Connect with us

GAYA HIDUP

Yayasan Semanggi; Berbagi Keterampilan untuk Kelestarian Bumi

Published

on

Memasuki markas Yayasan Semanggi, sepasukan autobots dalam film Transformers berderet gagah, mulai dari Bumbblebee, Iron Hide, dan Rachet. Sayang, kami tak menemukan Optimus Prime si pemimpin autobots yang bijak dan pantang menyakiti manusia, sehingga kelompok yang dipimpinnya merepresentasikan kebaikan.

Tiga autobots yang kami jumpai di Yayasan Semanggi ini, merupakan robot-robot ukuran besar yang tingginya mencapai tiga meter lebih. Robot ini dibuat oleh aktivis dan voulenter di Yayasan Semanggi. Selain tiga autobots ukuran raksasa, ada juga bentuk mininya. Robot-robot itu dibiarkan berbaris di dalam salah satu “saung” di tempat itu.

Yang mengejutkan sekaligus mengagumkan, ternyata robot-robot itu dibuat dari sampah, sesuatu yang hari ini menjadi masalah serius bagi masyarakat perkotaan. Melalui keterampilan yang mereka miliki, mereka mendaur ulang sampah menjadi sesuatu yang bisa dikagumi.

Menurut Ujang Tajudin, salah seorang relawan di Yayasan Semanggi, yayasan ini merupakan yayasan yang bergerak di bidang seni budaya, keterampilan dan olahraga. Yayasan Semanggi sudah tersebar di berbagai wilayah di antaranya Kebon Jeruk, Cengkareng dan Tangerang. Di Tangerang sendiri, Yayasan Semanggi sudah membangun sekolah gratis di daerah Panongan, Pasar Kemis dan daerah Sepatan.

BACA :  Aria Dirgantara; Bocah Penggebuk Drum yang Memukau Penonton Hari Musik di Banten

“Di sini, kita memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai bahaya sampah jika tidak dikelola atau pentingnya daur ulang sampah,” kata Ujang saat ditemui di Markas Yayasan Semanggi, Jalan Perintis Kemerdekaan 2, No. 4, Cikokol, Kota Tangerang.

Kegiatan yang dilakukan Yayasan Semanggi di antaranya melakukan bimbingan, pengarahan, serta pembelajaran kepada masyarakat yang membutuhkan ilmu pengolahan sampah yang bermanfaat pada kehidupan sehari-hari. Selain itu, Yayasan Semanggi juga mengajarkan keterampilan, khususnya pada keterampilan daur ulang.

Keterampilan daur ulang ini diajarkan, dengan tujuan memberikan wawasan kepada masyarakat supaya sadar akan masalah sampah dan memilah sampah pada tempatnya, karena kita tahu sampah bisa menjadi berbahaya jika tidak dikelola dengan baik.

BACA :  Memilih Konten yang Akan Diupload Bisa Menghindari Bullying di Media Sosial

“Di sini kita memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai bahaya sampah jika tidak dikelola atau pentingnya daur ulang sampah”, ujar ujang tajudin salah satu volunteer Yayasan Semanggi.

Tidak hanya di markas Yayasan Semanggi, yayasan ini juga berkerja sama dengan salah satu mal untuk mengajarkan karyawan dan konsumen mengenai daur ulang sampah.

“Kita juga bekerja sama dengan salah satu mal untuk memberikan pengarahan mengenai daur ulang sampah kepada konsumen maupun karyawan,” jelas Ujang.

Ujang juga berbagi pengalamannya membuat tiga autobots ukuran besar bersama sejumlah kawannya di Yayasan Semanggi. Robot-robot tersebut dibuat Ujang dari berbagai macam sampah. Ujang dan teman-teman hanya membutuhkan dua hari untuk membuat satu robot.

“Robot raksasa dibuat dari berbagai sampah plastik seperti onderdil motor atau perangkat-perangkat kipas angin. Hanya butuh dua hari untuk membuat satu robot,” terangnya.

BACA :  Sugar Glider, Hewan Mungil Menggemaskan

Ujang menjelaskan, sampah yang digunakan untuk daur ulang merupakan sampah-sampah plastik. Sampah yang sulit diurai oleh tanah ini didapat dari teman-teman yang peduli akan sampah. Bila sampah yang dibutuhkan kurang, Ujang dan kawan-kawan juga membeli sampah dari pengepul sampah.

“Kadang ada aja temen yang datang bawa sampah ke sini. Ada juga yang kita beli dari pengepul,” ungkapnya.

Dengan adanya kegiatan daur ulang sampah di Yayasan Semanggi, diharapkan dapat merubah paradigma masyarakat tentang cara memperlakukan sampah. Karena, sampah bisa menjadi musibah jika tidak dikelola dengan baik.

“Kita berharap dapat merubah paradigma masyarakat terhadap sampah. Kalau kita baik terhadap sampah, sampah juga baik terhadap kita. Kalau acuh terhadap sampah, ya rasakan saja akibatnya, seperti banjir, penyakit dan sebagainya”, tutup Ujang. (Rus)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler