Connect with us

OPINI

Jadi Pemilih Cerdas

Published

on

FOTO: Ikeu Isrianingsih. (Istimewa).

Lebak- Proses demokrasi yang baik, bukan hanya terletak pada sukses penyelenggaraannya saja, namun juga tidak terlepas dari pemilih, utamanya pemilih cerdas. Dengan pemilih cerdas, akan menumbuhkan demokrasi bukan hanya sebatas euforia. Dapat berjalan dengan baik, jika masyarakat sudah memandang dan menyadari arti demokrasi, semoga suara tidak dapat dibeli dengan uang atau iming-iming janji lagi.

Pemilu legislatif (Pileg) dan pemilihan presiden (Pilpres) serentak tahun 2019 menjadi momen bagi masyarakat untuk terus belajar politik dan berdemokrasi. Demokrasi menuntun kita untuk menggunakan hak suara kita sebagai warga negara. Inilah kesempatan bagi masyarakat untuk memilih calonnya. Pemilih cerdas tidak sembarang memilih.

Kita kerap mengeluh, kesal atas semua tindakan pemerintah, dari mulai pemerintah kabupaten, provinsi sampai Negara, yang tak pernah menjawab persoalan rakyat. Tapi kita tidak sadar bahwa kitalah yang memilihnya. Di saat kita memilih calon presiden dan calon legislatif (caleg) dari kabupaten sampai DPR RI, kita kadang tidak tahu lebih dalam, bagaimana visinya, bagaimana wataknya dan lain-lain.

Kerap sekali kita dikelabui oleh janji dan rayuan gombal para calon. Saatnya rakyat cerdas untuk menentukan pilihan. Jangan lagi lugu dalam memilih pemimpin. Kenali lebih dalam dan ikuti perkembangan para calon. Jangan tergiur dengan janji manis, bahasa iklan dan kecerdikan tim-tim sukses.

Tak dipungkiri, saat ini pesta demokrasi masih identik dengan uang, demokrasi masih bisa dibeli. Jadi jika rakyat masih terus dikelabui uang, maka rakyat akan kembali masuk ke jurang penderitaan (kemiskinan, pengangguran, masalah pendidikan, anak-anak terlantar, materialisme, dll) dan takkan pernah bisa keluar dari sana.

Dari beberapa pengalaman pada saat pesta demokrasi, rakyat disanjung dan dipuja setinggi langit, tetapi setelah pesta demokrasi usai, maka rakyat ditelantarkan. Sama seperti pepatah mengatakan habis manis sepah di buang. Belum lagi, ditambah kurangnya pendidikan politik pemilih secara signifikan, seolah menjadi penyebab bertambahnya angka golput. Dengan potensi golput yang besar, maka perhatian serius perlu ditujukan untuk membangun kembali kesadaran dan kecerdasan politik warga.

Kaum muda sering pula berpikir buat apa ikutan Pemilu, mindset tersebut haruslah diubah, karena yang akan mengalami dan menghadapi masa depan Indonesia lima tahun ke depan adalah generasi milenial, maka mereka harus berkontribusi dan saatnya adalah sekarang. Masa depan bangsa ini akan menjadi tanggung jawab mereka.

Menurut penulis, yang penulis ramu dari pemikiran dan berbagai sumber, berikut cara menjadi pemilih cerdas : Pertama, kita harus memberikan atensi yang sama pada isu Pileg dan Pilpres. Ruang publik saat ini, seolah lebih mendominasi pembahasan perihal Pilpres, ini mengkhawatirkan, jika isu Pilpres dapat mengalihkan perhatian publik dengan mengesampingkan Pileg. Perwujudan pelayanan publik yang baik tidak hanya dapat dicapai dari presiden yang baik, namum parlemen yang baik juga dibutuhkan, agar kinerja presiden dapat optimal. Maka dari itu, infomasi seputar calon legislatif sangatlah penting.

Kedua, Pastikan kamu terdaftar sebagai pemilih. Syarat untuk terdaftar sebagai pemilih yaitu kamu sudah berusia 17 tahun pada hari pemungutan suara, pernah atau sudah menikah, tidak sedang dicabut hak pilihnya, mempunyai e-KTP dan tidak sedang menjadi Anggota TNI/Polri. Pastikan nama kamu sudah ada di Daftar Pemilih Tetap (DPT). Gunakanlah hak pilih kita. Satu suara akan berguna bagi calon yang baik. Jika apatis maka justru orang yang tidak baik yang akan jadi dan merugikan kita, bahkan masyarakat secara umum.

