Connect with us

OPINI

Peran Perempuan Dalam Politik Pembaharuan

Published

on

Sejarah telah mencatat bahwa dinamika gerakan perempuan adalah gerakan global dalam kerangka mengembalikan Optimisme, membangun kesetaraan dalam wadah gerakan yang terorganisir, bagai bola salju yang semakin waktu semakin membesar dan terus bergulir hingga sekarang.

Mau tidak mau, dunia harus membuka mata bahwa gerakan perempuan ada di setiap belahan dunia dan memiliki kekuatan tersendiri. Di Indonesia, perjuangan kaum perempuan dalam berjuang dan semangat nasionalismenya telah terbukti jauh sebelum kemerdekaan Indonesia terwujud.

Perempuan-perempuan Indonesia, seperti RA Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien dan banyak lagi, perlahan tapi pasti telah membangun gerbang-gerbang pemberdayaan perempuan menjadi gerakan yang semakin masif. Kongres Wanita 22 Desember 1928 menunjukkan kesadaran kaum perempuan untuk memberikan andil dalam perjuangan bangsa.

Keberhasilan perempuan dalam politik kini di catat oleh sejarah di dunia. Bagaimana Margareth Thatcher, yang merupakan salah seorang pemimpin perempuan dunia, mantan Perdana Menteri Inggris yang berkuasa pada era tahun 1980-an, dan membawa kemajuan ekonomi Inggris dalam politik dunia.

Kemudian di Timur Tengah ada Benazir Bhutto, Perdana Mentri Pakistan yang membawa pembaharuan bagi rakyat Pakistan. Dan di Asia, tercatat nama Corazon Aquino dan Gloria Macapagal Arroyo sebagai Presiden Filipina.

Dalam kondisi hari ini. Perempuan harus lebih berani tampil dengan gagagsan-gagasan yang genial, jangan sampai ada sikap skeptisme terhadap perempuan. Dalam persaingan global, semua anak bangsa dituntut oleh zaman untuk mampu memberikan ide yang konstruktif bagi semua orang. Ide yang bukan hanya untuk dirinya, golongannya, tetapi untuk semuanya.

“Khoirunnas Anfa ‘uhumlinnas”, Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain. (HR.Bukhari Muslim)

Perempuan Indonesia harus mampu membawa perubahan. Perempuan Indonesia harus berani tampil dan terampil dalam dinamika social politik, social ekonomi yang ada. Keberanian itu harus kita tunjukan dalam peranan kita dalam politik Idea kita.

Tidak sedikit perempuan di Indonesia yang jusrtu bekerja sebagai buruh migrant saja, korban Human Trafficking, dan korban kekerasan seksual. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran karena seharusnya perempuan mendapat perlindungan dan mempunyai peranan penting dalam aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pada periode Maret 2005 hingga Desember 2014, jumlah perdagangan manusia yang terjadi di Indonesia mencapai 6.651 orang. Jumlah tersebut paling besar di antara negara-negara yang juga banyak terjadi kasus serupa.

Jumlah tersebut sekitar 92,46 persen, dengan rincian korban wanita usia anak sebanyak 950 orang dan wanita usia dewasa ebanyak 4.888 orang. Sedangkan korban pria usia anak 166 orang dan pria dewasa sebanyak 647 orang. Dari jumlah itu, 82 persen adalah perempuan yang telah bekerja di dalam dan luar negeri (International Organization for Migration (IOM).

Belum lagi jika kita berbicara tentang kekerasan sekual terhadap perempuan yang makin marak. Komas Perempua mencatat pada tahun 2015, terdapat 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan, artinya 881 kasus terjadi setiap hari. Angka tersebut didapatkan dari Pengadilan Agama sejumlah 305.535 kasus dan lembaga mitra KomnasPerempuan sejumlah 16.217 kasus. Jumlah tersebut meningkat 9% dari tahun sebelumnya.

Apalagi Indonesia sedang mengalami bonus demografi yang ditandai dengan jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan usia non produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun). Puncak bonus demografi di Indonesia akan terjadi pada tahun 2020-2030. Menurut Adioetomo (2011), bonus demografi terjadi dari proses transisi demografi karena penurunan fertilitas (jumlah kelahiran) dan mortalitas (jumlah kematian) dalam jangkapanjang, sehingga terjadi perubahan struktur umur penduduk.

Perempuan Cerdas Indonesia harus diberikan kepercayaan, harusdiberikan ruang dan waktu untuk menuangkan pemikirannya. Karena, bukan tidak mungkin perempuan Indonesia akan melahirkan pemikiran yang lebih Progresif dan Revolusiner seperti para pemimpin dunia yang telah ada.

Bangsa Indonesia, harus bias menjawab persoalan social yang ada dengan memberikan kepercayaan kepada public dan dunia,bahwa perempuan Indonesia juga mempunyai kualitas dan mampu bersaing dengan bangsa lain.

Harapan saya mari kita melihat peranan kita sebagai anak bangsa untuk membangun sebuah pembaharuan yang terjadi di depan kita. Mari kita berbuat untuk kemajuan zaman.  “Karena setiap zaman ada orangnya dan setiap orang ada zamannya. Jika orang baik hanya diam, maka orang jahatlah yang berkuasa (Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan)

Penulis adalah: Nena Nurmala Diana, Mahasiswi Semester VI STIE La Tansa Mashiro Rangkasbitung, Kabupaten Lebak dan anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Lebak.

Trending