Connect with us

METROPOLITAN

Hinca Panjaitan Resmi Dilantik sebagai Doktor Hukum di Wisuda ke-XXXIII UPH

Published

on

HINCA PANJAITAN RESMI DILANTIK SEBAAI DOKTOR HUKUM DI WISUDA KE-XXXIII UPH KARAWACI

Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan berfoto bersama anaknya Qanszelir Gabriel Bataranotti Pandjaitan XIV. Hinca yang lulus doktor hukum 22011 lalu mengikuti wisuda ke-XXXIII UPH bareng bersama anaknya yang lulus hubungan internasional dengan gelar S.Sos pada 9 juni 2018.(FOTO: Istimewa)

Tangerang – Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan resmi dilantik sebagai doktor hukum setelah mengikuti Wisuda ke-XXXIII Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci.

Dalam keterangan pers yang diterima Banten Hits dari UPH Karawaci, Hinca yang juga tokoh sepakbola Indonesia ini diwisuda bersama 2.289 mahasiswa UPH lainnya pada 9 Juni 2018.

Hinca sebetulnya telah menyandang gelar doktor hukum sejak 2011 setelah lulus dari sidang doktor hukum dengan meraih IPK 3.97. Namun, Hinca rela menunda wisuda hingga tujuh tahun karena ingin wisuda bareng anaknya, Qanszelir Gabriel Bataranotti Pandjaitan XIV yang lulus Hubungan Internasional (HI) UPH dengan gelar S.Sos.

BACA :  231 Calon Jemaah Haji Lebak Berisiko Tinggi

Menurut Hinca, UPH mampu memiliki sistem pendidikan yang mampu memfasilitasi kekhususan minat yang dimiliki para hasiswanya.

“Sebagai awal, alasan saya memilih Doktor Hukum UPH karena saya menggeluti bidang sport. Dan waktu itu bidang ilmu hukum di bidang sport atau yang disebut lex sportiva (implementasi undang-undang olahraga antar bangsa) belum ada dalam studi doktor hukum universitas mana pun. Singkat cerita saya memilih UPH karena saya memandang UPH menempatkan kerangka sport sebagai salah satu yang dianggap penting. Tidak heran UPH memiliki lapangan sepak bola, renang, gym, dan fasilitas olahraga lainnya. Jadi saya lihat UPH merupakan kampus modern dan visioner ke depan,” ungkapnya.

BACA :  Rumah Kapten Pilot Trigana Air di Curug Tangerang Mulai Dikunjungi Pelayat

Selain sebagai politisi, Hinca yang juga merupakan Direktur Indonesia Lex Sportiva Instituta, Jakarta ini juga menjelaskan irisan antara hukum dengan olahraga.

“Menggeluti bidang olahraga, saya tidak belajar teknis olah raga seperti cara menendang bola. Saya belajar filosofinya. Di mana prinsip-prinsip hukum yaitu respect, justice, dan fairness ada dan berlaku juga sebagai prinsip olah raga. Di Doktor Hukum UPH sendiri saya menekuni tata negara, di mana tata negara sebagai konsep yang menggerakan konsep bernegara untuk memajukan kesejahteraan umum. Dan saya melihat sport contohnya sepak bola mampu menjadi penggerak dan pembangun negara. Tidak hanya dunia perbankan yang mampu menghasilkan uang cepat, sport juga bisa,” paparnya.(Rus)

BACA :  Pemerintah Diminta Revisi Kriteria Guru Penerima Tunjangan Khusus



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler