Connect with us

METROPOLITAN

Rusia dan NATO Akan Ujicoba Teknologi Militer Temuan Dosen Untirta

Published

on

 

Banten Hits – Kabar membanggakan untuk masyarakat Indonesia, khususnya Banten datang dari Estonia, sebuah negara pecahan Rusia yang kini masuk kawasan Eropa Utara. 

Agus Pramono, Dosen Teknik Metalurgi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang, kandidat Ph.D dari Institute Mechanical Engineering Tallinn University of Technology, berhasil menemukan teknologi milter termutakhir melalui sebuah riset di laboratoriumnya di Estonia.

Teknologi militer termutakhir temuan dosen yang dikenal hobi bermain musik ini disebut teknologi Repetitive Press-Roll Forming (RPRF). Teknologi ini tengah menjadi topik hangat di kalangan akademisi di kawasan Rusia dan Eropa.

Bahkan, dalam waktu dekat, teknologi ini akan diujicobakan Rusia dan NATO bersama dengan temuan negara-negara lain, seperti Jerman, Inggris, dan Tiongkok.

“Sebenarnya proyek ini proyek rahasia. Menururt informasi dari ketua tim proyek kami yang bekerja pada Perusahaan perangkat kemiliteran Lyulka SATURN di Moscow, Rusia pada pertengahan tahun 2017 metode ini akan diuji coba oleh Rusia dan NATO,” kata Agus Pramono melalui surat elektronik kepada Banten Hits.

Apa sebetulnya teknologi militer RPRF?

BACA :  HMI Dorong Kader Maju di Musda KNPI Kabupaten Tangerang

RPRF ditemukan 2015 oleh Agus Pramono. Teknologi ini merupakan temuan untuk menjawab tuntutan peralatan militer yang ringan untuk efisiensi proses serta memiliki machinery lifetime system, sesuai standarisasi peralatan militer dunia tercanggih, MIL-HDBK 13C5G/217-F.

RPRF merupakan hasil pengembangan sejumlah temuan sebelumnya, di antaranya hasil temuan perusahaan Eropa seperti Metallicum yang telah mengkhususkan diri dalam logam berstruktur nano. 

Material ini teridentifikasi lebih dari 100 pasar khusus untuk nano metals dalam bidang aerospace, transportasi, peralatan medis, pengolahan produk olahraga, makanan dan bahan kimia serta bahan bahan piranti elektronik.

Sebelumnya juga ada teknologi yang mampu menghasilkan perlengkapan militer dengan material berkekuatan tinggi. Teknologi ini bernama Simple Shear Extrusion (SSE) ditemukan Niema Pardis pada 2012. Eksperimennya dilanjutkan Amirkhanlouf, mahasiswa doktoral dari Institute of Materials and Manufacturing Brunel University London. Hasil eksperimen lanjutannya dikenal Accumulative Press Bonding (APB).

BACA :  Takut Dibunuh Suami, Seorang Wanita Terjun dari Kapal Jagantara

“Dalam perkembangan lain, ilmuwan Jepang Nubohiro Tsuji juga mengembangkan teknologi baru yaitu Accumulative Roll Bonding (ARB), aplikasi dari teknologi ini lebih mengarah pada spare part body tank, pesawat tempur maupun kendaraan lapis baja kekuatan tinggi,” ungkapnya.

Nah, jika teknologi RPRF merupakan pengembangan teknologi-teknologi sebelumnya, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya peralatan militer yang dibuat dengan teknologi ini.

“Eksperimen ini dilakukan dalam kurun waktu tiga setengah tahun. Semua eksperimen telah dilakukan di laboratorium tempat saya menuntut ilmu (Estonia),” terangnya.

Agus menjelaskan, beberapa uji coba telah dilakukan mulai dari uji coba menggunakan beberapa jenis material yang berbeda. Pada percobaan terakhir eksperimen RPRF mampu menghasilkan produk logam dan komposit yang memiliki kekuatan tinggi dengan bahan yang ringan. 

BACA :  Tahun Ini, Pemkot Tangerang Bangun Lagi 7 Puskesmas dan Gedung Sekolah Baru

“Sifat ringan dan kekuatan tinggi tersebut memenuhi kriteria dari pengembangan teknologi produk komposit untuk aplikasi perangkat kemiliteran yang saat ini sedang dikembangkan oleh Rusia dan NATO,” ungkapnya.

Menurut Agus, pada pertemuan dengan Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof. Muh Nasir di KBRI Finlandia April 2016, Agus sempat menyampaikan hasil risetnya untuk aplikasi alutsista di Indonesia.

Dia berharap Indonesia juga menerapkan metode RPRF untuk perangkat kemiliteran pada proses fabrikasi dan manufaktur, karena saat ini Indonesia perlu menetapkan standarisasi dan spesifikasi perangkat kemiliteran yang sesuai dengan sektor pertahanan darat, laut dan udara.(Rus)



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler