Connect with us

CITARASA

Menikmati Wedang Uwuh yang Bertahan dari Riuh Metropolitan

Published

on

Matahari bersiap masuk ke peraduan. Sisa cahayanya menghadirkan senja berwarna kuning kemerahan. Inilah momen di mana kawasan Summarecon Mall Serpong (SMS) bersiap menyambut riuh. SMS adalah salah satu etalase kaum urban di kawasan metropolitan Tangerang. Orang-orang di dalamnya gandrung keramaian dan modernitas.

Di antara sederet simbol-simbol modernitas itu, jika kita berkunjung ke Salsa Junction–salah satu bagian di kawasan SMS–kita bisa temui warung mungil di sudut kanan panggung. Alih-alih “latah” menonjolkan modernitas, warung ini “pede” mengusung menu-menu “kampung”. Warung ini menjadi satu-satunya warung yang menawarkan hidangan tradisional.

Salah satu menu yang ditawarkan di warung ini adalah wedang uwuh. Menikmati setiap teguk wedang uwuh sambil menikmati senja adalah kenikmatan tak terhingga. Kita seperti diajak menepi dari bising dan riuh metropolitan.

BACA :  Sensasi Pedas Rempah - Rempah Mie Aceh Cilegon

Menurut Abdul Rohman alias Omen (25), salah seorang pramusaji di warung tersebut, sore hari hingga malam adalah waktu yang ramai digunakan pelanggannya untuk menikmati wedang uwuh. Pisang bakar atau singkong goreng adalah camilan yang pas untuk menemani wedang uwuh.

“Mereka selalu bilang, wedang uwuh enak dibadan. Bisa menghilangkan capek, bahkan ada yang percaya untuk vitalitas,” kata Omen.

Wedang uwuh terdiri dari beragam tumbuhan yang dipercaya berkhasiat untuk kesehatan, seperti kayu secang, jahe, daun sere, daun salam, kayu manis, dan kapulaga. Konon katanya, ramuan ini pertama kali ditemukan oleh seorang penjaga makam raja-raja di Imogiri melalui wangsit.

Wedang dalam Bahasa Jawa berarti minuman, sedangkan uwuh adalah sampah. Pengertian sampah mungkin merujuk pada dedaunan tumbuhan yang menjadi bahan-bahan minuman ini. Sekilas, memang daun-daunan itu serupa sampah, jika kita tidak mengenali khasiat-khasiatnya. Minuman ini adalah minuman asli Yogyakarta.

BACA :  Mencicipi Sate 'Pak Kumis' yang Terkenal Laris

Wedang uwuh lebih nikmat disajikan dengan gula batu. Warna merah kayu secang dan hangat jahe, akan terasa meresap dari tenggorakan hingga ke perut. Seketika, otot-otot terasa dikendurkan. Ingar-bingar di sekitar seolah tak terdengar saking kita meresapi kenikmatannya.

Selain wedang uwuh, warung ini juga menyediakan teh poci dan kopi jahe bandrek. Untuk menemani minuman-minuman itu, disediakan pisang bakar coklat keju, singkong goreng, atau roti bakar.

Meski hidangan ini tergolong jadul dan “kampung”, namun kata Omen, pelanggan di warungnya itu kebanyakan malah anak-anak muda kantoran. Mereka nyaris saban hari menghabiskan senja selepas jam kantor bersama secangkir wedang uwuh.

“Mereka yang datang ke sini anak-anak muda kantoran. Banyak juga yang sudah bapak-bapak. Mereka bisa berlama-lama menghabiskan satu porsi wedang uwuh,” ungkap Omen.

BACA :  Rahasia Rempah-rempah Nusantara di Kedai Tenda

Warung ini sudah berdiri sejak kawasan ini dikenal dengan sebutan Gading Serpong. Kini meski kawasan telah berubah menjadi kawasan SMS, wedang uwuh mampu bertahan, bahkan tetap digandrungi dan dicari penikmatnya…



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler

Please disable your adblock for read our content.
Refresh