Ketiga, Kenali caleg atau pasangan capres yang sesuai dengan aspirasi politik pribadi. Tidak mudah untuk mengenali calon legislatif satu per satu. Pilihlah calon dengan cara kenali rekam jejak calegnya. Bukan politisi karbitan, melainkan melalui proses pengkaderan yang panjang.

Sebagai bahan pertimbangan, seperti penulis, saat ini dicalonkan sebagai calon Anggota DPRD Lebak oleh Partai Keadilan Sejahtera dari Daerah pemilihan 1 meliputi kecamatan Rangkasbitung, Cibadak, Kalanganyar dan Warunggunung nomor 3, sebelum dicalonkan pernah aktif di HIMA Komunikasi Unila, pernah menjadi Menteri Sospol BEM Unila, pernah aktif sebagai Staf Bidang Perempuan DPW PKS Lampung 2004-2006, DPRa Sukabumi Bandar Lampung 2007-2011, Ketua Wajihah Thulabi Kab. Lebak 2012-2016, menjadi Ketua Lebak Students Center (LSC), aktif di Tapak Suci Lebak, aktif di Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Lebak, aktif di Kaukus perempuan politik Indonesia (KPPI) Lebak, Ketua RKI (Rumah Keluarga Indonesia) Kab. Lebak 2016-2020, serta Ketua BPKK (Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga) PKS Kab. Lebak 2016-2020. Semuanya membentuk karakter penulis lebih dekat dengan perjuangan masyarakat.

Selain itu, di era digital saat ini, kita juga bisa melihat langsung seperti apa calon kandidat yang akan kita pilih melalui akun media sosialnya masing-masing. Lihat dan baca rekam jejaknya. Tapi hati-hati, jangan sampai kita termakan hoax atau informasi bohong dan hal-hal negatif lainnya seperti SARA, fitnah, dan sebagainya. Apalagi sampai menyebarluaskannya, karena ada sanksinya. Kita harus bisa memilah-milih mana informasi yang benar dengan cara melakukan kroscek sumber informasinya terlebih dahulu.

Keempat, Cermati program dan gagasannya. Mereka pasti menawarkan nilai lebih dari diri mereka masing-masing. Seperti visi penulis, Mendorong kearusutamaan keluarga menuju pembangunan manusia Lebak yang berkualitas. Dengan misi, Menyelenggarakan sekolah pra Nikah berbasis kecamatan, Kajian harmonisasi pasutri berbasis desa, Pembinaan kewirausahaan bagi ibu rumah tangga, mendorong kota ramah anak. Pilihlah calon yang menawarkan program-program bermanfaat bagi masyarakat sekitar kita, daripada memilih calon yang banyak bicara, tetapi hanya menebar janji.

Kelima, pilih calon yang jujur yang paling kita ketahui. Karena itu jangan pilih yang menyuap, menyogok, dan kasih saweran saat kampanye. Ciri lain calon yang baik biasanya dalam kampanye lebih banyak mendengarkan keluhan dari rakyat dan bukannya bicara sendiri. Keenam, Tuntut elite dan aktor politik untuk melek politik. Harus bertanggung jawab secara moral dan hukum, untuk melakukan pendidikan politik selama kampanye, mengedukasi pemilih cara mencoblos, dll. Ketujuh, ikut berperan dalam mengawasi proses pencoblosan dan penghitungan suara. Segera laporkan kepada pengawas pemilu bila menemukan kecurangan sekecil apa pun.

Mengutip Rizky Fajrianto di Republika, Pemimpin yang baik lahir bukan semata karena kapasitas, kapabilitas, dan integritas personal yang bersangkutan. Pemimpin yang baik bisa lahir dari pemilih cerdas dan proses pemilihan yang demokratis.

Penyelenggara pemilu, menempati posisi strategis sebagai pilar penting demokrasi, harus bersikap netral dan berintegritas agar pesta demokrasi tidak ternodai, di mana setiap orang dapat mengakses informasi yang ada, baik diminta atau tidak diminta. Jadi, jika masih ada yang menganggap politik itu buruk, bisa jadi karena tidak memahami visi misi para calon, dan belum memiliki semangat berubah.

Disisi lain, penulis memahami perempuan adalah mitra yang baik bagi laki-laki, bukan rival apalagi musuh. esensinya, masalah perempuan dan anak memang perempuan lah yang paling memahami segala perniknya. Calon Legislatif perempuan memiliki peran dan kesempatan yang sama untuk dipilih dalam Pemilu. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak memilih pada 17 April 2019 mendatang. Jadilah pemilih cerdas.

Penulis : Ikeu Isrianingsih, S.I.Kom

Guru SMA Al-Qudwah, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak sekaligus Calon Anggota DPRD Lebak.

Trending