Connect with us

METROPOLITAN

Baku Hantam Mahasiswa vs Petugas Warnai Unjuk Rasa Tuntut Kesehatan Gratis di Kota Tangerang

Published

on

Mahasiswa dan petugas bentrok di Balaikota Tangerang

Massa mahasiswa dari Front Aksi Mahasiswa Kota Tangerang terlibat bentrok dengan Satpol PP dan kepolisian di depan Kantor Wali Kota Tangerang, Rabu sore, 30 Januari 2019. (BantenHits.com/ Hendra Wibisana)

Tangerang — Aksi baku hantam mewarnai unjuk rasa Front Aksi Mahasiswa Kota Tangerang di depan Kantor Wali Kota Tangerang, Rabu sore, 30 Januari 2019. Sejumlah mahasiswa dan petugas Satpol PP dilarikan ke rumah sakit setempat karena mengalami luka serius.

Wartawan BantenHits.com Hendra Wibisana melaporkan, kericuhan berawal ketika massa aksi berusaha memasuki halaman Kantor Wali Kota Tangerang dengan membakar ban bekas. Mahasiswa ingin bertujuan menyampaikan aspirasi mereka perihal kesehatan gratis secara langsung kepada wali kota Tangerang.

BACA :  Bayi di Dalam Kantong Plastik Gegerkan Warga Poris

Namun, aksi yang semula tertib berubah ricuh ketika Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyan menolak bertemu mahasiswa. Petugas Satpol PP dan Kepolisian yang berada di lokasi memaksa mundur massa aksi keluar halaman Balaikota Tangerang.

“Ini  tindakan anarkis yang dilakukan petugas yang kami terima,” ucap salah satu mahasiswa.

Kericuhan kembali terjadi ketika mahasiswa melempari petugas dengan berbagai benda, sehingga terjadi aksi saling kejar dan baku hantam antara kedua belah pihak. Akibatnya, petugas Satpol PP dan mahasiswa mengalami luka akibat terkena lemparan dan pukulan benda tumpul.

“Ada beberapa Anggota kami yang mengalami luka cukup serius dibagian pelipis, dan sekarang mendapatkan penanganan serius di Rumah Sakit ,” jelas Kepala Bidang Tibum Satpol PP Kota Tangerang, Ghufron. 

BACA :  Foto Polisi yang Diduga Pacari ABG di Cilegon Beredar di Medsos, Ini yang Mengundang Kecaman Netizen

Terkait kericuhan tersebut sejumlah massa aksi mahasiswa diamankan petugas kepolisian Polsek dan Polres Metro Tangerang Kota karena dianggap sebagai provokator.

Reporter: Hendra Wibisana
Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Terpopuler