Connect with us

METROPOLITAN

Terganggu Bau Busuk, Warga Cikepuh Serang Minta Toko Sembako Ditutup

Published

on

Banten Hits – Warga Kampung Cikepuh, RW 06, Kelurahan Unyur, Kecamatan Serang, Kota Serang menggelar aksi unjuk rasa meminta toko sembako yang tidak diketahui secara jelas nama dan izin usahanya untuk tutup. Aksi digelar di depan toko sembako yang dianggap meresahkan, Senin (24/8/2015).

Menurut warga, keresahan ditimbulkan dari bau busuk telur yang dijual di toko sembako tersebut. Warga sudah berkali-kali memberikan peringatan soal bau busuk ini kepada pemilik toko yang merupakan warga keturunan Tionghoa.

“Kita berhak untuk mengusir, kalau mereka tidak mematuhi peraturan kita. Karena telurnya telah memberikan bau busuk. Izin saja tidak ada, setuju kita tutup?” kata salah seorang tokoh masyarakat dalam orasinya di hadapan warga.

BACA :  Wali Kota Tangerang Ajak Umat Islam Indonesia Doakan Muslim Rohingya

Saniman, salah seorang warga kepada Banten Hits mengatakan, pada dasarnya warga di lingkungan tersebut toleran dengan usaha apapun yang dilakukan di lingkungannya. Namun demikian, toko yang menjual bahan sembako yang didominasi oleh telur ayam, telah menimbulkan bau busuk yang mengganggu. Kondisi itu dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan warga.

“Ini yang membuat warga resah,” terangnya.

Nasir, warga lainnya mengatakan, warga sudah empat kali mengadakan pertemuan dengan pemilik toko yang bernama Johan. Dalam beberapa pertemuan tersebut, warga meminta pemilik toko berupaya agar telur-telur yang menjadi barang dagangannya tidak menyebarkan bau ke rumah warga, di antaranya dengan mengatur ventilasi.

Setelah beberapa minggu bau busuk tak ada, mendadak bau busuk itu kembali tercium warga. Warga yang kesdal akhirnya mendatangi tempat usaha tersebut.

BACA :  Mahasiswa Ramai-ramai Teriak Penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja di DPRD Cilegon

“Sebelum lebaran kemarin pemilik berjanji untuk berupaya, tapi masih terulang, karenanya kami meminta yang bersangkutan untuk menutup saja usahanya ke tempat lain,” ungkapnya.

Nasir menepis tudingan soal “jatah preman” dalam aksi tersebut. Menurutnya aksi itu bukanlah soal uang. Nasir juga membantah keras jika warga memiliki sentimen ras.

“Kami tidak butuh uangnya (Johan), yang kami butuhkan adalah kenyamanan seperti sediakala. Warga di sini memahami Bhineka Tunggal Ika sebagai sesuatu yang berharga, saya menjamin tidak ada sentimen kesukuan, apalagi agama. Ini Banten! warga Banten nasionalis. Saya sendiri keturunan luar, tapi dihargai di sini,” tegasnya.(Rus)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler