Connect with us

METROPOLITAN

Kader Muhammadiyah Banten Bergejolak, Giliran AMM Desak Prabowo Subianto Evaluasi Desmond

Published

on

KADER MUHAMMADIYAH BANTEN BERGEJOLAK. KOORDINATOR AMM BANTEN SUPARTA KURNIAWAN MINTA PRABOWO EVALUASI DESMOND

Kader Muhammadiyah Banten yang tergabung dalam Angkatan Muda Muhammadiyah atau AMM Banten melalui Koordinator AMM Banten Suparta Kurniwan mengeluarkan pernyataan resmi terkait pernyataan Desmond Junaidi Mahesa.(FOTO: Istimewa)

Serang – Pernyataan aktivis 98 yang juga Ketua DPD Partai Gerindra Banten Desmond Junaidi Mahesa yang dianggap menyinggung Amien Rais mendapat sorotan dari kader Muhammadiyah Banten.

Setelah Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Pandeglang Ilma Fakwa mengeluarkan pernyataan, giliran Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Banten, DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Banten dan IPM Banten yang tergantung dalam Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Banten mengeluarkan pernyataan serupa.

AMM Banten menilai, ucapan Dasmond berpotensi membuat gaduh anak bangsa.

“Kami menilai ucapan Desmond tersebut tidak memberikan contoh baik dan tidak berdampak positif justru berpotensi membuat kegaduhan baru antara anak bangsa,” kata Koordinator AMM Banten Suparta Kurniwan dalam keterangan tertulis yang diterima Banten Hits, Rabu, 9 Mei 2018.

BACA :  Murid Pembacok Guru dan Ketua Yayasan Darussalam Panongan Dipastikan Dikeluarkan dari Sekolah

AMM Banten mendesak Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengevaluasi Desmond dan meminta supaya Desmond meminta maaf kepada warga Muhammadiyah.

“Mendesak Ketua Umum Partai Gerinda untuk mengevaluasi Desmond Mahesa dan meminta Desmond Mahesa untuk menyampaikan maaf kepada warga AMM muhammadiyah,” tegasnya.

Suparta mengatakan, Amein Rais tentu bukan satu-satunya tokoh penggerak reformasi, karena ada tokoh-tokoh lain yang menjadi satu kesatuan dalam gelombang reformasi tersebut.

Amien Rais saat menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1995-1998), lanjut Suparta, melihat kondisi politik dan perekonomian yang sudah terlanjur membusuk dan sangat tidak sehat bagi demokratisasi.

“Sehingga mendorongnya mengambil langkah berani yang tidak popular dan bersuara lantang tentang silang sengkarut praktik KKN di tubuh birokrasi serta ekspoitasi serakah kekayaan negeri yang sangat merugikan Negara,” terangnya.

BACA :  Pemkot Tangerang Pastikan Proyek PLTSa Berlanjut

Kehadiran Amien Rais di Muhammadiyah dengan lompatan-lompatan gagasannya justru dianggap sejalan dengan watak gerakan pembaharuan yang kritis dan kolektif. Hal itu kemudian mendapat dukungan penuh. Maka Tanwir Muhammadiyah tahun 1993, di hadapan peserta Tanwir Muhammadiyah di Surabaya Amein Rais kembali menggulirkan isu besar, yakni perlunya suksesi kepemimpinan nasional.

“Sebuah langkah janggal pada saat itu sebab gurita kepemimpinan Orde Baru masih sangat mencengkram. Keberaniannya mengambil langkah risiko yang tak jarang bahkan mengancam jiwanya. Sebagai sikap amal maruf nahi munkar yang sesungguhnya amanat dan sekaligus ruh gerakan dakwah Muhammadiyah. Gelombang suksesi kepemimpinan nasional menjadi magnet Amien Rais dari seminar ke seminar dari kampus ke kampus, sehingga arus besar gelombang reformasi itu bergulir massif,” terangnya.

BACA :  Respons Wapres Ma'ruf Amin setelah Diminta Bantuan soal 35 Puskesmas di Pandeglang Kekurangan Tabung Oksigen dan Obat

Dengan demikian, tak heran jika sosok Amien Rais menjadi tokoh sentral gerakan reformasi tumbangnya Rezim Soeharto. Sejak Amien Rais menduduki jabatan ketua MPR RI 1999-2004, telah terjadi amandemen 4 kali UUD yang merupakan rangkaian bagian agenda reformasi untuk menuntasakan agenda bangsa yang harus dikawal oleh anak bangsa. keputusan itu tidak berdiri tunggal seorang Amien Rais tetapi keputusan kolektif kolegial Pimpinan MPR RI.

Dari gambaran tersebut, sambungnya, sosok Amien Rais tidak berdiri sendiri dalam melakukan konsolidasi kepemimpinan nasional. Kelompok mahasiswa sebagai kelompok cendikiawan progresif dan visioner mendominasi gerakan gelombang arus besar reformasi dan kelompok-kelompok lain yang tidak bisa dipisahkan menjadi kesatuan runtuhnya Rezim Soeharto.

“Jadi, pernyataan yang disampaikan Desmond terkait Amien Rais sebagai pecundang reformasi tidaklah tepat dan keliru serta penuh rasa kebencian. Pernyataan Desmond selaku wakil rakyat dan elit di Partai Gerindra tentu harus menjadi perhatian serius oleh internal Partai Gerindra,” cetusnya.(Rus)



Terpopuler