Connect with us

METROPOLITAN

Berbeda dengan JAAN, Akademisi di Lebak Tak Melihat Ada Pembodohan kepada Anak di Sirkus Lumba-lumba

Published

on

Banten Hits – Akademisi dari Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Pendidikan (STKIP) Setia Budhi Rangkasbitung, tidak sependapat jika ada unsur edukasi pembodohan pada sirkus lumba-lumba yang digelar di Kawasan Mandala, Kabupaten Lebak, 10 Juli – 23 Agustus 2015. (BACA JUGA: JAAN Desak Sirkus Lumba-lumba di Lebak Banten Dihentikan).

“Saya tidak melihat adanya pembodohan terhadap anak-anak dalam pentas lumba-lumba tersebut,” kata Samsul Bahri saat diminta tanggapannya oleh Banten Hits, Senin (13/7/2015).

Menurutnya, pendidikan tidak bisa jika hanya dilihat dari satu sisi saja, melainkan harus juga dilihat dari berbagai aspek.

“Kita tidak menilai begitu saja pada sirkus lumba-lumba ada unsur edukasi pembodohan pada masyarakat khususnya anak-anak, sebab pendidikan sebuah usaha, upaya secara sadar, dan melalui pengalaman lah pendidikan itu bisa di dapat,” jelasnya. (BACA JUGA: Tetap Ijinkan Pentas Lumba-lumba, Pemkab Lebak Disebut Dukung Pembodohan Terhadap Anak).

BACA :  Densus 88 Amankan Seorang Pria di Cilegon Diduga Terlibat Penembakan Polisi di NTB

Untuk itu kata dia, Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak tidak bisa dinilai mendukung pembodohan terhadap anak hanya karena mengijinkan sirkus lumba-lumba tersebut. Menurutnya, Pemda pasti punya alasan kuat dan tidak mungkin gegabah memberikan ijin terhadap penyelenggara sirkus jika memang hal itu bertentangan dengan aturan.

“Pemda punya hak progratif memberi atau menolak ijin apapun yang diajukan oleh pihak manapun. Saya sangat tidak sepakat jika Pemda disebut turut mendukung pembodohan karena memberikan sirkus itu berlangsung. Kita kembalikan saja kepada masyarakat, apakah membawa kesan positif atau negatif setelah menyaksikan sirkus itu,” jelasnya.

Untuk diketahui, Jakarta Animal Aid Network (JAAN) sebelumnya pernah meminta Pemkab Lebak untuk membatalkan rencana sirkus lumba-lumba tersebut. Permintaan pelarangan dari JAAN bukanlah tanpa alasan. (BACA JUGA: Parah, Hanya Indonesia yang Masih Bolehkan Sirkus Lumba-lumba Keliling Beroperasi).
 
Pasalnya, dengan berbagai atraksi yang ditampilkan lumba-lumba dalam pentas tersebut, JAAN menilai anak-anak secara instan akan disuguhkan dengan hal-hal yang tidak mendidik. Pemkab Lebak pun dianggap mendukung pembodohan kepada anak-anak jika sirkus tersebut tetap berlangsung.

BACA :  Pelaku Perampasan Modus Tuduh Korban di Citra Raya Berhasil Diringkus

“Itu pembodohan. Artinya, kalau Pemkab Lebak tetap membiarkan pentas ini dilakukan maka Pemda sama saja mendukung pembodohan terhadap anak-anak melalui sirkus lumba-lumba tersebut,” kata Benvica, aktivis dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN), saat berbincang dengan Banten Hits.

Kata dia, pengelola sirkus selalu beralasan bahwa mereka mengedukasi konservasi terhadap anak-anak. Padahal, menurut lembaga yang intens menyoroti persoalan tersebut, tidak ada lumba-lumba di alam liar yang lompat api, bermain bola, atau sampai ke darat.

“Jadi sirkus lumba-lumba itu nol edukasi. Coba anda bayangkan, saat anak-anak foto bersama dengan lumba-lumba, lumba-lumba itu harus ke darat, saat itu mereka (lumba-lumba.red) harus menahan berat badan dua sampai tiga kali lipat dari berat badannya, dan itu sangat menyiksa. Hal ini yang tidak dilihat oleh Pemerintah, bahwa sirkus itu sudah termasuk dalam pembodohan terhadap generasi kita,” paparnya. (Nda)

BACA :  Pemkot Serang Borong Beras Petani Kasemen, Syafrudin: Keseluruhan Rp2 Miliar



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler