Connect with us

METROPOLITAN

Kekerasan Seksual pada Anak Disebabkan Kurangnya Pengetahuan Reproduksi Seksual

Published

on

Tangsel – Kementerian Negera Pemberdayaan Perempuan (PP) dan Perlindungan Anak (PA) mencatat, sepanjang tahun 2016 ada 3.000 kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada anak.

Sementara data dari Polres Tangsel, ada 48 kasus serupa terjadi pada periode 2015-2016. Hingga April 2017, kepolisian mencatat sudah 16 kasus terjadi.

Asisten Deputi Perlindungan Anak Bidang Kekerasan dan Eksploitasi Anak Kemen PP dan PA Rini Handayani menjelaskan, salah satu faktor penyebab kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada anak dikarenakan kurangnya pengetahuan anak terhadap reproduksi sesksual yang dimiliki.

“Kebanyakan anak-anak belum mengetahui seberapa pentingnya reproduksi seksual yang dimiliki. Padahal pengetahuan tentang reproduksi itu merupakan pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap anak untuk melindungi dirinya,” tutur Rini, di sela kegiatan pengembangan P2TP2A, di RM Saung Serpong, BSD, Tangsel, Senin (8/9/2017).

BACA :  Berakhirnya Petualangan Gembong Curanmor

Rini menyebut, dikucilkan oleh lingkungan menjadi salah satu yang paling ditakuti anak korban kekerasan seksual ketimbang. Kondisi ini justru memicu trauma anak.

”Ketika saya tanya apakah mereka trauma pada kekerasan yang dialami. Jawabannya, mereka trauma dengan orang-orang terdekat yang mengucilkan, karena tidak sedikit orang-orang terdekat yang seharusnya menguatkan tapi justru menjauhi,” jelasnya.

Banyaknya kasus kekerasan seksual sambung Rini disebabkan mulai banyak anak maupun orangtua yang melaporkan kasus ini kepada petugas.

“Justru kalau anak tidak melaporkan ini akan menambah mereka semakin terpuruk,” ujarnya.

Rini mengimbau, semua pihak terutama orang terdekat melindungi semua anak Indonesia dan berkomitmen menerapkan prinsip non-diskriminasi terhadap korban kekerasan seksual.

BACA :  Ratusan Pencaker di Ibukota Banten Ramai-ramai Datangi Polres Serang Kota; Buat SKCK untuk Bekerja di Tengah Pandemi Corona

Sementara itu, Ketua P2TP2A Tangsel Herlina mengungkap pada tahun 2016 terdapat 136 kasus kekerasan, 70 persen diantaranya merupakan kekerasan seksual, 30 persen lainnya seperti KDRT.

“Di awal tahun 2017, ada 25 kasus. Korbannya didominasi usia 3-15 tahun. Pelakunya dewasa dan anak, itu orang terdekat,” imbuhnya.(Nda)



Terpopuler