Connect with us

METROPOLITAN

Tak Ada yang Lebih Tabah dari Juli; Rumah Tak Layak Huni, Anak Depresi

Published

on

JULI PETANI MISKIN DI PANDEGLANG

Juli (60), petani miskin di Pandeglang yang tinggal di gubuk tak layak huni, menunjukkan foto anak ketiganya, Urip yang tidak diketahui keberadaannya.(Banten Hits/ Engkos Kosasih)

Mendengarkan kisah hidup pasangan petani miskin Juli (60) dan Miti (46), kemudian menyaksikan langsung kondisi kehidupan mereka, segera saja perasaan diseret ke dalam kepiluan. Kehidupan mereka ibarat nyanyian duka yang menggedor-gedor rasa iba.

Sepertinya hanya tinggal semangat yang masih terlihat kuat terpancar dari keluarga miskin yang tinggal di Kampung Pasir Waru, Kelurahan Kalang Anyar, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang ini. Sementara, tiang-tiang gubuk berukuran 6×4 meter yang mereka huni hanya tinggal menghitung hari untuk ambruk.

Rabu, 7 Maret 2018, di atas tanah yang menjadi lantai ‘rumahnya’, Juli duduk bersila, kemudian membagi cerita hidupnya dengan wartawan Banten Hits Engkos Kosasih.

Tepat di tengah gubuk, Miti tengah sibuk memasak di depan tungku. Beberapa saat kemudian, asap dari tungku mengepul memenuhi seisi gubuk. Obrolan pun sesekali diwarnai dengan batuk-batuk karena dada tak kuat menahan sesak asap kayu bakar.

BACA :  Sudah Tiga Bulan Tak Gajian, Guru-guru Honorer di Kab. Tangerang Ngadu ke DPRD

“Bisa makan sehari-hari saja sudah alhamdulilah. Cuma suka kasian sama cucu saya, mereka sering batuk-batuk karena pengap terkena asap dari tungku. Ya mau gimana lagi kami terpaksa memasak menggunakan tungku karena keadaanya begini,” kata Juli sambil menunjuk bayi berusia dua minggu yang merupakan cucu keduanya.

Memandang sang cucu yang tengah tidur di atas tanah dengan alas kain, ingatan Juli langsung tersambung dengan sosok anak ketiganya, Urip yang hingga saat ini tak diketahui lagi keberadaannya.

Beberapa tahun lalu, Urip pergi setelah mengalami depresi akibat dipukuli massa setelah dituduh mencuri motor. Di kemudian hari tuduhan terhadap Urip ternyata keliru.

Jika masih hidup, kata Juli, Urip saat ini usianya 24 tahun. Dia sudah berusaha mencari anaknya itu namun tak kunjung ketemu.

BACA :  Bupati Iti Angkat Bicara soal Pemukiman Penduduk Rangkasbitung Sering Terendam Banjir, Ternyata ...

“Saya rindu Urip,” suara Juli terdengar bergetar. Meski tak ada airmata, dari wajah Juli terlihat kesedihan yang mendalam.

Meski sudah puluhan tahun menghuni gubuk dan tercatat sebagai warga Kabupaten Pandeglang, namun keluarga ini tidak pernah tersentuh program pemerintah, seperti rumah tinggal layak huni (RTLH) dari pemerintah setempat. Padahal, pengentasan kemiskinan menjadi salah satu target yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten Pandeglang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2016-202.

“Belum pernah mendapat RTLH, kalau didata mah setiap tahun juga didata, tapi buktinya sampai sekarang belum juga ada bantuan, kalau bantuan dari pemerintah cuma dapat Rastra (Beras Sejahtra) tiap bulan,” kata Juli, Minggu (11/3/2018).

BACA :  LPA Kesultanan Banten Ingin Rencana Revitalisasi Diikuti Perubahan Mental Dzuriyyat dan Warga Sekitar

Juli berharap, pemerintah dapat membantu perekonomian keluarganya, karena penghasilannya sebagai buruh tani tidak cukup untuk membangun rumah yang diisi oleh anak dana cucu-cucunya.

“Tidak berharap banyak sih, cuma ingin rumah saya ada yang memperbaiki saja, karena pengahsilan saya hanya cukup untuk makan. Itu juga bagian depan rumah sampai ambruk karena di biarkan begitu saja,” ujarnya penuh harap.

Kasi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Kelurahan Kalang Anyar A Santosa mengaku sudah beberapa kali mengajukan bantuan RTLH untuk Juli. Bahkan pada tahun ini, menurut Santosa, 150 RTLH sudah di ajukan ke Dinas Sosial dan Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Pandeglang.

“Saya akui keadaannya memang memprihatinkan dan layak untuk dibantu, tapi gimana kita hanya bisa berupaya saja, karena validasi dan verifikasinya ada di dinas,” jelasnya.

Pernyataan Santosa memang terdengar klise, seperti tengah mengulang-ulang ucapan ketika muncul kisah-kisah pilu serupa. Adakah yang lebih tabah dari Juli dan Miti?

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

Terpopuler