Connect with us

METROPOLITAN

Sopir Truk Tanah Tinggalkan Kendaraan di Bahu Jalan, Jalan Raya Legok-Parung Panjang Lumpuh Total

Published

on

Sopir Truk Tanah Tinggalkan Kendaraan di Bahu Jalan, Jalan Raya Legok-Parung Panjang Lumpuh Total

Sopir truk tanah tinggalkan kendaraan di sepanjang Jalan, Jalan Raya Legok-Parung Panjang, Jumat, 11 Januari 2019. Kawasan ini lumpuh total. (BantenHits.com/ Hendra Wibisana)

Tangerang — Ratusan truk tanah yang ditinggalkan sopirnya, dibiarkan terparkir di sepanjang Jalan Raya Legok-Parung, Jumat, 11 Januari 2019. Akibatnya, arus lalu lintas di kawasan tersebut lumpuh total.

Para sopir truk memarkirkan kendaraannya dengan alasan menunggu jam operasional. Mereka meminta Pemkan Tangerang merevisi Peraturan Bupati atau Perbup Nomor 47 Tahun 2018 tentang pengatiran jam operasional kendaraan truk angkutan barang tambang.

“Ini akibat munculnya Perbup Tangerang Nomor 47 tahun 2018 yang hanya memberlakukan jam operasional truk selama tujuh jam. Dampaknya mobil truk menumpuk dan menimbulkan kemacetan,” ungkap Fadhlan, Ketua Asosiasi Transporter, Jumat 11 Januari 2019.

BACA JUGA: Pembatasan Jam Operasional Truk Kurangi Kemacetan, Dishub Kabupaten Tangerang Klaim Laju Ekonomi Berkembang

Fadhlan menjelaskan, pengaturan jam operasional truk selama tujuh jam, bukan bagian dari solusi atas permasalahan lalu lintas di ruas Jalan Legok-Parung Panjang.

“Karena waktu melintas yang hanya 7 Jam itu bukan bagian dari solusi, tapi malah menambah masalah. Maka saran kami ini harus segera direvisi atau dicabut perbupnya, karena tidak efektif,” tegasnya.

Mengenai kemacetan yang terjadi hingga 2 Kilo meter yang disengaja oleh pengemudi truk dengan memarkirkan kendaraannya di badan jalan. Sehingga arus kendaraan dari Bogor dan Tangerang menjadi tersendat.

“Mereka bukan parkir, tapi menunggu jam operasional. Harusnya pemerintah sebelum menerapkan peraturan, disediakan dulu solusinya. Seperti kantong parkir. Inikan enggak ada kantong parkir,” terang Fadhlan.

Dengan dengan adanya pengaturan waktu operasional angkutan tambang, lanjut Fadhlan, kendaraan truk angkutan barang tidak akan mampu mencukupi waktu perjalanan pulang-pergi dalam mengangkut barang tambangnya.

“Truk ini berjalan sesuai jam operasionalnya yang ditentukan. Jumlah truk mencapai 2.000, itu tidak sesuai dengan jam operasional yang hanya tujuh jam. Mana keburu mereka angkut barang,” jelasnya.

“Kalau kami minta kembalikan aturan awal saja, dengan menerapkan 3 jam pagi dan 3 jam sore waktu,” ucapnya.(Rus)

Trending