Connect with us

METROPOLITAN

Terapkan Metode Hatzon, Petani di Cibadak Mampu Produksi Padi 7,5 Ton Per Hektare

Published

on

Banten Hits – Kendati pada musim kemarau, namun petani yang berada di kelompok tani (poktan) Sukabungah, Desa Cibadak, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak mampu menghasilkan padi sebanyak 7,5 ton dalam per satu hektare lahan areal persawahan.

Perbedaan metode Hatzon dengan yang lainnya, terletak pada setiap rumpun dan umur tanam.

“PTT itu hanya 2-3 per rumpunnya, kalau Hatzon bisa 25-30 dalam setiap¬† rumpunnya,” kata Ruhiana, Ketua Gapoktan Sukabungah, kepada Banten Hits.

Selain biaya yang relatif sama dengan metode lain, penggunaan metode Hatzon juga akan menghindarkan padi dari hama keong. Kata dia, proses penyiangannya pun cukup hanya satu kali.

“Hatzon ini cocok sekali untuk areal perswahan yang tadah hujan,” ucapnya.

BACA :  Pemkab Lebak Optimis Angka Kemiskinan dapat Ditekan

Menurut Ruhiana yang sudah menggunakan varietas unggul baru yang dibuat Badan Litbang ini , pergiliran varietas juga akan mampu mengatasi berbagai ancaman yang bisa saja menyerang padi, salah satunya serangan hama.

“Kita sudah gunakan varietas itu. Untuk yang baru diterapkan dengan metode Hatzon ini sudah menghasilkan 7,5 ton per hektere, sebenarnya kalau dianalisis itu bisa mencapai 10 ton,” urainya seraya mengaku tidak menemukan kendala berarti kendati kendala dalam metode tersebut adalah persoalan benih.

Namun, tidak juga dipungkiri keberhasilan dalam budidaya padi akan sangat tergantung dengan pengelolaan air yang baik, terlebih dalam cuaca ekstrim seperti sekarang.

“Kebetulan kita dekat dengan sumber air dari Sungai Ciujung. Kalau teman-teman petani mungki baru mengoptimalkan penggunaan pompa saat kekeringan terjadi, kita sudah optimalkan pompa dari awal, dari mulai curah hujan yang mulai berkurang,”

BACA :  Atasi Sampah, DLHK Kab. Tangerang Optimalkan Peran UPT

Dari pompa yang tersedia, ada tiga jenis pompa yang berada di areal persawahan  tersebut, dua pompa berukuran kecil yang hanya mampu mengairi 4-5 hektare dan satu pompa berukuran besar yang mampu mengairi 80 hektare.

Sementara itu, untuk biaya, Ruhiana mengatakan, dari mulai proses tanam hingga panen, mengeluarkan biaya sebesar Rp25 juta. Biaya tersebut sudah termasuk bahan bakar, trouble dan HOK.

“Sampai panen kita butuh 6 kali aplikasi, dan untuk 30 hakter itu memakan biaya Rp25,” jelasnya. (Nda)



Terpopuler