Connect with us

METROPOLITAN

Dikecam, Sirkus Lumba-lumba di Lebak Jadi Alternatif Hiburan Warga di Libur Lebaran

Published

on

Banten Hits – Kendati dikecam sejumlah pihak salah satunya oleh Jakarta Animal Aid Network (JAAN), namun sirkus lumba-lumba yang digelar sejak 10 Juli hingga 23 Agustus 2015 mendatang di kawasan Mandala, Kabupaten Lebak, justru menjadi salah satu alternatif hiburan warga untuk mengisi waktu libur Lebaran.

 

Selain disukai anak-anak, jarak yang terbilang dekat dengan pusat Kota Rangkasbitung, menjadi magnet tersendiri bagi warga untuk menyaksikan atraksi dari lumba-lumba dan satwa lainnya di sirkus tersebut.

“Anak saya emang pengen banget nonton lumba-lumba, dia udah minta dari kemarin-kemarin,” kata Hani Hasanah salah seorang warga Kecamatan Cibadak.

Menurut nya, ketimbang mengajak sang buah hati liburan ke luar kota yang sudah pasti menyita waktu dan tenaga, ia memang lebih memilih mengajak anaknya ke sirkus tersebut.

BACA :  Kurir Narkoba di Serang Ditangkap, 0,7 Gram Sabu Diamankan

“Daripada ke luar kota, udah pasti macet banget, biaya juga lebih besar meningan kan ajak anak ke sini, udah gitu anak nya emang suka juga,” tuturnya.

Lantaran tak kebagian tiket VIP yang dipatok pengelola seharga Rp50 ribu, Hani yang menemani anaknya bersama sang suami terpaksa membeli tiket umum dengan harga Rp35 ribu.

“Rame banget, tadinya mau beli yang VIP tapi kehabisan, kayanya emang cuma sedikit bangkunya,” ucapnya.

Hal senada juga dikatakan Kurniawan, Selasa (21/7/2015), salah seorang warga Kecamatan Cimarga yang mengaku tak ingin ketinggalan untuk mengajak anak nya menonton sirkus lumba-lumba.

“Biasanya kalau hari libur ngajak anak main di wahana bermain yang ada di alun-alun. Kebetulan ini ada sirkus lumba-lumba ya udah saya ajak anak, lagian kan jarang-jarang banget ada sirkus gini di Rangkas sekalian ngisi waktu libur sama anak,” katanya.

BACA :  Kunjungi Pandeglang, Menpan Yuddy Sebut Absen Manual Rugikan Negara

Diketahui sebelumnya, JAAN pernah mengecam dan meminta Pemkab Lebak untuk membatalkan sirkus lumba-lumba tersebut. Pasalnya, dengan berbagai atraksi yang ditampilkan lumba-lumba dalam pentas tersebut, JAAN menilai anak-anak secara instan akan disuguhkan dengan hal-hal yang tidak mendidik.

Menurut JAAN, pengelola sirkus selalu beralasan bahwa mereka mengedukasi konservasi terhadap anak-anak. Padahal, menurut lembaga yang intens menyoroti persoalan tersebut, tidak ada lumba-lumba di alam liar yang lompat api, bermain bola, atau sampai ke darat.

“Jadi sirkus lumba-lumba itu nol edukasi. Coba anda bayangkan, saat anak-anak foto bersama dengan lumba-lumba, lumba-lumba itu harus ke darat, saat itu mereka (lumba-lumba.red) harus menahan berat badan dua sampai tiga kali lipat dari berat badannya, dan itu sangat menyiksa. Hal ini yang tidak dilihat oleh Pemerintah, bahwa sirkus itu sudah termasuk dalam pembodohan terhadap generasi kita,” papar Ketua JAAN, Benvica. (Nda)

BACA :  Arief Apresiasi Kepedulian Warga Sumur Pacing Khitan Gratis Puluhan Anak Kurang Mampu



Terpopuler