lagi, ruang hidup dan sejarah tercerabut dari tangannya sendiri. Warga harus bertahan hidup di tengah komitmen Pemerintah yang sangat minim atas pemberdayaan sektor riil. Sementara itu, logika pertumbuhan ekonomi yang dikejar Pemerintah Pusat membuat PT. GAMMA dan perusahaan tambang habis-habisan  memeras tenaga, keahlian, dan waktu para pekerja tambang.

Perusahaan- perusahaan tersebut menjalankan logika birokrasi ketat mirip kerja Rodi di jaman Romusha dulu. Tak jarang, buruh ini bertukar kunci di atas mobil, waktu makan hanya belasan menit, hari Minggu diubah jadi lembur-full, dan karyawan akhirnya memilih kerja daripada ibadah. Itulah tuturan buruh di sini, di Lebak tanah yang ku Cinta. Hutan adat, lautnya, sawahnya, gua nya, kebunnya dan pulaunya di sana ada cerita leluhur kami, ada sejarah di sana?

Penulis : Egi Hendrawan, Mahasiswa Universitas Pakuan-Bogor yang juga anggota Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala) Perwakilan Siliwangi Bogor.



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler