Connect with us

METROPOLITAN

Penderita Diabetes Melitus di Lebak Meningkat

Published

on

 

Banten Hits – Penyakit diabetes melitus di Kabupaten Lebak cenderung meningkat akibat gaya hidup masyarakat tidak memerhatikan pola hidup sehat. Saat ini, jumlah warga yang teridentifikasi menderita diabetes melitus berdasarkan laporan dari 42 Puskesmas di Kabupaten Lebak sekitar 5.000 orang.

“Kami minta masyarakat dapat mPenderita DM Di Lebak Cenderung Meningkat , pencegah penyakit tidak menular itu dengan mengubah pola hidup yang sehat,” kata Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak dr Firman Rahmatullah, Selasa (3/5/2016).

Jumlah penderita sebanyak itu cukup menonjol dan meningkat dibandingkan lima tahun lalu.Pemicu penyakit diabetes itu akibat pola hidup yang tidak sehat di kalangan masyarakat, diantaranya kebiasaan merokok, mengonsumsi cepat siap saji, instan, gula, karbohidrat tinggi, makan tidak teratur, minuman keras dan stress.

BACA :  Angin Kencang dan Hujan Es Terjang Lebak, Rumah dan Fasum Rusak

Selain itu juga kurang bergerak atau olahraga serta sering begadang.”Saya kira penyakit diabetes tanpa pandang bulu baik warga perkotaan maupun pedesaan juga berbagai strata sosial masyarakat mulai petani, pedagang, TNI, Polri, pegawai aparatur sipil negara (ASN),” katanya.

Menurut dia, diabetes melitus adalah penyakit metabolisme karena peningkatan kadar glukosa darah di atas normal. Apabila, seseorang dinyatakan kena diabetes jika kadar gula darah mencapai 200 miligram per desiliter atau lebih.

Untuk mencegah penyakit diabetes itu diharapkan masyarakat membudayakan pola hidup sehat, seperti berolahraga dan minimal 30 menit selama lima hari dalam seminggu juga mengkonsumsi makanan yang bergizi. Selain itu juga masyarakat rajin melakukan pemeriksaan kadar gula ke puskesmas setempat sehingga dapat terdeteksi penyakit tidak menular tersebut.

BACA :  Arus Balik, 7.517 Penumpang Telah Diberangkatkan dari Terminal Merak

Penderita diabetes untuk tahap ringan tidak perlu dilakukan pengobatan dan cukup untuk mengubah pola hidup sehat saja. Pengobatan itu, kata dia, opsi terakhir saja jika sudah mengalami komplikasi dengan organ tubuh lainnya, seperti mata, ginjal maupun jantung.

Selama ini, kata dia, penderita diabetes bisa menjadikan beban ekonomi keluarga karena biaya pengobatan cukup tinggi.Penderita diabetes membutuhkan terapi seumur hidup, sehingga bisa menimbulkan kemiskinan dan keterpurukan kualitas manusia.

“Biaya pengobatan diabetes itu cukup mahal dan membebani ekonomi keluarga,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas RSUD Adjidarmo Rangkasbitung Kabupaten Lebak Budi Kuswandi mengatakan sepuluh besar penyakit yang mengunjungi rumah sakit ini, tertinggi penderita diabetes melitus.

BACA :  Ojek Online Satroni Ojek Pangkalan di Depan Kampus Untirta

Berdasarkan data RSUD Adjidarmo Rangkasbitung pada 2015 pasien sepuluh besar penyakit tertinggi diabates melitus tidak bergantung insulin 4.521 orang (2,76 persen), kedua migren dan syndrom nyeri kepala 3.435 orang (2,10 persen), ketiga tuberkulosis paru lainnya 3.428 orang (2,09 persen) dan keempat gagal jantung 3.393 orang (2,07 persen).

Kelima hipertensi 2.848 (1,74 persen),keenam nyeri punggung bawah 2.720 orang (1,66 persen), ketujuh ,emfesima dan penyakit paru obstruktif kronik 2.583 (1,57 persen),kedelapan tuberkuosis alat napas 2.126 orang (1,29 persen) dan kesembilan dispepsia .2105 orang (1,19 persen).

“Dari sepuluh besar penyakit ranking pertama adalah diabetes melitus,” katanya. (Rus)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler