Connect with us

PERSONA

Hitam Putih Suhendri, Anak Kampung Warung Mangga yang Piawai Melukis Rupa

Published

on

Suhendri (29) terlihat cekatan menyajikan hidangan yang dipesan pelanggan di warung nasi goreng Bakti, di Jalan Raya Serpong (Jalan MH Thamrin), Kampung Warung Mangga, Kelurahan Panunggangan, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Sementara kolega Suhendri lainnya terlihat sibuk menggoreng nasi pesanan.

“Yang lainnya sedang pulang kampung, Mas. Sudah beberapa hari ini hanya kami berdua yang melayani,” kata pemuda warga Kampung Warung Mangga, RT 01/01, Kelurahan Panunggangan, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang ini.

Suhendri mengaku, sejak beberapa bulan ini tenaganya benar-benar terkuras habis untuk melayani pelanggan nasi goreng Bakti. Malam itu, Selasa (10/11/2015) dini hari, di warung yang biasanya selalu ramai pengunjung ini, Suhendri dan koleganya tampak bisa bernafas lega seusai menyajikan hidangan yang kami pesan. Dia menyeduh kopi lalu ngobrol bersama kami yang saat itu datang berempat orang.

BACA :  Menularkan Pengetahuan dan Mengumpulkan Pundi Penghasilan

Setelah cukup lama berbincang, Suhendri menghampiri sudut warung. Ada sebuah kanvas putih dengan gambar ber tinta hitam seorang perempuan berjilbab. Di sudut kanvas ditempel foto perempuan yang dimaksud.

“Lukisan ini sudah lama banget gak selesai-selesai. Maklum saya harus berbagi waktu dengan warung,” katanya.

Malam hari adalah waktu yang pas buat Suhendri untuk menyalurkan hobi melukisnya. Tentunya semua itu dia jalani setelah terbebas dari tekanan kerja. Suhendri akan memulai aktivitasnya dengan menyetel lagu-lagu kesukaannya. Musik mengalun, Suhendri pun tenggelam dalam kanvas hitam putihnya.

Suhendri mengaku, mempelajari seni melukis rupa secara otodidak. Bakatnya melukis muncul begitu saja saat dia duduk di bangkus SMA. Lukisan teman satu sekolahnya merupakan karya pertama Suhendri. Karya itu pun tidak gratisan. Dia memperoleh bayaran yang cukup memuaskan dirinya kala itu.

BACA :  Darwin Mahesa, Merubah Stigma Jawara lewat Syiar Layar Kaca

“Saya dibayar Rp 50 ribu saat itu. Saya seneng banget. Saya bilang ke yang saya lukis, saya terima pesanan untuk melukis yang lainnya,” kata Suhendri sambil tertawa.

Proses kreatif yang dialami Suhendri, tak lepas dari inspirasi di lingkungan sekitarnya yang kebetulan mempunyai latar belakang serupa sebagai seniman.

Meski mengaku masih sangat minim pengalaman dalam hal melukis, Suhendri cukup berbangga hati dengan karya-karya yang telah ia rampungkan selama ini. Tak kurang dari 100 lukisan telah Suhendri lahirkan selama 10 tahun ke belakang ini.

Untuk setiap lukisan yang dikerjakannya, Suhendri mematok tarif sebesar Rp 300 ribu. Namun tarif tersebut bisa lebih mahal lagi, bergantung dari tingkat kesulitan objek lukisannya. Supaya kualitas lukisan bisa terjaga, Suhendri membatasi pesanan sebulan hanya 10 lukisan.

BACA :  Jago Gocek Bola yang Sukses Jadi Pengusaha

“Dibatasi 10 lukisan, biar gak terlalu dikejar deadline juga ngerjainnya, kualitasnya juga bisa terjaga,” terangnya.

Meski mematok tarif, Suhendri mengaku tak pernah mengejar uang dari aktivitasnya. Melukis baginya adalah kesenangan untuk jeda dari rutinitas sebagai pelayan warung nasi.

Menjalani dua sisi kehidupan sebagai pelukis sekaligus pelayan warung nasi, buat Suhendri adalah seperti lukisan hitam putih. Kontras tapi menjadi harmoni.

Nah, buat Anda yang ingin foto close-upnya dijadikan lukisan, Anda bisa datang langsung ke rumah Suhendri atau Anda juga bisa menemuinya di warung nasi goreng Bakti, tak jauh dari SPBU di samping Hotel FM3 Tangerang….(Rus)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler