Connect with us

METROPOLITAN

Miris! Setiap Hari Siswa SDN 2 Curug Pandeglang Belajar di Lapangan

Published

on

Banten Hits – Pendidikan menjadi salah satu modal dalam melahirkan generasi muda yang berkualitas dan memiliki daya saing. Kondisi sarana maupun prasarana yang layak dalam sebuah lembaga pendidikan, juga dianggap menjadi faktor utama sebagai penunjang para peserta didik saat menerima setiap ilmu dan pengetahuan yang disampaikan dari setiap tenaga pendidik (guru).

Pasalnya, dengan kondisi ruang kelas atau sarana pendidikan yang baik, proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), terutama apa yang disampaikan tenaga pendidik akan lebih mudah dipahami dan dicerna oleh para peserta didik.

Kondisi tersebut sangat jauh jika dibandingkan dengan yang harus dialami oleh puluhan siswa di SD Negeri Curug 2, di Kampung Cisuen, Desa Curug, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang.

BACA :  Spesialis Penggelapan Mobil Rental Dibekuk Polisi saat Beraksi di Wilayah Sajira Lebak

Setiap hari, dari 138 siswa, sebanyak 32 siswa di sekolah tersebut harus rela belajar di halaman sekolah dengan kondisi halaman yang berdebu dan di bawah panasnya terik matahari. Pasalnya, sekolah hanya memiliki tiga ruangan dengan satu ruang guru.

Herman, salah seorang tenaga pengajar di SDN tersebut, kepada Banten Hits, mengaku, dengan kondisi keterbatan ruang kelas tersebut, pihak sekolah terpaksa mensiasati dengan melakukan KBM di lapangan sekolah secara bergilirian. Pasalnya, jika dalam satu ruangan dibagi menjadi dua kelas akan berpengaruh kepada kondusifitas KBM.

“Kalau satu ruangan ada dua kelas dan dua guru, yang satu belajar PKn dan yang satu lagi belajar matematika, itu jadi tidak kondusif, makanya salah satu kelas belajar di luar, yang belajar di kelas itu kadang kelas satu kadang kelas dua,” tuturnya, Kamis (17/9/2015).

BACA :  Mapaba, PMII Bangun Generasi Kritis dan Berkarakter Aswaja

Dirinya mengaku, pihak sekolah sudah sering mengajukan permohonan bantuan pembangunan ruang kelas baru. Namun, pengajuan tersebut hingga saat ini tak kunjung terwujud. Sekolah, hanya mendapat bantuan renovasi bangunan.

“Kalau ngajuin bantuan sering, bahkan sebelum dapat bantuan rehab tahun ini sempat ngajuin. Katanya (Dindikbud-red) belum ada anggaran, yang ada buat rehab saja, padahal yang kita butuhkan penambahan kelas,” keluhnya.

Begitu juga dengan kondisi kelas lain, seperti kelas 3 yang digabung dengan kelas 4 dan kelas 5 digabung dengan kelas 6 dalam satu ruangan hampir diisi 50 orang siswa, tanpa diberikan batas antara kelas satu dengan kelas yang lain.

Lebih lanjut ia berharap, meski di tahun 2015 tidak ada anggaran untuk bantuan pembangunan kelas baru, Herman mengharapkan pada tahun depan sekolahnya mendapat bantuan tambahan kelas baru.

BACA :  Nafas Berhenti Sebelum Tenggelam, Ayu Octaviani Tewas Dibunuh?

“Kalau tidak ada tahun ini, mudah-mudahan tahun depan bisa dianggarkan, karena kita sangat membutuhkan penambahan kelas baru,” imbuhnya. (Nda)



Terpopuler