Connect with us

METROPOLITAN

Sholeh Hidayat Unggul Pencalonan Rektor, Plagiasi di Untirta Dianggap Sepele

Published

on

Banten Hits – Prof Dr Sholeh Hidayat unggul sementara dalam ajang pemilihan rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang Periode 2015-2019.

Pria yang merupakan calon incumben tersebut pernah tersandung kasus plagiasi pada tahun 2010.

Sholeh Hidayat mendapat raihan suara tertinggi, yakni sebanyak 24 suara. Posisi kedua diraih Syadeli Hanafi sebanyak 12 suara, sedang dua bakal calon lainnya yaitu Mas Iman Kusnandar dan Sudadio tidak memperoleh suara.

Senat kemudian menetapkan tiga nama calon rektor yang berhak mengikuti pemilihan Rektor Untirta, yaitu Sholeh Hidayat, Syadeli Hanafi, dan Mas Iman Kusnandar.

Menanggapi perolehan sementara suara senat tersebut, akademisi Untirta Gandung Ismanto menilai, perubahan pengelolaan kampus Untirta dari perguruan tinggi swasta ke perguruan tinggi negeri tidak berjalan maksimal. Selain itu, soal plagiasi di Untirta dianggap persoalan biasa.

BACA :  Aktivis Antikorupsi Sebut Keterlibatan Airin Besar dalam TPPU Wawan

“Penegakan etika dan implementasi undang-undang ditambah pemahaman lama masih kuat di tingkat rektorat Untirta, Makanya masalah plagiasi masih dianggap sepele di Untirta,” terangya kepada wartawan, Senin (25/05/2015) saat dihubungi melalui telepon genggam.

Gandung menilai, semangat para pendukung rektor incumben Sholeh Hidayat dorongannya adalah semangat kekeluargaan, bukan semangat menegakkan etika akademik.

“Kalau semangatnya mendorong etika akademik, tidak mungkin dukungan untuk rektor yang pernah tersandung kasus plagiasi diberikan. Ini kan bertentangan dengan undang-undang,” jelasnya.
Ia juga mengatakan, masalah plagiasi di Untirta tidak dianggap sebagai masalah utama.

“Anggapan banyak orang bahwa kasus plagiasi akan selesai selama pemilik tulisan tidak menuntut kepada pelaku plagiasi saya katakan iklim dan kesadaran etik di Untirta lemah,” ujarnya.

BACA :  Setahun, 928 Warga Diamankan Polda Banten Gara-gara Narkoba

Masih menurut Gandung, imbasnya adalah problem kepemimpinan.

“Jangan heran jika mahasiswanya melakukan hal serupa (Plagiasi karya ilmiah-red). Karena rektor tidak akan menindak tegas, karena dirinya sebagai pucuk pimpinan juga melakukan hal serupa,” pungkasnya.

Pada kesempatan sebelumnya yang dilansir sejumlah media, Sekjen Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti Ainun Naim mengatakan, kasus plagiasi alias menjiplak karya ilmiah merupakan pelanggaran berat yang harus mendapatkan sanksi moril. Tidak hanya terkait masalah hukum, tetapi juga terkait masalah etika dalam dunia pendidikan.

Untuk diketahui, Prof Dr Soleh Hidayat tersandung kasus karya ilmiahnya yang berjudul Bermimpi Untirta Menjadi World Class University yang terbit di media massa lokal Banten yang diduga merupakan hasil plagiasi karya ilmiah Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluleo (Unhalu) La Ode M Aslan.

BACA :  Hati-Hati, Parkir Bandara Soetta Marak Pencuri Ban Mobil

Sholeh Hidayat terpilih menjadi rektor Untirta periode 2011-2015 pada 21 Juli berkat sumbangan suara Mendiknas, yang bernilai 35 persen dari total suara pada pemilihan tahap akhir. Padahal, dalam dua tahap awal pemilihan, Soleh selalu berada di urutan kedua dibawah mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra.

Sekretaris Panitia Pemilihan Rektor Fatah Sulaeman mengatakan, setelah penetapan nama tiga calon rektor terpilih, sesuai aturan, dalam jangka waktu tiga hari nama-nama tersebut akan diserahkan kepada Kemendikti.

“Yang diserahkan, seluruh berkas calon hasil tahapan-tahapan yang dilakukan panitia kepada calon,” jelasnya.

Dari pantauan Banten Hits, lolosnya Soleh Hidayat dipilih 24 anggota senat menjadi obrolan hangat mahasiswa di sudut-sudut kampus tersebut. (Uud)



Terpopuler