Connect with us

SENI & BUDAYA

Silat Betawi dan Pesan Kebaikan dari Jalan Haji Mean VI

Published

on

Jago-jago silat di Betawi pada zaman penjajahan, hadir untuk melindungi rakyat. Silat saat itu, digunakan untuk melawan kesewenangan dan menegakkan kebenaran. Karenanya, pemilik ilmu silat adalah orang-orang pilihan, yakni mereka yang dari dadanya tumbuh kesadaran untuk terus berbuat baik buat sesama dan negaranya.

Penjajah telah pergi dari Bumi Pertiwi. Namun, silat kini tetap dibutuhkan kehadirannya untuk mengontrol emosi manusia-manusia modern yang sibuk dengan rutinitas. Bahkan, jauh dari itu silat bisa digunakan untuk meredam nafsu jahat di zaman modern, seperti perilaku koruptif dan manipulatif.

Pesan-pesan kebaikan itulah yang terus digelorakan sekumpulan orang yang tergabung dalam sanggar Ikatan Seni Bela Diri Jalan Enam Pengasingan (ISBAD) yang berlokasi di Jalan H. Mean VI,  RT 01/011, Pondok Rajeg, Karang Timur, Karang Tengah, Kota Tangerang.

“Zaman sekarang (silat) kan gak seperti dulu bela dirinya (ditonjolin), jadi lebih ke melatih mental,” kata Yunus (30), salah seorang pembina ISBAD.

BACA :  Kemeriahan Melestarikan Tradisi "Pecun"

Silat yang diajarkan sanggar ISBAD disebut Kotek Jalanan. Selain itu, juga diajarkan seni Betawi lainnya yang sudah diwariskan turun temurun seperti Palang Pintu dan Lenong Bocah.

Sanggar seni ini terbentuk sejak bulan oktober 2014. Terciptanya sanggar seni ini bermula dari semangat kepedulian masyarakat Pengasinan dalam memperkenalkan budaya Betawi kepada masyarakat. Selain itu sanggar seni ini dibangun untuk menciptakan kegiatan positif yang lebih bermanfaat untuk anak-anak muda zaman sekarang.

“Tujuannya terciptanya sanggar seni ini adalah untuk memperkenalkan serta melestarikan budaya Betawi dengan cara mengajak anak-anak muda untuk melakukan kegiatan di sanggar ini, seperti seni beladiri betawi, palang pintu, dan lenong bocah,” kata Misar (47), Ketua Sanggar ISBAD.

Menurut Misar, upaya untuk terus memperkenalkan budaya Betawi kepada masyarakat harus terus dilakukan, supaya kebudayaan Betawi ini tidak hilang ditelan globalisasi kehidupan.

Upaya itu diakui Misar, memang tak gampang dilakukan. Dirinya dan kawan-kawan di ISBAD pernah mengalami pasang surut. Bahkan, mereka juga nyaris kehilangan semangat lagi untuk mempertahankan budaya-budaya Betawi itu.

BACA :  Tiga Abad, Klenteng “Benteng Kebajikan” (Bagian 1)

“Ngembangin kebudayaan Betawi kepada masyarakat emang agak susah. (pernah) dari punya 20 murid, terus ilang gitu aja. Terus bikin lagi dapet 30 murid, terus ilang lagi, sampe pernah pupus juga kenalinnya. Sekarang, Alhamdulillah udah punya sekitar 50 murid dan terus bertambah, malah sekarang udah jadi eskull di suatu sekolah,” jelas Misar.

Naidi (55), pendiri ISBAD lainnya mengisahkan, zaman ia muda dulu berlatih seni bela diri merupakan sesuatu yang mengasyikan. Ia melakukan latihan diterangi cahaya obor dan latihannya pun bergantian dari satu tempat ke tempat lain.

“Dulu sekitar tahun 1978, latihannya diterangin obor doang. Terus latihannya muter aja di tempat-tempat teman, kadang di tempat si A besoknya di tempat si B. Kalo sekarang mah kita udah wadahin,” ujarnya.

Misar menambahkan operasional ISBAD saat ini masih terpenuhi dari hasil kolektif pembina dan anak murid. Karenanya, kehadiran pemerintah sangat dibutuhkan dalam melestarikan budaya betawi ini. Misar mengajak pemerintah setempat mau turut serta membantu upaya ISBAD dalam melesatikan budaya Betawi ini.

BACA :  Puluhan Perupa Banten dan Bali Akan Pamerkan Hasil Karyanya di "Hitam Putih Jejak Rangkasbitung"

“Kalo anggaran kita masih kolektifan aja pembina sama murid-murid. Kadang dapet kerjaan palang pintu dari acara kawinan, nah uangnya dibagi buat yang main sama sisanya ke kas. Alhamdulillah pemerintah setempat merespon positif (kehadiran kita). Karena kita juga masih kekurangan dana juga, semoga pemerintah bisa bantu,” harapnya.

Tak ada syarat khusus untuk bisa bergabung masuk ke Sanggar ISBAD ini. Anda hanya harus datang ke sanggar dan minta persetujuan orangtua untuk mengikuti kegiatan ISBAD ini.

Yang jauh lebih penting bagi Misar dan kawan-kawannya, dengan adanya sanggar ini, kebudayaan Betawi bisa bertahan atau bahkan berkembang tidak hanya di kancah nasional tapi juga Internasional.(Rus)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler