Connect with us

METROPOLITAN

Cegah Legalisasi Pernikahan Sejenis, GP Ansor: Perkuat Peran Tokoh Agama!

Published

on

Banten Hits – Pemerintah Republik Indonesia didesak menutup rapat dengan tidak memberikan celah terhadap keinginan akan legalisasi pernikahan sejenis yang menjadi keinginan komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) seperti yang baru-baru ini terjadi di Amerika Serikat.

“Insya Allah kita tidak khawatir asal Pemerintah mau menutup rapat dengan cara membuat regulasi yang ketat,” ujar Ketua GP Ansor Banten Ahmad Imron, saat dihubungi Banten Hits, Sabtu (4/7/2015).

Selain itu, Imron juga meminta Pemerintah bisa lebih optimal dalam memperkuat peran dari para tokoh agama dan masyarakat. Pasalnya, peran dari keduanya sangat penting dalam memberikan pemahaman dan kesadaran kepada masyarakat, terutama kepada generasi muda tentang dampak buruk dari hubungan sesama jenis, terlebih kepada orang yang sudah menjalin hubungan sesama jenis tersebut.

“Kita sangat berharap peran agama melalui tokohnya bisa memberikan kesadaran penuh kepada mereka, maka di sinilah peran negara harus hadir membantu untuk memperkuat peran dari para tokoh agama dan masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut Imron juga menghimbau kepada para pemuda/i untuk menjauhi gaya hidup Hedonisme yang menurutnya menjadi pangkal utama dari lahirnya gaya hidup yang menyimpang.

“Kami berharap khususnya kepada para pemuda bisa benar-benar kembali kepada norma agama dan berpikir ulang akan dampak dari perilaku LGBT. Peran media dalam memberikan informasi yang mendidikan juga kami harapkan agar generasi muda tidak terjebak dalam gaya hidup yang menyimpang seperti itu,” paparnya.

Untuk diketahui, Mahkamah Agung Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis di seluruh negara bagian pada Sabtu 27 Juni 2015.

Mahkamah Agung Amerika memenangkan gugatan dari Jim Obergefell, pemimpin kaum LGBT Amerika yang menyampaikan gugatan agar pernikahan sejenis bisa disahkan. Amerika juga bukan negara pertama yang mengesahkan penikahan sejenis.

Tercatat ada ada lebih dari 20 negara yang melegalkan hal itu. Diawali dari Belanda yang melegalkannya pada 2001, disusul Belgia pada 2003, Spanyol pada 2005, Kanada pada 2005, Afrika Selatan pada 2006, dan beberapa negara lain, termasuk yang terbaru adalah Amerika Serikat.(Rus)

Trending