Connect with us

Pemilu

Ramai-ramai Sindir LSI Denny JA; Dari Korbankan Akal Sehat demi Gepokan Uang sampai Disebut Gak Ada Malunya

Published

on

JOKOWI HADIRI DEKLARASI DUKUNGAN KELUARGA CHASAN SOCHIB

Jokowi-Ma’ruf seusai menghadiri deklarasi dukungan dari keluarga besar Chasan Sochib. (BantenHits.com/ Mahyadi)

Tangerang – LSI Denny JA kembali mempublikasikan hasil survei kekinian, Selasa, 5 Maret 2019. Sama seperti survei-survei sebelumnya, hasil survei LSI Denny JA kembali memosisikan pasangan Jokowi-Ma’ruf sebagai pemenang Pilpres 2019.

Namun, hasil survei kali ini mengundang reaksi banyak pihak. Wakil Ketua DPR-RI Fahri Hamzah bahkan menyebut materi survei LSI Denny JA terlalu tendensius dan berpotensi menimbulkan adu domba.

BACA JUGA: Pimpinan DPR RI Sebut Materi Survei LSI Denny JA Berpotensi Adu Domba

Fahri seperti dilansir kumparan.com, mengaku tidak yakin dengan hasil elektabilitas yang dirilis LSI Denny JA. Ia pun membandingkan survei elektabilitas Pilpres 2019 dengan survei elektabilitas Pilkada DKI 2017 lalu.

“Pernah ada survei itu Ahok di sini (unggul), Anies di sini (tertinggal). Tapi (Ahok) kalah juga dan mereka (lembaga survei) enggak ada malunya,” kata Fahri di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu, 6 Maret 2019.

BACA :  Ada Partai di C1 Suaranya Kosong Tiba-tiba Melejit, Demokrat Cilegon Laporkan Manipulasi Data Perolehan Suara ke Bawaslu

“Nganggap dirinya paling hebat lagi, enggak ngaku di pilkada lain juga kan begitu. Termasuk pilkada di luar Jawa, saya kira itu jeleknya,” imbuhnya.

Senada diungkapkan pemerhati media dan ruang publik Djadjang Nurjaman melalui tulisan yang diposting di RMOL, Rabu, 6 Maret 2019.

“Jokowi-Maruf unggul jauh di atas Prabowo-Sandi. 58,7 persen lawan 30,9 persen. Selesihnya 27,7 persen! Amazing!” tulisnya.

Band Wagon Effect untuk Giring Pemilih

Menurut Djadjang, jika percaya dengan hasil survei Denny, sesungguhnya Pilpres 2019 sudah selesai. Dengan waktu tinggal sekitar 40-an hari, tidak mungkin bagi Prabowo mengejar Jokowi. Jarak elektabilitasnya terlalu jauh. Hanya orang sakti mandraguna saja bisa mengubahnya.

“Itu memang target yang diinginkan Denny agar publik terpengaruh oleh publikasinya. Dalam teori marketing itu disebut sebagai band wagon effect. Sebuah efek di mana seorang pemilih yang masih belum memutuskan, akan ikut memilih calon yang paling banyak dipilih,” jelasnya.

BACA :  Rekannya Banyak Dipersekusi, Koordinator #2019GantiPresiden di Tanah Jawara Malah Serukan Anggota Tetap Santun dan Taat Hukum

“Sayangnya publik saat ini jauh lebih cerdas. Sebaliknya reputasi Denny juga sudah telanjur tercemar. Jadi survei Denny ini hanya usaha sia-sia. Dia cuma ingin menyenangkan klien yang membayarnya,” sambungnya.

Dadjang menjelaskan ada beberapa alasan mengapa menyimpulkan survei Denny sebagai upaya menggarami air laut.

“Pertama, kredibilitas Denny sudah sangat tercemar. Beberapa surveinya, mulai dari Pilkada DKI 2017, sampai Pilkada serentak 2018, semuanya meleset jauh. Di Pilkada DKI Denny menjadi konsultan pasangan Agus-Silvy. Silakan dibuka kembali jejak digitalnya. Sangat jelas dia mencoba men-spin hasil survei,” terangnya.

Djadjang mengungkapkan, setelah gagal total di putaran pertama Pilkada DKI Jakarta 2017, Denny segera banting stir, langsung menempel Anies Baswedan.

BACA :  Gelar Nobar Debat Capres Putaran Kedua, Ketua DPRD Banten Ajak Masyarakat Pilih Jokowi  

“Dia menawarkan bantuan tanpa bayar. Sebab dari beberapa survei yang obyektif sudah diketahui Anies-Sandi akan menang. Benar saja, Anies-Sandi menang. Denny kemana-mana mengklaim bahwa Anies-Sandi menang karena bantuannya. Kemenangan Anies-Sandi dimasukkan dalam daftar rekor kemenangannya. Orang seputar Anies yang tahu kelakukan Denny marah besar,” ungkapnya.

Pada Pilkada Serentak Jabar dan Jateng, kata Djadjang, LSI Denny JA kembali membuat kesalahan besar. Hasil surveinya salah total dengan margin error lebih dari 20 persen. Jejak digitalnya juga dengan mudah dicari.

“Obyektivitas dan akal sehat dia korbankan demi mengejar gepokan rupiah yang dibayarkan kliennya. Sikap ini sungguh sangat disayangkan dilakukan oleh figur terdidik sekelas Denny,” ujarnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler