Connect with us

METROPOLITAN

Setelah Tokoh Banten Kompak soal Bendera HTI, Giliran Peneliti LIPI Tuding Pembakaran Bendera Tauhid Dipolitisasi

Published

on

Peneliti LIPI Lili Romli

Peneliti LIPI Lili Romli saat menyampaikan keterangan kepada wartawan di Kota Serang. (BantenHits.com/ Mahyadi)

Serang – Peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia) Lili Romli menuding peristiwa pembakaran bendera berkalimat tauhid oleh anggota Banser di Garut dikapitalisasi untuk kepentingan politik. Bahkan, Lili juga menyebut reaksi atas pembakaran bendera berkalimat tauhid sebagai gejala politik identitas.

Pernyataan Lili disampaikan setelah sejumah ulama yang dikenal tokoh NU dan MUI di Banten ramai-ramai menyebut bendera yang dibakar Banser di Garut adalah bendera HTI. Pernyataan para ulama itu disampaikan saat gelombang unjuk rasa memprotes pembakaran bendera tauhid terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia.

BACA JUGA: Beda MUI Pusat dan MUI Banten Sikapi Pembakaran Bendera Berkalimat Tauhid

BACA :  Pengunjung Keluhkan Tarif Parkir Festival Al Azhom

“Saya kira gejalanya (politik identitas) sudah muncul, yang terakhir ketika terjadi pembakaran bendera HTI, kemudian dikapitalisasi diarahkan ke politik,” kata Lili kepada awak media di Kota Serang, Jumat, 26 Oktober 2018.

“Saya berharap masyarakat tidak terprovokasi. Bahwa pembakaran bendera itu suatu pelanggaran, itu biar diselesaikan oleh proses hukum jangan kemudian dikapitalisasi ini bisa menimbulkan perang saudara. Ini kan sesama muslim,” sambungnya.

BACA JUGA: Warga Tangerang Rela Menginap di Istiqlal demi Aksi Bela Tauhid

Terkait gejala kemunculan politik identitas ini, lanjut Lili, 30 persen masyarakat Indonesia mulai khawatir akan munculnya politik identitas ini. Lili juga menyebut, peluang munculnya politik identitas dan SARA di pilpres ini sangat besar sekali.

BACA :  Satu Warga Ibukota Banten Positif Covid-19, DPRD Sebut Seluruh Pembangunan di Kota Serang Disetop Sementara

“Saya berharap sih tadinya tidak terjadi di pilpres ternyata dengan kejadian pembakaran bendera kemudian itu dikapitalisasi kemungkinannya jadi besar,” katanya.

Untuk dapat menghindari adanya politik identitas dan SARA, lanjutnya, para elit politik diharapkan tidak mengangkat tema yang sensitif.

BACA JUGA: Caleg PDIP: Kades Kufur Nikmat kalau Gak Dukung Jokowi

“Politik identitas itu sensitif sekali. Bagai rumput savana yang mudah terbakar. Oleh karena itu di kalangan elit jangan dijadikan instrumen. Karena hal ini akan menimbulkan kemarahan yang luar biasa loyalitas sentimen yang tinggi,” jelasnya.

“Masyarakat yang panas ini jangan sampai dipanas-panasin. Masyarakat harus mawas diri jangan mau diprovokasi. Masyarakat sudah dewasa kedewasaan ini harus dipertahankan. Jadikan pilpres ini riang gembira jangan seperti mati hidup jangan ada perpecahan,” pungkasnya.

BACA :  Rumah Polisi Ditembaki

BACA JUGA: Sejumlah Ormas di Pandeglang Deklarasi Dukung Jokowi-Ma’ruf di Ponpes Al Muawanah Menes

Pilpres 2019 kembali menjadi ajang rivalitas Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Jokowi menggandeng Ma’ruf Amin yang berlatar belakang kiai dan menjabat sebagai Rois AM NU juga Ketua MUI. Sementara Prabowo menggandeng Sandiaga Salahudin Uno, mantan politisi Partai Gerindra juga wakil gubernur Jakarta.(Rus)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler