Connect with us

METROPOLITAN

Miris, Dua Siswi Kembar Tak Mampu di SMA 1 Cimarga Tidak Miliki Kartu Lebak Pintar

Published

on

Banten Hits – Sulastri (17) dan Sumiyati (17) siswi yang baru naik ke kelas 2 di Sekolah Menangah Atas (SMA) Negeri 1 Cimarga, Kabupaten Lebak yang nyaris tak mendapat ruang kelas lantaran belum mampu membayar biaya registrasi sebesar Rp273 ribu per orang ini ternyata tidak memiliki Kartu Lebak Pintar yang merupakan salah satu program unggulan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya dalam membantu siswa tidak mampu.

(BACA JUGA : Tak Mampu Bayar Biaya Registrasi Ulang, Dua Siswi Kembar di Lebak Ini Nyaris Tak Dapat Ruang Kelas)

Saat Banten Hits menyambangi rumah keduanya di Kampung Jahe Bojong, Desa Marga Jaya, Kabupaten Lebak belum lama ini. Tenyata, saudari kembar yang saat lahir hanya berbeda dua jam tersebut juga mempunyai empat saudara kandung lainnya. Saat ditemui, kedunya harus rela belajar bersama adiknya di lantai di ruangan tengah lantaran tak mempunyai kursi dan meja dengan kondisi pencahayaan yang terbilang jauh dari kondisi terang.

BACA :  Begini Pujian Menpan Yuddy Soal Warna Cat Mapolda Banten

Sehari-harinnya, Sulastri dan Sumiyati beserta keempat adiknya tersebut tinggal bersama ibundanya Tita (35) yang hanya sebagai ibu rumah tangga biasa di sebuah rumah kontrakan. Sedangkan, ayahnya, Encep Tatang (40) harus bekerja keras sebagai penjual siomay di wilayah Bandung, Jawa Barat dengan penghasilan yang tidak seberapa.

Ironisnya, selain tak mengantongi Kartu Lebak Pintar, kedua siswi ini tak pernah mendapat bantuan yang diperuntukan bagi siswa miskin dari Pemerintah. Tak hanya itu, keluarga Encep pun tak pernah mendapat bantuan apapaun baik berupa bantuan langsung maupun dari berbagai program seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Jamsosratu dan sebagainya dari Pemerintah Daerah.

“Belum pernah dapat yang kaya gitu-gitu. Ada Jamkesmas tapi enggak semuanya itu juga udah enggak tau kemana,” kata Tita.

Penghasilan suaminya yang hanya seadanya membuatnya bingung untuk membiayai anak-anaknya bersekolah, sedangkan semangat dan keinginan untuk menempuh pendidikan sampai setinggi-tingginya dimiliki oleh para buah hatinya.

BACA :  Jembatan Cipajajar Rampung Dibangun, Akses Rangkasbitung-Malingping Via Cileles Kembali Normal

“Kalau semangat sekolahnya mah tinggi pak. Kadang yang penting uang jajannya hanya pas untuk ongkos ke sekolah aja,” ucap Tita.

Kata dia, dirinya pernah berniat memindahkan kedua puterinya tersebut ke sekolah MTs lantaran biayanya yang terbilang murah, namun karena tidak diperbolehkan oleh pihak sekolah lanyaran masih mempunyai tunggakan uang pembangunan, hal tersebut urung dilakukan.

“Tadinya emang mau dipindahin ke MTs karena dihitung-hitung lebih murah biayanya. Boleh pindah asal kata sekolah dilunasi dulu tunggakan uang bangunannya yang masih Rp650 per siswa. Saya bilang, ya boro-boro buat ngelunasin itu, saya mau pindahin juga buat ngeringani biaya, ini aja kontrakan rumah udah 3 bulan belum kebayar belum lagi biaya sehari-hari dan biaya sekolah adik-adik mereka yang lain,” tutur Tita.

Sementara itu, Sulastri, mengaku bahwa keduanya pernah akan diusulkan untuk mendapat beasiswa untuk siswa tidak mampu oleh pihak sekolah, namun hal itu gagal karena pihak sekolah meminta data apakah keluarganya mendapatkan bantuan langsung tunai dari pemerintah.

BACA :  PT Krakatau Steel Bangun Proyek Hot Strip Mill Tahap Dua

“Keluarga saya enggak pernah dapat bantuan apa-apa, akhirnya bantuan beasiswa itu enggak jadi karena katanya enggak bisa kalau bukan penerima BLT,” sambungnya.

Ia mengaku juga ada salah seorang dewan guru yang akan menjadikannya sebagai anak asuh dan membantu biaya sekolahnya. Namun, hal itu juga belum bisa dilakukan lantaran sang guru meminta agar dirinya mencarikan orang tua asuh bagi saudari kembarnya.

“Tadinya mau dijadiin anak asuh, tapi belum bisa karena kalau cuma saya kasian Sumiyati. Kalau udah ada orang tua asuh buat Sumi baru guru itu mau jadiin saya anak asuh, soalnya kasian kalau cuma saya katanya,” kata Sulastri menirukan ucapan salah satu guru di sekolahnya tersebut.

Sulastri dan orang tuanya berharap, Pemerintah bisa membantu keluarganya terlebih dalam masalah pembiayaan sekolah. Orang tua keduanya berharap anak-anaknya bisa terus menempuh pendidikan sampai ke tingkat yang tinggi.(Rus)



Terpopuler