Connect with us

METROPOLITAN

Pembangunan Ruang Kelas SDN 2 Pasar Keong Dituding Serobot Lahan Kuburan

Published

on

Protes Ruang Kelas SDN 2 Pasar Keong

Bawa keranda mayat, warga mendatangi Kantor UPT Dindik Kecamatan Cibadak memprotes pembangunan ruang kelas SDN 2 Pasar Keong yang dinilai menyerobot lahan kuburan. (Banten Hits/Fariz Abdullah)

Lebak – Warga Desa Pasar Keong, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak memprotes pembangunan ruang kelas SDN 2 Pasar Keong, Rabu (24/10/2018).

Mereka meminta pembangunan ruang kelas baru (RKB) sekolah dihentikan sementara. Warga menuding, pembangunan menyerobot lahan Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang lokasinya persis di belakang sekolah yang sudah menjadi aset desa.

“Kami mendukung pembangunan RKB karena memang tujuannya sebagai bagian dari mencerdeskan generasi bangsa, tapi kami juga tidak ingin ada aset desa yang dialihfungsikan,” kata Entis perwakilan warga.

BACA :  Tim Dokkes Polres Serang Kota Berikan Pelayanan Kesehatan kepada Anggota yang Ikut Operasi Lilin Kalimaya 2019

Warga mendresak Dinas Pendidikan (Dindik) segera menyelesaikan dugaan penyerobotan lahan agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari.

“Kami minta lahan makam yang digunakan untuk RKB dikembalikan. Kami sudah mengundang UPT untuk bermusyawarah tapi tidak hadir. Kalau ada gejolak di masyarakat, berarti kepemilikan sertifikat lahan yang digunakan RKB ini bermasalah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala UPT Dindik Kecamatan Cibadak, Ahmad Samsudin membantah tudingan warga. Ia menegaskan, pembangunan RKB berada di lahan yang bersertifikat.

“Lahan pemakaman yang luasnya 2.789 meter ini kan sudah menjadi aset Pemkab Lebak dan sertifikatnya juga sudah ada sejak tahun 2008,” katanya.

Terkait dengan permintaan warga agar pembangunan dihentikan, Samsudin mengatakan, hal itu bukan dalam kewenangan UPT.

BACA :  Ali Dipastikan Kenal Siti Lewat FB

“Itu bukan ranah UPT. Secara hukum juga itu sudah betul karena berada di lokasi yang sesuai sertifikat. Adapun proses pembuatan sertifikat maupun pengajuan RKB saya tidak tahu karena dilakukan oleh kepala sekolah dan kepala desa lama,” pungkasnya.(Nda)



Terpopuler