Connect with us

OPINI

Tiga Syarat Pemuda Bangsa Dalam Menciptakan Perubahan Dunia

Published

on

Iip Supriatna Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Untirta. (Istimewa).

Serang- Pemuda adalah warga Negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 sampai 30 tahun ( UU/No/40/Tahun /2009).

Dalam sejarah bangsa pemuda selalu menjadi penggerak kebangkitan bangsa, contoh nyata kebangkitan pemuda tertuang dalam hari sumpah pemuda 28 Oktober 1928, tidak hanya itu peran pemuda dalam kebangkitan bangsa terus bergelora dengan adanya peristiwa Rengasdengklok, 16 Agustus 1945.

Pemuda saat itu bersatu membawa satu tujuan ke Rengasdengklok mendesak Soekarno-Hatta agar mempercepat proklamasi Indonesia, akhirnya upaya tersebut berhasil dilakukan oleh pemuda pada kala itu, sehingga menghasilkan pembacaan teks proklamasi oleh Presiden pertama Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, sekali lagi pemuda memainkan peran penting dalam kemajuan bangsa.

Peran pemuda sampai saat ini terus berlanjut sebagai propokator kemajuan peradaban. Dalam sejarah bangsa Indonesia pemuda sebagai garda terdepan dalam menciptakan kemajuan, keadaan bangsa Indonesia saat ini memang berbeda dengan keadaan 89 tahun pasca sumpah pemuda, tetapi bukan berarti semangat perjuangan pemuda dalam memperjuangkan bangsanya hilang begitu saja, pemuda pada era globalisasi saat ini harus mampuh menjadi agent of change.

Bangsa Indonesia yang akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030 (liputan6.com), harus mampuh menjadikan moment tersebut sebagai sebuah kebangkitan pemuda Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yaitu, merdeka, bersatu, berdaulat, adli dan makmur (UUD Tahun 1945).

Dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar alinea ke 2 tahun 1945. Pemuda Indonesia harus mampuh menyikapi perkembangan yang terjadi di dunia saat ini, dengan penuh semangat dalam membangun sebuah bangsa, hal ini senada dengan perkatan founding father kita yaitu Bung Karno “berikan aku sepuluh pemuda maka akan kuguncangkan dunia” ini menandakan betapa pentingnya peran pemuda dalam kemajuan bangsa dan Negara.

Di era globalisasi, pemuda memiliki sebuah tantangan terhadap perubahann zaman yang semakin kompleks. Menurut Antony Giddens globalisasi diibaratkan seperti juggernaut atau panser raksaksa yang tidak akan mampuh untuk dihentikan (Teori sosiologi klasik. 2008 :606), tidak ada kata lain dalam menghadapi arus globalisasi saat ini, kecuali dengan mempersiapkan kemampuan pemuda sebagai penerus bangsa.

BACA :  Rayuan Maut Destinasi Wisata Lebak

Ada tiga hal dasar yang harus mampuh dikuasi oleh pemuda saat ini yaitu pendidikan, teknologi, soft skill dan hard skill, hal ini sesuai dengan apa yang akan dibutuhkan pada era globalisasi.

Pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pemebelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekeuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara melalui proses pembelajaran (Undang-Undang No. 20 Tahun 2003). Dengan demikian pendidikan merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mengembangkan dirinya kearah yang lebih baik, dalam hal menjawab setiap permasalahan dan tantangan zaman yang terus berkembang.

Pendidikan di era globalisasi saat ini menjadi hal fundamental yang harus mampuh dipenuhi dalam proses kehidupan manusia terutama pemuda sebagai harapan bangsa, pendidikan di Indonesia saat ini terutama bagi pemuda masih belum maksimal hal ini sesuai dengan data yang di keluarkan oleh UNICEF pada tahun 2016 sebanyak 2,5 juta anak indonesia tidak dapat menikmati pendidikan (Student. Cnnindonesia.com).

Pemerataan dalam bidang pendidikan di Indonesia masih menjadi persoalan yang samapai saat ini belum bisa terselesaikan. Menurut Staf Ahli Kemendikbud Prof. Kacung Marijan, kurang lebih ada empat permasalahan pendidikan di Indonesia saat ini yaitu, angka putus sekolah yang tinggi, buruknya insfratuktur, kualitas kurikulum yang belum setandar.(Republika.co.id).

Empat hal permasalahan tersebut yang harus segera diselesaikan pemerintah untuk mampuh mewujudkan Nwacita Indonesia yang tertuang dalam UUD 1945 pada alinea ke 4 yaitu memajukan kesejahtraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sesuai dengan cita-cita Negara Indonesia mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai jalan untuk menjawab persoalan di era gloobalisasi. Meciptakan pendidikan yang berkualitas dan humanis, merupakan hal yang wajib direalisasikan oleh pemerintah, sebagai Negara berkembang dengan segudang kekayan Indonesia mempunyai potensi yang besar dalam meciptakan Negara yang sejahtra, hal ini ada pada pundak pemuda bangsa saat ini untuk menjadi aktor perubahan peradaban dunia.
Teknologi.

Teknologi menurut Poerbahwadja Harahap adalah sebuah ilmu pengetahuan yang menyelidiki cara kerja dibidang teknik, mengacu pada sebuah ilmu pengetahuan yang digunakan dalam pabrik atau induustri tertentu (Teknologi.id). Berbagai macaam inovasi senantiasa terus berkembang dari awal abad pertengahan samapai saat ini, kemajuan teknologi di abad ini semakin tak terbendung, sehingga pada era globalisasi sekarang hampir semua hal menggunakan teknologi terutama dalam bidang pekerjaan. Generasi muda bangsa dituntut untuk terus mampuh menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman terutama dalam bidang teknologi.

