Connect with us

METROPOLITAN

Anak di Lebak Tewas Terserang DBD, Pemkab Disebut Tak Tanggap

Published

on

Banten Hits – Masyarakat Kabupaten Lebak resah menyusul munculnya wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) di lingkungan mereka yang telah memakan korban jiwa atas nama Ipon (8), warga Kampung Lebak Picung, Kamis (28//1/2016). Selain korban tewas, 13 warga lainnya dilaporkan telah terserang DBD dan dilarikan ke rumah sakit setempat.

Wartawan Banten Hits Ahmad Suki melaporkan, 13 warga korban DBD berasal dari Kampung Kandang Sapi, Desa Narimbangmulya, Rangkasbitung. Meski telah memakan banyak korban, Pemerintah Kabupaten Lebak belum melakukan fogging di lokasi terjangkit DBD.

Salah seorang warga Ahmad Sanusi mengatakan bahwa pihak pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan lambat dan tidak tanggap dalam penanganan kasus demam berdarah.

BACA :  Tingkatkan Kualitas Infrastruktur, Lima Ruas Jalan di Lebak Gunakan CTB

“Iya. Dinkes (Lebak) seolah-olah membiarkan penyakit ini menunggu korban lebih banyak lagi, padahal kami warga telah melaporkan adanya DBD untuk segera ditindak lanjuti. Tapi tidak pernah ditanggapi dengan alasan menunggu data valid dari rumah sakit atau puskesmas. Meskipun sudah ada juga, katanya nunggu investigasi dulu Baru difogging,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya.

Lebih lanjut dia mengutarakan, masyarakat sebenarnya berharap dengan adanya korban meninggal dunia karena DBD, dinkes maupun puskesmas segera melakukan pencegahan dengan cara pemogingan, agar masyarakat tenang tidak resah dengan adanya pengasapan di pemukiman tersebut.

“Ini kan sudah ada korbannya mau nunggu berapa lagi korbannya yang harus meninggal dunia karena DBD. Kami resah melihat ada korban akibat DBD. Jadi kami menginginkankan kampung kami segera difogging biar tidak ada korban selanjutnya,” pungkasnya.

BACA :  Pemkab Pandeglang Canangkan Gerakan Sarapan tanpa Nasi

Sementara, Kepala Bidang Pencegahan DBD pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak Firman Rochmatulloh mengatakan, pihaknya dalam tidak bisa langsung melakukan pemogingan, karena harus melihat data dari rumah sakit yang menyatakan pasien atau warga tersebut positip terkena DBD.

“Kami tidak bisa langsung melakukan apa yang menjadi keinginan masyarakat, karena pemogingan tidak bisa dilakukan karena harus melihat data dari si pasien, apakah DBD atau tidak. Karena Kita harus melakukan investigasi dari temuan di lapangan, tim kami telah melakukan penyelidikan di lokasi yang katanya terjangkit DBD. Bisa saja orang yang terkena DBD itu saat berada di luar rumah tengah bermain atau bekerja, mengingat nyamuk menyengatnya bukan malam hari melainkan pada waktu pagi dari jam 8 sampai 10 pagi dan jam 2 sampai 4 sore,” ujarnya.(Rus)

BACA :  Polisi Gadungan yang Tewas Ditembak di Cikupa Ngontrak di Serpong



Terpopuler