Connect with us

PERSONA

Satu Sisi Tukidi; Yang Terempas dan Hidup

Published

on

 

Orang-orang modern di perkotaan dihantui rasa cemas; sampah yang setiap hari mereka hempaskan tiba-tiba balik mengancam kehidupan. Sampah hari ini pun menjelma ancaman massal. Tak cukup mengandalkan program pemerintah. Semuanya harus bergerak, terutama mau merubah cara pandang soal sampah.

Tukidi (50), warga RT 001/01, Perumahan Kunciran Mas Permai, Kunciran Indah, Kota Tangerang, mengalami langsung fenomena sampah. Lingkungan tempat Tukidi tinggal 2010 lalu, kumuh, gersang, dan gelap. Tukidi yang saat itu menjabat ketua RT setempat, terdorong berbuat sesuatu merubah perilaku masyarat untuk hidup bersih, indah, aman, dan hijau.

Berangkat dari dorongan itu, Tukidi bersama warga RT 001/01 lainnya membuat bank sampah dari hasil swadaya masyarakat bernama Bank Sampah Gawe Rukun pada tahun 2011.

BACA :  Dipandang Sebelah Mata, Bisnis Cincau Tukimin Merambah Istana Negara

“Awalnya daerah ini kumuh, gersang, dan gelap. Kita mulai wajibkan warga untuk menanam tanaman meskipun cuma di pot. Setelah itu kita minta masyarakat untuk menabung sampah,” kata Tukidi.

Bank Sampah Gawe Rukun ini tidak seperti bank sampah pada umumnya. DI bank sampah ini, warga tidak hanya menabung sampah anorganik tetapi juga sampah organik. Di sini juga tersedia lahan palawija yang pupuk komposnya berasal dari pengolahan Bank Sampah Rukun Gawe.

“Kita tidak hanya menerima sampah kering, tapi juga tanaman basah yang mudah busuk untuk dijadikan pupuk kompos,” ujarnya.

Terkait soal pengelolaan uang, Bank Sampah Rukun Gawe tidak memberikan bergitu saja hasil penjualan sampah kepada masyarakat, melainkan diputar kembali untuk membangun UKM dan KM masyarakat sekitar. Yang lebih menarik lagi, warga bisa membayar listrik dan pulsa dari sampah.

BACA :  Alami Cerebral Palsy, Achsan Terus Berkarya Raih Impiannya Menjadi Penyair

“Kita mendidik masyarakat untuk berwirausaha, jadi uang yang dihasilkan dari penjualan sampah kita gunakan lagi untuk usaha. Lalu masyarakat juga bisa bayar pulsa dan listrik dengan sampah itu,” ungkap Tukidi.

Tukidi mengakui, proses menyadarkan masyarakat akan pentingnya kebersihan, memang sangat sulit dan perlu kerja keras dalam waktu yang lama. Namun, dengan kegigihan dan kerja keras, kini bank sampah bisa tersebar ke 10 RW di Kelurahan Kunciran Indah, Kota Tangerang.

“Awalnya sangat sedikit warga yang mau mengumpulkan sampahnya. Namun, karena kerja keras dan sosialisasi terus menerus kepada warga akhirnya lama kelamaan warga antusias,” terangnya.

Kesuksesan Tukidi dan kawan-kawan mengelola sampah, menjadikan Bank Sampah Gawe Rukun tempat yang sering dikunjungi untuk edukasi. Tidak hanya dalam negeri melainkan juga sampai mancanegara.

BACA :  Abdul Aziz, Menggalang Kebaikan @SedekahHarian

“Sudah banyak yang berkunjung, ada dari kalangan mahasiswa, pejabat, bahkan pernah dari bank dunia,” ucapnya.

Di tangan orang-orang kreatif seperti Tukidi dan kawan-kawan, sampah tidak lagi akan menjadi ancaman. Namun, apa yang mereka lakukan diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk hidup nyaman, aman, bersih, dan hijau serta mengurangi dampak buruk sampah dari sumbernya.(Rus)




Photos

  • Videos


  • Video Redaksi
    Video Redaksi
    Video Redaksi
    Video Redaksi
    1 of 3
    Video Redaksi
    2 of 3
    Video Redaksi
    3 of 3
  • Terpopuler