Connect with us

METROPOLITAN

P2TP2A Lebak: Pemkab Harus Sediakan Ruang Khusus Hiburan Berbasis Edukasi Anak

Published

on

Banten Hits – Keberadaan sirkus lumba-lumba keliling yang digelar sejak 10 Juli hingga 23 Agustus 2015 di Lapangan Mandala, Kabupaten Lebak memang tidak bisa dipungkiri menjadi magnet bagi warga untuk mengajak putera-puterinya yang ingin menyaksikan berbagai atraksi yang diperagakan oleh satwa lucu nan pintar tersebut.

Harga tiket yang terjangkau juga menjadi faktor bagi banyak orang tua yang tidak mau repot-repot mengajak buah hatinya ke sejumlah wahana hiburan anak di luar kota.

Namun, selain dikecam oleh sejumlah pihak lantaran dianggap menyiksa satwa yang dilindungi Undang-undang tersebut, tingginya animo masyarakat menyaksikan sirkus lumba-lumba keliling disebabkan karena belum adanya tempat hiburan yang menjadi alternatif bagi para orang tua untuk bisa mengajak anak-anaknya bermain dengan basis edukarif dan kreatif.

“Kedepan, ini tentu bisa jadi dorongan Pemkab Lebak untuk menyediakan space khusus bagi anak-anak dengan membuat sarana hiburan yang berbasis nilai edukasi dan pengembangan kreatifitas,” kata Ketua P2TP2A Lebak, M. Hapidz, saat berbincang dengan Banten Hits, Selasa (28/7/2015).

Menurutnya, dengan keberadaan tempat khusus hiburan yang berbasis edukasi, anak-anak nantinya bisa dengan bebas mencurahkan kreativitasnya dan bersosialisasi.

“Kalau Pemkab Lebak belum mampu menyediakan itu, jangan harap Lebak layak untuk menjadi kota Layak Anak,” jelasnya.

Hapidz mencontohkan, space khusus bagi anak-anak bermain yang mampu mengembangkan minat dan kreatifitas sudah diterapkan di wilayah Jawa.

“Ada suatu daerah di Jawa, di mana di setiap Desa ada ruang khusus untuk anak-anak bisa melakukan berbagai permainan tapi bukan permainan modern. Ini hiburan bagi anak-anak tapi didalamnya mereka benar-benar memainkan permainan yang mampu membangkitkan kreatifitas dan mengajarkan sosialiasi,” paparnya.

Saat ditanya pendapatnya tentang pentas lumba-lumba, Hapidz menegaskan jika pentas tersebut hanya mengandung hiburan semata yang tidak memiliki nilai edukasi terhadap anak.

“Enggak ada, enggak ada sama sekali nilai edukasinya, itu mutlak hanya hiburan. Dari mana sisi edukasinya? Belajar renang tidak mungkin kan atau mengenalkan satwa? Saya rasa banyak cara untuk mengenalkan satwa bisa melalui televisi atau media lain yang memang menampilkan satwa tersebut berada di habitat aslinya, bukan di sirkus seperti itu,” jelasnya.

Bahkan, hiburan seperti itu justru cendreung mengeksploitasi anak dan lebih mengajarkan anak kepada pola hidup konsumtif. Belum lagi lanjut dia, tidak menutup kemungkinan dalam sirkus tersebut ada berbagai adegan yang mungkin saja belum pantas disaksikan anak-anak.

“Pemerintah harus menjawab tantangan ini dengan menyediakan spacew bagi anak-anak untuk bisa bermain tanpa harus diekspoitasi artinya jangan sampai mereka harus membayar cenderung kepada pemborosan,” tambahnya.

Ia berharap, peran orang tua sangat penting dalam memilih dan memilih hiburan memang benar-benar tepat bagi tumbuh kembang anak-anaknya.

“Orang tua punya peran penting memilih hiburan seperti apa bagi anak-anaknya, pilih hiburan yang memang pantas dan ada nilai edukasi bagi anak,” tutupnya.(Rus)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + sixteen =

Trending