Connect with us

METROPOLITAN

Kurdi Matin: Saya Tak Kompeten Tentukan Jurnalis Profesional atau Tidak

Published

on

Banten Hits – Isu profesionalisme jurnalis di Banten menjadi perbincangan utama dalam diskusi yang digelar Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Banten, Kamis (9/7/2015).

Hadir dalam diskusi tersebut Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Banten, H. Kurdi Matin, Pemimpin Redaksi Radar Banten, Masudi dan praktisi hukum, Agus Setiawan.

Menurut Masudi, soal profesionalisme jurnalis tidak hanya harus memenuhi kaidah dan etika jurnalistik, namun niat seorang jurnalis dalam membuat berita. Tidak jarang, jurnalis memiliki niat yang kurang baik dalam membuat beritanya. Niat tidak baik itu kemudian memengaruhi isi berita yang dibuatnya.

“Masalah dalam dunia jurnalis saat ini adalah niat dalam menulis berita. Masih ada jurnalis dalam membuat berita memiliki niat yang tidak baik,” ujarnya.

BACA :  Kejari Siapkan 8 JPU Tangani Kasus Perbudakan Kuali

Menurutnya, niat tidak baik itu tidak hanya merugikan narasumber, tapi merugikan jurnalis itu sendiri. 

“Kualitas berita yang dibuat berpengaruh terhadap kualitas jurnalis itu sendiri,”terangnya.

Sementara itu, Agus Setiawan mengatakan, produk hukum saat ini tidak mengimbangi sengketa-sengketa pers yang terus berkembang. Sehingga tidak jarang, media sosial dijadikan alat bukti dalam kasus-kasus hukum.

“Ini satu kelemahan kita, bahwa aturan hukum yang ada masih produk lama, sementara sengketa pers terus berkembang,” ujar Agus.

Sementara, Kurdi Matin yang beberapa waktu lalu menjadi pihak yang paling dirugikan terkait beredarnya video “Sekda Ajak Rampok APBD Banten” mengatakan, dirinya tidak pernah membatasi jurnalis profesional dan jurnalis tidak profesional. Semua jurnalis dipandangnya sama.

BACA :  Kebakaran di Kaduheulang, Empat KK Kehilangan Tempat Tinggal

“Saya orang yang tidak kompeten untuk menentukan jurnalis profesional atau tidak. Semua jurnalis tetap saya layani tanpa membeda-bedakannya,” ungkapnya.

Saat ini, kata Kurdi Matin, ada jurnalis yang mewawancari orang yang tidak tepat. Misalnya jurnalis bertanya soal kebijakan, tapi bertanyanya kepada eselon empat.

“Jurnalis juga harus bisa membedakan narasumber yang ditanya berkompeten atau tidak mengenai apa yang ia tanyakan,” ujarnya.(Rus)



Terpopuler