Connect with us

METROPOLITAN

Perjuangan Bidan Puskesmas Cigeulis Pandeglang Dampingi Balita dengan Benjolan Aneh

Published

on

 

Banten Hits – Seorang balita di Pandeglang, Jahri (4), anak ketiga Ijah (45), warga Kampung Tarikolot, Desa Tarumanegara, Kecamatan Cigeulis,  Kabupaten Pandeglang, menderita penyakit aneh sejak kecil berupa benjolan di wajahnya.

Dua tahun silam Jahri sempat dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Berkah Pandeglang, namun tidak tertangani secara serius.

BACA JUGA: Miliki Benjolan Aneh di Wajah, Balita di Cigeulis Pandeglang Butuh Bantuan

Hingga kini, balita malang itu belum bisa menjalani perawatan medis yang memadai karena berbagai kendala. Meski demikian, sejumlah pihak sudah berupaya untuk memperjuangkan kesembuhan Jahri, di antaranya Aam Amanah, seorang Tenaga Kerja Kontrak (TKK) di Puskesmas Cigeulis.

Aam yang tinggal di Jalan Raya Tanjung Lesung, KM 7, Citeureup, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang patut menjadi sosok inspirasi untuk pegawai di intansi pemerintah.

BACA :  Tarif PSC Terminal Domestik Bandara Soetta Naik 70 Persen Lebih Per 1 Maret 2018

Pasalnya, dengan segala keterbatasan kemampuanya dari gaji tempatnya bekerja yang tidak seberapa, bidan Aam–begitu biasa ia disapa–memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap warga yang kurang mampu di tempat tinggalnya. 

Saat berbincang dengan Banten Hits dan aktivis Pandeglang Care Movement (PCM), Jumat (6/1/2016), Aam menceritakan bagaimana dirinya mendampingi Jahri (4), balita yang memiliki benjolan aneh di wajahnya.

Aam mengaku sebelumnya tidak mengenal Ijah, janda yang sedang berjuang membesarkan ketiga anaknya tersebut. Dia dipertemukan dengan Ijah di angkutan umum saat hendak berangkat kerja. Saat itu Ijah hendak menuju ke puskesmas untuk memeriksa anak bungsu yang memiliki benjolan aneh tersebut.

“Awalnya saya gak kenal, pas saya mau berangkat kerja di angkot ketemu dia (Ijah) sedang gendong Jahri. Lalu saya tanya-tanya dan saya sarankan untuk segera diperiksa,” kata Aam kepada Banten Hits.

BACA :  Kuasa Hukum Yakin Tata Sopandi Bukan Pelaku Utama Kasus Tunjangan Daerah Pandeglang

Setelah pertemuan pertama di angkot, mereka intens berkomunikasi supaya Jahri segera mendapat penanganan serius dengan bantuan bidan desa di mana Ijah Tinggal.  Aam harus mondar mandir membuat Kartu Kelaurga (KK), KTP termasuk Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) untuk mendapatkan perawatan Jahri di rumah sakit.

“Saya bawa dia (ke rumah sakit), dan memikirkan bekal dia selama di sana. Itu bantuan yang saya kumpulkan dari teman-teman saya di kantor,” katanya.

Setelah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Berkah, pihak RSUD menyarankan supaya Jahri dirujuk ke RSCM Jakarta. Dengan begitu dirinya harus menyiapkan persyaratan lain dengan membuatkan Badan Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan (BPJS)  mandiri terhadap ketiga anak ijah yang saat ini dia selalu rutin bayarkan tiap bulan.

BACA :  400 Paket Bantuan Disalurkan ke Masyarakat Pra-sejahtera di Tigaraksa

Aam mengatakan, setiap kali bertanya kepada Ijah soal kesiapan untuk dirujuk ke RSCM, Ijah kerap beralasan belum siap. Aam, memahami alasan janda beranak tiga tersebut karena dia tidak memilki biaya hidup selama di Jakarta.

Karena kendala itu, perjuangan Aam pun kini terhenti. Sebagai pawai non PNS dan memiliki banyak keterbatasan, Aam mengaku belum maksimal membantu Jahri supaya mendapatkan pengobatan.

“Saya perawat biasa gaji saya hanya Rp 300.000. Itulah alasan saya gak maksimal. Karena kemampuan saya hanya segitu,” ungkapnya.

Jika Anda peduli dengan kesembuhan Jahri, saatnya Anda bergerak meneruskan perjuangan Aam.(Rus)

 



Terpopuler