Connect with us

OPINI

Mengupas Diksi Genit Ala Bupati Pandeglang

Published

on

Pandeglang- Diksi “genit”, “cari panggung” dan sebagainya yang dilontarkan Bupati Pandeglang pada Bawaslu Kabupaten Pandeglang, menjadi sebuah fenomena yang menarik. Menarik karena selama menjadi bupati, beliau jarang atau bahkan tidak pernah menggunakan diksi tersebut.

Dalam literatur akademik, yang dilakukan oleh Bupati Pandeglang disebut sebagai agresi verbal (verbal aggressiveness). Agresi verbal (ada juga agresi yang bersifat fisik) adalah suatu tindakan melalui kata-kata (di dalamnya bisa ada umpatan, cacian, ungkapan kemarahan dengan kata-kata) yang ditujukan dengan maksud menyakiti orang lain, melemahkan, mendelegitimasi.

Hanya dalam konteks ini, pertanyaannya, yang dilakukan Bupati Pandeglang disengaja atau tidak? Kalau tidak disengaja, maka tindakan bukan disebut sebagai agresi verbal. Dalam hal ini, saya tidak tahu, diksi yang digunakan bupati yang bernada mengancam, mendiskreditkan dan menekan itu disengaja atau tidak.

Ada banyak sekali faktor penyebab seseorang melakukan agresi. Satu yang paling dominan (di luar faktor biologis) adalah amarah yang terakumulasi. Dari tinjauan akademik ini, maka kita bisa simpulkan bahwa Bupati Pandeglang marah, tersinggung atau tidak berkenan dengan apa yang dilakukan oleh Bawaslu Pandeglang. Kemarahan itu bahkan diperjelas dengan narasi verbal lainnya dari Bupati Pandeglang.

BACA :  Peran Psikiatri Forensik bagi Ibu yang Bunuh Anak

Pertanyaan selanjutnya: mengapa Bupati Pandeglang marah menyikapi tindakan Bawaslu Pandeglang?

Bupati Pandeglang, melalui kata-katanya sebagaimana dikutip beberapa media, dalam amatan saya, harus menghadapi kasus yang menuntut keseluruhan peran dirinya, yakni sebagai bupati yang membawahi para ASN dan peran sebagai pribadi yang dalam kasus ini, keluarganya disebut-sebut dalam laporan yang kemudian ditindaklanjuti oleh Bawaslu itu.

Kalau bupati marah lantaran ASN dipanggil Bawaslu, itu tidak logis meskipun bupati beralasan pemanggilan tersebut tidak tepat lantaran sedang musrenbang. Mengapa tidak logis? Karena bupati sendiri sudah mengimbau ASN melalui surat edaran agar netral dalam Pileg.

Kalau bupati benar-benar serius ingin menegakkan netralitas ASN, mestinya beliau tidak marah sehingga mengeluarkan agresi verbal pada Bawaslu sebagai lembaga yang independen, yang memang diamanatkan undang-undang untuk menjaga kedaulatan pemilu. Pemanggilan beberapa ASN oleh Bawaslu, mestinya diapresiasi dan didukung oleh Bupati kalau benar dan serius ingin menjaga netralitas ASN dalam Pileg.

BACA :  Jasmerah Bung Karno, Nasionalisme dan Generasi Muda

Maka, yang paling kuat dugaan, kemarahan Bupati sehingga mengeluarkan tindakan agresi adalah karena peran dirinya sebagai pribadi, sebagai bagian dari keluarga yang dalam kasus ini berkas laporannya sedang ada di tangan Bawaslu dan mereka tengah menyelidikinya.

Karena selain amarah, faktor-faktor lain yang membuat seseorang melakukan tindakan agresi adalah rasa frustrasi, perasaan terancam dan sebagainya. Sebagai seorang pribadi, sebagaimana orang pada umumnya, tentu beliau merasa terusik.

Saya memandang ini ujian buat Bupati Pandeglang, Ibu Irna. Kita tahu, selain sebagai pejabat publik beliau juga seorang pribadi bagian dari sebuah keluarga. Tetapi dalam konteks kasus ini, jelas sekali peran beliau yang lebih dominan adalah sebagai pengemban amanat rakyat.

BACA :  Kado Ulang Tahun Kabupaten Lebak Ke-191: Melompat Lebih Tinggi

Saya melihat kejadian ini sebagai sebuah peluang bagi bupati untuk mengevaluasi karakter kepemimpinannya. Saya mengajak bupati untuk merenungi teladan kepemimpinan Nabi Muhammad Saw yang pernah mengatakan:

“Kalau Fatimah mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Nabi bisa memisahkan ranah kepemimpinan yang padanya melekat hak publik dan ranah privat.

Untuk Bawaslu Pandeglang, ini juga ujian kredibelitas. Saya berharap Bawaslu Pandeglang tetap ajeg menjalankan ketentuan yang sudah berlaku. Dalam hal ini, saya mengapresiasi kinerja Bawaslu Pandeglang yang sudah merespons laporan secara profesional dan proporsional.

Penulis : Atih Ardiansyah, Analis Komunikasi Politik Dari Fisip Universitas Mathla’ul Anwar Banten



Terpopuler