Connect with us

OPINI

Bangga Jadi Urang Lebak

Published

on

 

Dian Wahyudi

Anggota Fraksi PKS DPRD Lebak Dian Wahyudi. (Istimewa)

(Catatan dari Launching Kalender Budaya Lebak dan Temu Forum Lintas Pelaku Penggiat Pariwisata)

 
Beberapa waktu berselang, selama dua hari, saya diundang Dinas Pariwisata Lebak untuk menghadiri dua pertemuan, pertemuan unik, membahas hal yang memang unik, terkait dengan mewujudkan asa, menumbuhkan inovasi dan kreatifitas Pariwisata Lebak, yang menurut saya sebenarnya merupakan bagian dari keseharian kita, menikmati.
 

Menikmati segala ciptaan Allah SWT, Alam yang selalu membuat kita takjub, memuji, baik panorama, laut, pantai, hutan, gunung, sungai, air terjun, berbagai budaya, kearifan lokal, inovasi, seni kreatif, menjadi bagian destinasi wisata unik Lebak.
 
Undangannya juga ngeri, diundang sebagai Tokoh Wisata, sebenarnya saya lebih suka diundang sebagai penikmat (ups) Destinasi Curug (Air Terjun), kearifan lokal dan ekonomi kreatif warga lokal. Hadir dari berbagai penggiat pariwisata di Lebak dari mulai Pengusaha Perhotelan, Kelompok Sadar Wisata, Balawisata, Genpi, Akademisi, Pers, para pemangku kebijakan lintas sektoral para Kepala Dinas, para pemangku kebijakan destinasi wisata (Camat, Kepala Desa), dll. 
 
Terundang pula Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Lebak, sebagai wadah pengembangan produk kerajinan unggulan yang berkualitas, yang saat ini cukup dirasakan mendongkrak pamor sektor pariwisata Lebak, ke depan semoga menjadi ikon Lebak, untuk terus menggali dan mengembangkan potensi kerajinan Lebak, meningkatkan kemampuan usaha pengrajin, meningkatkan kualitas dan desain produk kerajinan, utamanya memperluas jaringan pemasaran produk kerajinan baik dalam dan luar negeri. Harapan yang saya kira tidak berlebihan, karena saat ini pun, upaya itu telah menunjukan hasil yang menggembirakan.
 
Menyimak paparan Sekretaris Daerah (Sekda) Lebak, Kepala Bappeda Lebak, Kadis Pariwisata Banten, Kadis Pariwisata Lebak, Pengelola Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), serta pelaku wisata daerah lain yang diundang, saya bersyukur, sepertinya arah visi dan misi Lebak Unique serta Visit Lebak telah menuju arah yang tepat.
Bagaimana pariwisata Nasional, Banten dan Lebak terkoneksi berkembang sesuai harapan, bahkan didukung dengan percepatan infrastruktur seperti jalan tol Serang – Rangkasbitung – Panimbang yang saat ini dalam tahap pengerjaan, tentunya kabar prositif, menggegas ketertinggalan pariwisata Lebak dibandingkan daerah tetangga, seperti Pelabuhan Ratu dan Geopark Ciletuh di Sukabumi dan Tanjung Lesung di Pandeglang. Ke depan harapannya menjadi sinergi dalam satu kawasan paket wisata bagian Selatan.
 
Disamping Destinasi Wisata di Lebak yang telah populer, bermunculannya berbagai Destinasi Wisata berupa Hutan Adat, Wisata Hutan Pinus, dll, di kawasan TNGHS memberi semangat baru, semangat Desa Membangun berbasis wisata lebih berdaya. Semoga berefek manis (hhmm), ber-sinergi tanpa konflik pengelolaan, serta berefek bahagia (ahay), esensi-nya terutama dalam peningkatan Sumber Daya Manusia menjadi lebih bijak mengelola Alam. Seperti destinasi wisata baru, Hutan Adat Kasepuhan Cikarang, berupa kawasam hutan seluas 486 Ha, sebelumnya dikuasai oleh TNGHS, mulai dikelola dan dimanfaatkan oleh Masyarakat Adat Kasepuhan Karang sebagai kawasan wisata hutan, sejak 2016 yang lalu. Merupakan salah satu dari 9 Hutan Adat di Indonesia yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah, dan satu satunya yang ada di Pulau Jawa. 
 
Mengutip laman fesbukbantennews, ternyata hutan adat ini pertama di Indonesia yang pengelolaan dan pemanfaatan hutan adatnya untuk kawasan Wisata dan dikelola secara swadaya. Saat ini, mulai banyak didatangi oleh wisatawan dari luar, hutan ini juga menjadi tempat penelitian beberapa kampus di Indonesia, seperti Universitas Indonesia, IPB dan beberapa kampus lainya). Hutan Adat ini juga membuktikan bahwa Masyarakat Adat mempunyai kemampuan mengelola dan memanfaatkan potensi hutannya untuk kawasan wisata baru. Tak berlebihan, sesuai dengan slogan Hutan Adat, “Menjaga Hutan, Mengurus Bumi untuk Kehidupan semua Makhluk”. Konsep ini esensinya memberikan kekuatan kepada masyarakat adat untuk tetap menjaga dan merawat hutan. 
 
Ada wisata Hutan Damar yang teletak di kawasan Gunung Halimun Salak yang tidak jauh dari wisata alam Kebun Teh Cikuya. Hutan damar yang memiliki luas sekita 250 hektar, merupakan sebuah pusat pembibitan unggul, menjadi rumah bagi beberapa jenis pohon asli dan endemik yang langka, di antaranya pohon pinus, damar, pelawan, laban, meranti, mahuni. Menggandeng Pusat Studi Desa di Indonesia, dan Balai Penelitian Kehutanan yang ingin menjadikan sebagai wisata hutan pinus, sebagai upaya menjaga kelestarian hutan tropis dan keanekaragaman hayati. Kepala Desa hagarmanah optimistis bila hutan wisata edukasi mampu dikelola dengan baik dan profesional, maka wisatawan akan dengan sendirinya datang dan kawasan wisata ini akan menjadi ikon wisata andalan kabupaten Lebak.
 
Sedangkan yang sedang viral, Negeri diatas awan, urang Citorek menyebutnya Gunung Luhur di kampung Ciusul Desa Citorek Kidul Kecamatan Cibeber, udaranya segar dan pemandangannya luarbiasa, sepertinya layak disejajarkan dengan wisata pananjakan kawasan Bromo, sambil menunggu sunrise, juga di siang hari menikmati panorama di atas awan sambil ngupi, mensyukuri alam raya ciptaan Allah SWT. 
 
Saat saya membuka laman lebakuniquedotcom milik Dinas Pariwisata Lebak, saya disambut kawih sunda kreatif diiringi gitar, bercerita tentang Suku Adat Baduy kabanggaan masyarakat Lebak tur bangsa Indonesia. Terakhir di update 19 November 2018, belum terdapat informasi ataupun agenda yang di share hasil dari pertemuan ataupun Launching Kalender Wisata Lebak kemarin di Kementerian Pariwisata. Padahal Bupati Lebak, saat Launching Kalander Wisata Lebak mewanti-wanti, beritakanlah yang baik-baik tentang Lebak, kita harus bangga jadi Urang Lebak. Namun, disaat antusiasme masyarakat membubung tinggi, ternyata belum dibarengi dengan pelayanan prima. Semoga ke depan informasi penting terkait agenda wisata dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat. Walaupun begitu saya (tetap) Bangga Jadi Urang Lebak.
 
Saya sepakat, Alam telah memberi kita banyak hal, kita jadikan Alam lebih bermanfaat dengan tetap merawat dan memberi sentuhan kreatifitas, agar kita lebih arif dan bijaksana dalam mengelola Alam, di eksplor bukan hanya untuk sekedar “digali” semata, namun juga untuk diwariskan, dijaga, serta menjaga religius dan kearifan lokalnya. Tentunya, pemberdayaan Sumber Daya Manusia yang profesional dibidang Wisata juga harus terus dilakukan.
 
Intina mah bijak dalam pengembangan wisata, Masyarakat Desa berdaya, alam tetap terjaga, ekonomi daerah maju.
 
 
Penulis Dian Wahyudi,  Anggota Fraksi PKS DPRD Lebak

Trending