Connect with us

PERSONA

Bunga-bunga Kehidupan Suherman yang Tumbuh di Pemakaman

Published

on

Bunga-bunga ditabur di atas gundukan tanah merah yang masih basah. Wajah-wajah murung, kereta jenazah, dan doa-doa adalah potret sehari-hari di pemakaman. Di situlah kehidupan Suherman tumbuh dan berbuah.  

Menjual bunga kuburan seperti yang dilakoni Suherman, warga Jalan Nyimas Melati,Desa Pondok Kelor, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang ini masih tergolong jarang dilakukan banyak orang. Namun Suherman telah memulainya dengan kesungguhan sangat. Kini dia pun mulai memetik buah dari keuletannya itu.

Seperti halnya kematian dan kehidupan yang jaraknya hanya sekedipan mata, begitu juga Suherman memosisikan keberhasilan dan kegagalan dalam proses. Hasil akhir setelah dia berikhtiar penuh, ia serahkan kepada Yang Berkehendak.

Sehari-hari Suherman menjual kembang kuburan di Pasar Anyar dan Pasar Lama, Kota Tangerang. Terkadang di hari-hari tertentu, pria yang biasa dipanggil Herman ini menjual kembangnya di sekitar tempat pemakaman umum (TPU) di Tangerang.

BACA :  Decy Putri Yudianti: Di Spanyol Tari Saman Mengundang Perhatian

Herman mengaku, ia sudah 18 tahun menjual kembang kuburan ini. Awal dia melakoni bisnis ini adalah ketika dia harus membantu menjual kembang hasil tani orangtuanya.

“Awal mula usaha karena turunan orangtua yang petani kembang. Terus bantu-bantu orangtua jual hasil taninya. Usaha taninya itu dibawa sama saya sampe akhirnya laku. Kemudian mulai ambil kembang ke orang lain juga karena kembang hasil tani orangtua kurang,” kata Herman.

Menjual kembang kuburan buat Herman, tak sekadar bisnis semata. Menurutnya, menjual kembang banyak manfaatnya. Tidak hanya mendapat keuntungan, namun juga bisa membantu banyak orang.

“Banyak manfaatnya. Kadang suka nolongin orang jadi banyak kenal orang. Kadang kita bantu-bantu orang yang meninggal. (Mereka) butuh kembang, air mawar, bahkan kain kafan kita sediain,” kata pria 40 tahun ini.

BACA :  Gilang Permana, Bocah 6 Tahun yang Sudah Hafal Al-Qur'an Juz 30

Usaha Herman tidak semulus ceritanya. Mantan karyawan di sebuah perusahaan ini juga mengalami sulitnya menjadi pengusaha. Dia harus banting tulang berjualan dari malam sampai ketemu malam lagi. Tak jarang dia juga harus berurusan dengan preman pasar.

“Awal-awal usaha pahit dulu. Malem-malem udah jalan cari kembang di kebun sama cari kembang di tempat lain. Dari rumah ke Jakarta. Pagi udah jualan nyampe ketemu malem lagi. Belum kalo udah ada masalah sama preman-preman di pasar. Tapi usaha tetap dijalanin aja,” ungkapnya.

Berbicara mengenai omset, dalam sehari Herman bisa mendapatkan untung bersih sekitar Rp 200 ribu rupiah. Jika dikalikan, dalam sebulan berarti Suherman meraup Rp 6 juta rupiah. Bahkan Herman bisa mendapatkan 10 kali lipat omsetnya di hari raya seperti Idul Fitri atau Idul Adha.

BACA :  Hilmi Fabeta, Membesarkan Kota dengan Seni

“Kalo hari hari raya seperti Idul Fitri atau Idul Adha bisa sampai 10 kali lipatnya,” jelasnya.

Selama 18 tahun menjalani usahanya itu, Herman mengaku telah banyak hasil yang dia petik. Salah satunya Herman kini telahmasuk daftar jemaah haji yang akan diberangkatkan 2016 mendatang.

“Alhamdulillah sudah daftar haji. Mudah-mudahan tahun depan berangkat. Mobil udah (punya) dua. Udah punya rumah sendiri. Udah punya istri dan anak juga,” ujar Herman sambil tertawa.

Herman menyarankan kepada anak muda supaya tidak takut menggeluti dunia usaha. Kuncinya, kata Herman, berani mencoba dan giat dalam berusaha.

“Harus giat jangan patah semangat, Walaupun keuntungan kecil juga dijalanin aja. Lama-lama juga besar. Rintangan pasti ada tapi harus tetap semangat, sabar dan tawakal. Yang penting berkah,” tandasnya.(Rus)



Terpopuler