Connect with us

METROPOLITAN

Tradisi Guyub Membuat Barongsai; Menangkap Pesan Toleransi dari Kampung Mangga Dua Dalam

Published

on

Pembuatan barongsai di Kampung Mangga Dua Dalam

Pembuatan barongsai di Kampung Mangga Dua Dalam, Kota Serang. (BantenHits.com/ Mahyadi)

Jari-jari tangan Boby Sanjaya (50), cekatan menganyam tali pada batang bambu yang akan ia bentuk menjadi barongsai. Boby tak sendirian. Ada banyak warga lainnya membantu Boby menyelesaikan barongsai.

Kampung Mangga Dua Dalam, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Serang, dikenal sebagai Pecinan di Kota Serang. Setiap menjelang Imlek, warga kampung ini guyub membuat barongsai untuk perayaan Imlek. Uniknya, warga yang turut dalam pembuatan barongsai berasal dari lintas agama.

Bagi warga Kampung Mangga Dua Dalam, bahasarongsai tak hanya dimaknai sekadar ekspresi seni. Barongsai bagi mereka menjadi sarana mengokohkan ikatan toleransi.

Roby Sanjaya yang juga koordinator Pengurus Naga Banten Bersama mengatakan, di Kampung Mamgga Dua Dalam ada banyak agama. Namun warganya bersama-sama berbaur saling merayakan hari besar agama.

Seperti saat ini menjelang perayaan Imlek 5 Februari 2019, masyarakat berbaur membuat serta memperbaiki barongsai yang mulai warnanya pudar serta rusak.

“Tidak ada batasan dari dulu kami di ajarkan orang tua harus guyub (menyatu) dengan semua agama,” kata Roby ditemui di lokasi pembuatan barongsai, Jumat, 1 Februari 2019.

Sejak Kota Serang berdiri, lanjut Roby, kerukunan di kampung yang berjuluk Cinanya Kota Serang ini sudah terbentuk kuat. Semua penganut agama yang diakui di Indonesia berada di kampung ini.

“50 persen pribumi muslim, 15 (persen) agama campur. Ya tadi itu tadi, kalau kampung ini bisa di sebut Cinanya Kota Serang,” tegasnya.

“Kami dari kecil sama sama dan merayakan Idhul Fitri, panjang mulud, sama sama mereyakan umat lainya sama sama, seperti saat ini Imlek,” sambungnya.

Pada saat perayaan Imlek nanti, barongsai akan diarak keliling sekitar kampung, namun uniknya barongsai akan dimainkan oleh pemain dari lintas agama mulai dari anak SD sampai orang dewasa.

“Keliling aja main ke jalan, tahun ini belum di pastikan mau ngarak atau tidak. Dari mereka anak SMP dari orang dewasa juga, dari pada keluyuran tidak jelas saat Imlek lebih baik di rayakan dengan main barongsay. Karena di sini swadaya masyarakat pembuatannya tidak ada seponpornya,” pungkasnya.

Reporter: Mahyadi
Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Trending