Connect with us

METROPOLITAN

Mencari Keringanan Biaya Berobat, Ibu Miskin di Pandeglang Gendong Balita Kritis

Published

on

Banten Hits – Pemandangan yang terjadi di Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigarsi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Pandeglang, Rabu (12/10/2016) siang, sungguh memilukan. 

M. Faisal (2), balita anak Lilis Nur’aeni (24), warga Kampung Mauk, RT 001/003, Kelurahan Juhut, Kecamatan Karang Tanjung, Kabupaten Pandeglang, kondisinya kritis setelah menderita cerebal palsy atau kelumpuhan otak besar. Dalam kondisi kritis, dia digendong-gendong sang ibu yang mengupayakan kesembuhannya lewat program-program pemerintah.

Siang itu Lilis datang ke Dinsosnakertrans Kabupaten Pandeglang untuk meminta dibuatkan Badan Penyelenggaran Jaminan Nasional  (BPJS) Penerima Bantuan Iuran (PBI) supaya anaknya bisa menjalani perawatan medis di Puskesmas Karangtanjung dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Berkah Pandeglang. Namun ternyata kuota BPJS PBI di Dinsosnakertrans sudah habis.

BACA :  36 Ambulans di Dinkes Pandeglang Nunggak Pajak, Dua Pejabatnya Kompak Berdalih Tidak Tahu

BACA JUGA: Kuota BPJS KIS Habis, Warga Miskin di Pandeglang Dilarang Sakit?

Sehari sebelumnya Lilis sudah membawa anaknya yang kritis ke Puskesmas Karangtanjung dengan membawa Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari Kelurahan Juhut. 

Setibanya di Puskesmas Karangtanjung, dokter puskesmas menyarankan supaya Lilis mendatangi D‌insosnakertrans untuk dibuatkan BPJS PBI. Dia juga mendapat rujukan ke RSUD Berkah Pandeglang. 

Dengan menggendong anaknya yang sedang kritis, Lilis pun menuruti saran dokter di puskesmas itu.

“Kata dokternya (Puskesmas) ke dinas sosial, awalnya saya takut karena saya gak tahu harus bagaimana,” kata Lilis kepada Banten Hits di Kantor Dinsosnakertrans Pandeglang sambil menetaskan airmata.

Lilis mengatakan, penyakit yang dialami putranya sudah diketahui oleh petugas posyandu. Bahkan, setiap kali ada kegiatan suntik polio, anaknya menjadi perhatian khusus.

BACA :  DBM Lebak Benahi Jalan Lingkar Selatan Rangkasbitung

Hari ke hari penyakit yang diderita M. Faisal semakin parah. Setiap kali bocah ini bernapas, saluran pernafasannya seperti tersumbat dan kedua kakinya semakin kurus.

Lilis tak bisa berbuat banyak untuk kesembuhan anaknya itu. Penghasilan keluarganya hanya bergantung pada upah Afendi, sang suami yang bekerja sebagai pesuruh kebersihan di Jakarta.

Saat di Kantor Dinsosnakertrans Pandeglang itu, Lilis bertemu dengan Koordinator Pandeglang Care Moment (PCM) Relawan Gerakan Sedekah Gotong Royong (GSGR) Pandeglang dan meminta untuk dibuatkan SKTM dari Dinsosnakertrans untuk dirawat ke RSUD berkah. Anak Lilis pun akhirnya mendapat perawaan setelah didampingi relawan PCM dan GSGR bersama dua pegawai Dinsos Pandeglang, Hati dan Enong.

BACA :  Ketua Satgas Covid-19 'Tumbang' usai Wara-wiri Tangani Bencana Gempa dan Banjir; Terkonfirmasi Tanpa Gejala

“Karena kondisi anaknya sangat darurat dan harus segera diambil tindakan untuk semetara kita fasilitatasi untuk di rawat ke RSUD bermodalkan SKTM dari Dinsos. Saat ini memang pasien sudah dirawat di rumah sakit menggunakan STKM dengan jaminan kami sebagai relawan,” ungkap Koordinator Pandeglang Care Moment (PCM) Ahmad Subhan.

Suhban menyesalkan kejadian ini. Pasalnya, untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ibu pasien harus menempuh beberapa alur yang harus ditempuh sambil menggendong balitanya yang tengah kritis. Dia pun mendorong kepada instansi terkait supaya lebih responsif terhadap peristiwa kemanusiaan semacam itu.(Rus)

 



Terpopuler