Connect with us

METROPOLITAN

WH Dinilai Gagap Kelola Informasi, Pengamat Komunikasi Atih Adriansyah Sarankan Ini

Published

on

pengamat komunikasi atik adriansyah

Pengamat komunikasi politik Atih Adriansyah.(Istimewa)

Serang – Aksi boikot Radar Banten oleh Gubernur Banten Wahidin Halim melalui Tenaga Ahli (TA) Bidang Media dan PR Ikhsan Ahmad mendapatkan perhatian beberapa pihak. Salah satunya, Pengamat Komunikasi Politik Atik Adriansyah. Menurutnya, Tenaga Ahli Gubernur terlampau gagap mengolah komunikasi. 

“Kejadian ini merupakan peristiwa komunikasi. Dan Pemprov, melalui tenaga ahli bidang Media dan PR, terlampau gagap dalam mengolah komunikasi. Terutama dalam melakukan kontraopini,” ungkap Atih kepada Banten Hits, Senin 20 Agustus 2018.

Atih menerangkan, apa yang dimuat oleh Radar Banten dalam pemberitaannya, ia pandang sebagai sebuah konstruksi wacana. Maka pemerintah melalui Tenaga ahli Media dan PR mestinya menghadapi ini dengan mengkonstruksi wacana atau opini tandingan. 

“Jadi, opini publik dihadapi dengan opini publik,”terang Pengajar di Unma Banten. 

Menurutnya, keluarnya rilis berisi seruan boikot langganan, tak lebih pada kurang produktifnya, Ikhsan Tenaga Ahli bidang media dan PR dalam menciptakan opini sekaligus mendelivery-nya. 

“Okelah, kirim rilis mungkin salah satu tupoksi, tetapi saya yakin bahwa mengkonstruksi wacana, menggiring opini publik, memoles citra dan sebagainya juga masuk ke dalam tupoksi. Sekali lagi, saya memandang peristiwa ini merupakan peristiwa komunikasi. Sayang banget kalau pihak Gubernur tidak melakukan serangkaian kegiatan komunikasi pula,” bebernya. 

Atih berpandangan aksi boikot terhadap media Jawa pos grup untuk berlangganan ini tidak sebagai bentuk pembungkaman pers. RB masih bisa kok melakukan serangkaian kegiatan jurnalistiknya dan melakukan publikasi 

“Hanya saja, dari  pihak Radar Banten tentu ini menjadi kerugian besar karena memang hampir setiap OPD (Organisasi Perangkat Daerah)  dan turunannya berlangganan,”ujarnya. 

“Cuman, Frasa yang digunakan dalam rilis tsb terlalu menohok buat RB. Kata “boikot” itu terlampau sadis sehingga menihilkan kata/frasa lain yang, bagi saya, biasa-biasa saja. Dalam edaran, pihak Gub melalui TA-nya bilang bhw “masih banyak media lain yang bisa dijadikan rujukan bla..bla..bla”,tambahnya. 

Frasa lainnya selain “boikot” kan, bisa dikatakan beli atau berlangganan ke media yang lain. Jadi mau maknai secara mendalam, “boikot berlangganan” ini sebenarnya sebuah frasa untuk mewakili maksud “ganti berlangganan koran lain”. 

“Hanya, sekali lagi, pemilihan kata boikot ini, kalau dalam psikologi komunikasi telah menjadi stimuli yang intensitasnya paling tinggi atau paling menyedot perhatian sehingga menyamarkan atau bahkan menihilkan maksud yang lain,” pungkasnya.(Rus)

BACA :  SDN 1 Sumampir Cilegon Terbakar, Penjaga Sekolah Tewas


Terpopuler

Please disable your adblock for read our content.
Refresh