BACA :  Destinasi Wisata, Mimpi dan Harapan

Tidak dapat dipungkiri kemajuan yang ditimbulkan oleh teknologi dalam era globalisai memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan manusia diseluruh pelosok dunia. Salah satu bukti kongkrit teknologi adalah jaringan internet, hampir seluruh manusia di dunia menggunakan jaringan interet sebagai alat komunikasi bahkan sebagai alat kerja sehari hari. Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar memiliki kekuarangan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dalam bidang teknologi hal ini sesuai dengan data yang di rilis oleh United Nation For Develoment program (UNPAD) pada tahun 2016 indeks pencapaian teknologi Indonesia berada pada urutan ke 60 dari 72 Negara( (kompasiana.com).

Saat ini pemerataan dibidang teknologi di Indonesia masih mempunyai masalah besar terutama pada pemuda bangasa. Dalam era globalisasi ada sebuah pepatah yang sangat populer yaitu “siapa yang menguasi teknologi dialah sesungguhnya yang akan mengasai dunia” pepatah yang melukiskan betapa besarnya pengaruh teknologi dalam perubahan dunia. Disadari atau tidak pepatah ini kian hari kian terbukti kebenaranya, sebagai contoh Bill Gates pendiri Microsoft merupakan salah satu orang yang paling berpengaruh di dunia.

Indonesia sebagai Negara yang memunyai jumlah penduduk terbanyak ketiga di dunia setelah Amerika, Indonesia harus mampuh memanfaatkan teknologi sebagai sebuah solusi untuk dapat menjadi bagaian dalam perubahan dunia di masa yang akan datang.
Soft skill. Soft skil adalah istilah sosiologis yang berkaitan dengan kecerdasan emosional, sifat kepribadian, keterampilan sosial, komunikasi, berbahasa, kebiasaan pribadi, keramahan dan optimisme yang mencirikan kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain.

Sedangkan hard skill adalah sebuah kemampuan yang bersifat lebih kepada teknis pekerjaan seperti kemampuan menguasai bahasa asing dan teknologi. Dalam persaingan di era globalisasi sangatlah ketat diakibatkan banyaknya orang yang mencari pekerjaan dalam berbagai bidang, hal ini terbukti dengan peningkatan tenaga kerja yang mencapai 127,07 juta orang pada tahun 2018 (tirto.id).

BACA :  Hajatan Nasional Pospenas ke-7 dan Santri Par Excellence

Hard skill dan soft skill yang baik adalah sebuah keharusan dalam menjawab tantangan globalisasi. Harvard University Amerika Serikat dalam penelitianya mengungkapkan kesuksesan seseorang di era globalisasi saat ini bukan hanya ditentukan oleh hard skill tetapi harus diimbangi dengan kemampuan soft skill.
Dari apa yang dijelaskan di atas, dapat kita lihat bahwa begitu pentingnya kemampuan menguasai hard skill dan soft skill di era globaliasai.

Pentingnya menguasai hard skill dan soft skill di era globalisasi sejalan dengan starategi pendidikan tinggi jangka panjang 2003-2010 (Dirjen Dikti 2004) menyebutkan bahwa peran pendidikan tinggi dalam peningkatan daya saing bangsa yang vital mengingat tingkat persaingan sumber daya manusia (SDM) di pasar kerja nasional maupun internasional terus meningkat seiring dengan peningkatan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi baru dalam berbagai bidang dunia usaha, serta tingkat kebutuhan profesionalisme yang tinggi.

Sebagai penunjang peningkatan hard skill dan soft skill pemuda bangsa Indonesia harus didukung dengan pendidikan dan penguasaan teknologi yang baik.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Daniel Gomellan (1995) menyatakan bahwa kebanayakan CEO di dunia Emotional Intellegence yang tinggi. dalam artian kemampuan yang di butuhkan dalam era globalisasi lebih ke dalam kempapuan individu. Secara keseluruhan dalam menciptakan sebuah perubahan di era globalisasi pemuda harus mampuh menguasai tiga komponen dasar tersebut yaitu pendidikan, teknologi soft skill dan hard skill.

Tiga komponen dasar ini merupakan sebuah solusi dalam menjawab tantangan globalisasi, dengan syarat terwujudnya kualitas pendikan, teknologi, hard skill dan soft skill yang baik, selain itu perlu adanya kesadaran dan keterbukaan pemuda dalam meresponn perubahan dunia, maka pemuda bangsa iIndonesia akan mampuh meciptakan sebuah perubahan dalam peradaban dunia saat ini.

Pemuda bangsa Indonesia harus bisa mengambil contoh dari para pendahulunya dalam hal menciptakan perubahann bangsanya. Nilai nilai semnagat perjuangan harus senantiasa tertanam dalam diri setiap pemuda, bersama sama menyatukan langkah, menyatukan presepsi mengumpulkan semangat nasionalisme melanjutkan perjuanagn para pendahulu, mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang besar yang mampuuh berpengaruh dalam perubahan dunia.

Penulis:  Iip Supriatna Mahasiswa Untirta Jurusan Pendidikan Sosiologi



Terpopuler