Connect with us

METROPOLITAN

Seniman Banten Usulkan Deradikalisasi Lewat Kesenian

Published

on

Banten Hits – Seniman Banten mengusulkan berbagai program deradikalisasi melalui kesenian, khususnya seni budaya Islam. Usulan tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Teknis Seni Budaya Banten Tahun 2016 di Kebon Kubil Garden Resto, Jalan Bhayangkara, Kota Serang, Kamis (11/2/2016). 

Wartawan Banten Hits Dian Sucitra melaporkan, Kamis membesarnya isu-isu radikal di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, menjadi salah satu pembahasan penting dalam rapat tersebut.

Pembahasan hangat itu diawali dengan pembahasan mengenai definisi seni budaya Islam yang selalu menjadi kontroversi karena perpektif yang berbeda dari masyarakat tentang kesenian.

Utusan dari Dewan Kesenian Banten Gito Waluyo mengatakan, umumnya pemahaman masyarakat Banten seni budaya Islam haruslah berpakaian seperti orang Arab, musik Arab, dan kesenian-kesenian lain dari Timur Tengah.

“Padahal tidak semua kesenian yang berasal dari Timur Tengah berarti seni Islami. Seni budaya Islam itu adalah kesenian yang terkandung nilai-nilai Islam di dalamnya,” ungkapnya di dalam forum tersebut.

Sementara itu, utusan Banten Heritage Dadan Sujana menceritakan pengalamannya di suatu desa di Pandeglang. Ketika itu ia bertanya kesenian apa saja yang yang ada di kampung tersebut. Pertanyaannya dijawab dengan jawaban yang mengejutkannya.

Euweuh kesenian di dieu mah, haram (tidak ada kesenian di sini, haram),” ungkap Dadan menirukan gaya orang yang mengatakan hal tersebut.

Dadan juga mendapatkan jawaban, di kampung tersebut tidak ada kesenian hanya ada kasidah. Mendengar jawaban itu, Dadan menjelaskan kasidah adalah bagian dari kesenian yang diadaptasi dari budaya Arab. Ketika itu kasidah memiliki nilai nilai Islami, maka itu disebut dengan seni budaya Islam.

“Kasidahan itu kesenian,” ungkapnya. 

Menanggapi kedua utusan tersebut, pakar seni budaya Islam Huriyudin yang merupakan alumni IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat menyetujui, seni budaya Islam adalah kesenian yang memiliki kandungan nilai-nilai Islam. Dan Ia menekankan, berkesenian dalam Islam pendekatannya haruslah pendekatan Tasawuf tidak dengan pendekatan Fiqih.

“Dan seharusnya pemerintah jeli dengan menjadikan seni sebagai alat untuk deradikalisasi bangsa,” tegasnya.

Hasil rapat koordinasi teknis Seni dan Kebudayaan tersebut, nantinya akan dibahas lebih mendalam lagi pada akhir Februari 2016 mendatang, hingga nantinya menjadi usulan dalam program pemerintah Provinsi Banten.(Rus)

Trending