Connect with us

METROPOLITAN

PT PGN Diduga Buat Kesepakatan Asal-asalan dengan Warga Panggung Rawi Cilegon

Published

on

Banten Hits – Kisruh soal pemasangan pipa gas milik PT Perusahaan Gas Negara (PGN) di depan rumah-rumah warga di RW 04 dan RW 06, Perumahan Bumi Panggung Rawi Indah, Kelurahan Panggung Rawi, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, terus berlanjut.

Penelusuran wartawan Banten Hits Iyus Lesmana, pemasangan jaringan pipa gas untuk kebutuhan rumah tangga itu tidak diketahui oleh sebagian besar warga di perumahan Bumi Panggung Rawi Indah. Diketahui, hanya segelintir warga yang mengetahui maksud dan tujuan program tersebut.

Menurut pengakuan tokoh masyarakat setempat di RT 02 RW 06, Ahmad Sukri, kesepakatan yang dibuat PT PGN dengan segelintir warga Panggung Rawi, diduga hanya asal-asalan belaka. Kesepakatan dibuat oleh sebagian kecil warga yang ingin memuluskan program itu.

BACA :  Pengusaha Jakarta Diduga Mayat Wanita di Balaraja, Hilang Ketika Nagih Hutang

“Wah itu banyak sekali yang belum tahu tentang itu. Kalau dibilang di sini yang belum tahu sama sekali ada kurang lebih 75 persen, termasuk saya yang tidak tahu sama sekali. Kalau ditotal ada kurang lebih di sini 700 KK. Yang mewakili hanya 100 saja, kan itu masih jauh kan, ” kata tokoh masyarakat yang mendapat penghargaan dari Kapolda Banten sebagai mitra polisi terbaik di Kota Cilegon ini, Kamis (8/10/2015).

Bahkan, Sukri menuding kesepekatan yang dibuat diduga hanya melibatkan segelintir orang yang tidak mendahulukan dan mewakili kepentingan masyarakat yang menjadi sasaran dari penyaluran gas rumah tangga itu.

“Kalau dibilang kesepakatan yang dibuat, kayaknya itu akal-akalan saja. Kita di perumahan ini ada dua RW dan 12 RT. Kalau yang wakili itu saja, harusnya masyarakatnya tahu dong. Yang kita inginkan itu keterbukaan, jangan seolah-olah sudah disepakati,” jelasnya.

BACA :  KTCI Chapter Tangerang Raya Berbagai Melalui "Ramadan Peduli"

Sukri menegaskan, dirinya bersikap keras seperti itu hanyalah untuk menjaga keutuhan dan keamanan masyarakat. Bilamana hal tersebut tidak tersosialisasi dengan baik, kata Sukri, dimungkinkan timbul gejolak yang tidak diinginkan.

“Yang kita takuti, ada masalah yang terjadi yang tidak kita inginkan. Yang saya tahu yang ngerjain ini orang Sragen, mereka tidak tahu di sini seperti apa. Harusnya, mereka bisa menghargai warga. Ini malah tidak menghargai hak kita. Kok kita yang punya rumah, langsung aja main gali-gali aja,” ucapnya kesal.(Rus)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler