Connect with us

METROPOLITAN

Bareskrim Periksa Pelapor Kasus Hoaks dan Fitnah yang Diduga Dilakukan Sekjen PDIP

Published

on

Tim Advokat Indonesia Bergerak (TAIB) saat melaporkan Sekjen PDIP Hasto Kristianto

Tim Advokat Indonesia Bergerak (TAIB) saat melaporkan Sekjen PDIP Hasto Kristianto ke Bareskrim Polri terkait kasus dugaan penyebaran hoaks dan fitnah. (Istimewa)

Jakarta – Kasus ujaran “Mau pilih penebar fitnah atau yang difitnah” yang disampaikan Sekjen PDIP yang juga Sekretaris Tim Kampanye Nasional atau TKN Jokowi-Maruf yang juga Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto saat kunjungan ke Lebak mulai diselidiki Bareskrim Polri.

Dikutip dari suara.com. penyidik Bareskrim Polri mulai memeriksa Nita Puspita Sari, pelapor kasus berita bohong alias hoaks yang diduga dilakukan Hasto Kristianto, Senin, 7 Januari 2019.

Terkait pemeriksaan itu, pengacara Nita, Djamaluddin Koedoeboen mengaku kliennya dicecar 15 pertanyaan oleh penyidik terkait kasus penyebaran hoaks dan fitnah yang diduga dilakukan Hasto.

BACA :  Tenaga Ahli Gubernur Bantah Tudingan Ketua Komisi V soal Pergub Pendidikan Gratis

“Pada intinya kedatangan kami hari ini adalah dalam rangka memberikan keterangan, berita acara interview yang diminta penyidik dalam rangka penyelidikan soal laporan yang disampaikan Hasto terkait laporan dugaan ujaran kebencian yang disampaikan beliau (Hasto),” kata Djamaluddin sesuai mendampingi Nita menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri.

Djamaludin tak merinci apa saja yang ditanyakan penyidik kepada kleinnya selama pemeriksaan dilakukan. Dia hanya memastikan Nita memberika jawaban secara lugas kepada penyidik.

Selama menjalani pemeriksaan itu, Nita juga menunjukkan barang bukti berupa pernyataan Hasto saat berkunjung ke Banten. Diduga, barang bukti itu berkaitan dengan penyebaran fitnah Hasto yang menyebut capres nomor 2, Prabowo Subianto sebagai penyebar hoaks.

BACA :  PT Dover Chemical Belum Lengkapi Izin Pengolahan Limbah

BACA JUGA: Ditanya Penyebab Elektabilitas Jagoannya Keok di Banten, Hasto: Mau Pilih Penyebar Fitnah atau yang Difitnah

“Di antaranya Hasto mengatakan bahwa ‘masyarakat ini mau pilih yang mana, mau nyebar fitnah atau difitnah,” kata Djamaluddin.

Diketahui, Nita melaporkan Hasto terkait kasus ujaran kebencian ke Bareskrim Polri pada 26 Desember 2018 lalu dengan nomor LP/B1680/XII/2018/BARESKRIM. Dia berharap dengan dimulainya pemeriksaan awal ini, polisi akan serius mengusut kasus yang menjerat Hasto. Ia yakin polisi dapat menjalankan tugasnya dengan profesional.

Sebelumnya, Bawaslu Banten juga telah melakukan pemeriksaan terhadap dua saksi pelapor terkait ujaran Hasto Kristiyanto ini.

BACA JUGA: Bawaslu Banten Proses Ujaran Hasto ‘Mau Pilih Penebar Fitnah atau yang difitnah’

BACA :  Ini Pengakuan Pelaku Spesialis Pencuri Kambing di Sukadiri

Kasus ini sebelumnya dilaporkan Tim Advokat Indonesia Bergerak (TAIB) ke Bawaslu RI. Karena lokasi perkara yang dilaporkan berada di Banten, Bawaslu RI melimpahkan kasusnya ke Bawaslu Banten.

“Kemarin Rabu (2 Januari 2019) sudah panggil satu pelapor dan dua saksi yang dibawa oleh pelapor,” ujar Badrul Munir, Koordinator Divisi Penindakan Pelanggaran Bawaslu Banten, Sabtu 5 Januari 2018.

Hasil dari pemeriksaan terhadap dua saksi dan pelapor, Bawaslu mendapatkan pokok keterangan yang disampaikan pelapor dan saksi.(Rus)



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler

Please disable your adblock for read our content.
Refresh