Connect with us

GAYA HIDUP

Dokumenter; Alat Syi’ar Si Agen Perubahan

Published

on

Langit mulai gelap saat sekumpulan mahasiswa Fakultas Komunikasi Jurusan Broadcasting Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) tengah mempersiapkan pemutaran empat film dokumenter hasil karya mereka di Kampus UMT Lapangan Ahmad Yani, Kota Tangerang. Sabtu (13/6/2013) malam itu adalah hari terakhir mereka mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS).

Karenanya, tak salah juga jika pemutaran film ini jadi semacam momen untuk merelaksasi otak setelah hampir sepekan dipacu.

Ada empat film karya mahasiswa yang diputar malam itu, yakni Pecandu, Tobat, Cinta Segitiga, dan Gak Enak. Seluruh film mencoba merekam realitas keseharian yang kerap dijumpai para mahasiswa. Ada kebohongan, kemunafikan, pengkhianatan, bahkan deraan pengaruh narkoba yang menyebar masif.

BACA :  Melawan Corona di Bulan Suci Ramadhan Ala Cucu Tokoh Ternama Banten

Ketika “Pecandu” diputar misalnya, tema yang diusung, maupun alur cerita yang ditontonkan segera akan membawa penonton pada kenyataan: hari ini masa depan para penerus bangsa tengah dirongrong oleh masifnya pengaruh narkoba.

Pecandu diproduseri oleh Septian, mahasiswa semester 6 Jurusan Broadcasting Fakultas Komunikasi UMT. Film ini menceritakan tentang seorang anak muda yang semestinya mengisi hidup dengan karya, harus menyerah kalah kepada narkoba. Narkoba telah membuat penerus bangsa itu meregang nyawa sia-sia. Di sinilah pesan film itu muncul. Pengalaman si pecandu yang tewas ternyata menyadarkan anak muda lainnya untuk kembali bangkit dan mengisi hidup dengan hal yang positif.

“Memilih narkoba berarti memilih kematian. Jauhi narkoba! Kalau tidak, kematian akan merenggut nyawa kita seperti dalam film ini,” kata Septian.

BACA :  Tangsel Creative Foundation Gelar Tangsel Creative Awards

Melalui film dokumenter, Septian dan mahasiswa lainnya mencoba melakukan syi’ar. Melalui film, mereka mengirim pesan-pesan positif, juga mencoba mengasah kreativitas.

Fajar yang akrab dipanggil Dado, salah seorang mahasiswa berharap, pemutaran film dokumenter hasil karya mahasiswa UMT bisa membuat semua mahasiswa Jurusan Broacast Fakultas komunikasi UMT berkembang dan bisa terus berkarya dalam memproduksi karya film.

“Kita berharap temen-temen (mahasiswa) broadcast bisa lebih bagus lagi dalam pembuatan film, supaya hasil karya temen-temen disukai oleh masyarakat yang menonton, ucapnya.

Sementara, Megi Prima Gara, salah seorang dosen Broadcasting UMT berharap para mahasiswanya mampu mengembangkan kemampuannya ketika lulus dari UMT.

“Mudah-mudahan para mahasiswa, khususnya (jurusan) broadcasting, bisa menjadi kebanggaan universitas. Saya harap mereka tidak putus sampai di sini dalam memproduksi karya,” ungkapnya.(Rus)

BACA :  Warga Cilegon 'Sulap' Eceng Gondok Jadi Pupuk Organik



Terpopuler