Connect with us

METROPOLITAN

Kajian HMI untuk Kota Tangerang; Ada Apresiasi Juga Ada Catatan Hitam dengan Garis Tebal

Published

on

Tangerang LIVE room

FOTO: Diskominfo Kota Tangerang

Tangerang – Kota Tangerang Rabu (28/2/2018) ini berulang tahun yang ke-25. Sebuah usia yang tidak lagi muda untuk ukuran sebuah kota, yang kebetulan secara geografis berbatasan langsung dengan ibukota negara: Jakarta.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tangerang sebagai salah satu komponen di Kota Tangerang, memaparkan kajian terkait kota yang tengah dipimpin duet Arief Wismansyah-Sachrudin ini.

“Selama 25 Tahun Kota Tangerang telah memiliki empat orang wali kota. Sudah banyak prestasi yang diraih oleh Kota Tangerang, baik dalam hal infrastruktur dan pelayanan terhadap masyarakat Kota Tangerang. Kota Tangerang terus bertransformasi untuk menjadi smart city. Mulai dari menyediakan layanan yang mudah diakses masyarakat hingga mewujudkan pemerintah yang bersih dengan keterbukaan informasi,” tulis HMI di awal kajian yang salinannya diterima Banten Hits.

Menurut HMI, konsep smart city yang mulai dijalankan Pemerintah Kota Tangerang sejak awal tahun 2016 melalui pembuatan Tangerang LIVE Room, sejalan dengan visi Tangerang LIVE yang merupakan akronim dari Liveable, Investable, Visitable, dan E-City berbasis teknologi, informasi dan komunikasi (TIK). Konsep ini telah menjadikan sistem kerja pegawai dan pelayanan di masyarakat menjadi lebih cepat, efesien dan efektif.

BACA :  Lagi Keliling Kampung, Kades Cikamunding Tiba-tiba Ditagih 'Utang' Pulsa Oleh Warga; Ternyata

“Himpunan Mahasiswa Islam khususnya HMI Cabang Tangerang sebagai organisasi kemahasiswaan yang aktif dalam hal perkaderan untuk mempersiapkan pemimpin di masa yang akan datang, selalu konsisten mendukung segala kebijakan Pemerintah Kota Tangerang ke arah yang lebih baik demi kemajuan kota,” ungkap HMI.

Setelah mengungkapkan apresiasi untuk langkah-langkah maju yang telah ditempuh Pemkot Tangerang, HMI kemudian menyampaikan, dukungan mereka bukan berarti harus diam dengan permasalahan yang ada.

Sesuai dengan fungsi mahasiswa sebagai agent of control atau fungsi control sosial, HMI Cabang Tangerang bertepatan dengan HUT Kota Tangerang ke-25 , menyampaikan sejumlah masukan dan saran kepada Pemerintah Kota Tangerang sebagai bentuk sumbangsih.

Salah satu yang disoroti HMI adalah soal transportasi massal Kota Tangerang dengan mengoperasikan Bus Rapid Transit. Disebutkan dalam kajian HMI, Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Perhubungan mengoperasikan Bus Rapid Transit (BRT) Koridor I, rute Poris Plawad–Jatiuwung.

BACA :  Tangkap Empat Pemuda, Polisi Sita 1,8 Kilogram Ganja

Bus BRT yang diberi nama Trans Kota Tangerang ini disiapkan untuk melayani kebutuhan transportasi masyarakat Kota Tangerang. Ada sekitar 20 Halte yang dibangun sekitar koridor BRT. Namun, menurut HMI, niat baik tersebut belum tepat dan terindikasi buang-buang anggaran.

Penulisan kalimat “belum tepat dan terindikasi buang-buang anggaran” dalam kajian HMI ditulis dengan huruf besar dengan ditebalkan.

“Kenapa hal ini bisa kami sampaikan? (Alasannya), karena belum efektifnya pengelolan BRT. Kita bisa lihat BRT yang tiap hari lewat hanya ditumpangi oleh satu atau dua orang penumpang. Ditambah jalur yang dilewati oleh BRT adalah jalur yang sama dengan jalur angkutam umum lainnya. Keberadaan halte yang tidak sesuai dan tidak dapat dipergunakan, sehingga seringkali masyrakat naik BRT bukan dari halte yang telah disediakan melainkan naik di pinggir jalan. Dana yang disiapkan miliaran rupiah terbuang sia-sia begitu saja hanya untuk BRT,” tegasnya.

BACA :  Arief: Persoalan di Banten Tak Bisa Dipecahkan Secara Parsial

Terkait hal itu, HMI memberikan sejumlah masukan untuk Kota Tangerang, terutama dinas perhubungan:

1. Mengevaluasi keberadaan BRT, apakah sudah tepat untuk kebutuhan masyarakat Kota Tangerang.
2. Mengatur ulang koridor BRT yang ada, sehingga tidak tumpang tindih dengan jalur angkutan umum lainnya.
3. Mengevaluasi keberadaan Halte yang tidak pada posisi yang strategis, termasuk juga memperhatikan halte BRT yang di depannya masi dipergunakan sebagai lahan parker.
4. Mendorong agar Pemerintah Kota Tangerang agar membentuk sebuah perusahaan yang menangani Transportasi massal di Kota tangerang seperti layaknya PT. Bus Transjakarta, hal ini adalah untuk menghindari konflik kepentingan sehingga BRt dikelola oleh Profesional
5. Menggalakan himbauan kepada masyarakat untuk menggunakan BRT dengan segala kemudahan sehingga BRT menjadi kebutuhan yang menjawab tantangan zaman disbanding moda transportasi lainnya.



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler