Connect with us

Pemilu

Sebelum Ketua KPPS di Pondok Aren Meninggal Dunia, Ustaz yang Merukyah Sarankan Ini ke Keluarga

Published

on

Ucapan belasungkawa untuk Ketua KPPS di Pondok Aren yang meninggal

Ucapan belasungkawa untuk Ketua KPPS di Pondok Aren yang meninggal usai menjalankan tugas. (Istimewa)

Tangsel – Kabar duka mengenai penyelenggara Pemilu yang meninggal dunia saat bertugas kembali terdengar. Hanafi (49), Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 50, Kelurahan Jurang Mangu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), meninggal dunia, Kamis sore, 18 April 2019 sekitar pukul 17.00 WIB.

Ditemiui wartawan BantenHits.com Gerri Bermara di rumahnya, Jalan Wahid Hasyim, Gang Mushola, RT06/05, Jurang Mangu Timur, Pondok Aren, Tangsel, Tri Widartani, istri almarhum mengungkapkan, sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Hanafi sempat merasakan sakit di bagian perutnya. 

Tri mengaku, sebelumnya sang suami tak pernah mengeluhkan tengah menderita penyakit serius.

“Sebelumnya tidak punya penyakit, bapak tidak pernah cerita dan tidak pernah bilang,” ujar Tri, Minggu, 21 April 2019.

Pulang Seusai Pencoblosan

Tri menjelaskan, ketika hari pencoblosan berlangsung, suaminya pulang ke rumah dari TPS 50 tempat dia bertugas, lantaran mengeluh sakit pada perutnya. 

“Katanya, perutnya tidak enak saat pencoblosan. Terus keluar lagi beli air kelapa ijo, setelah itu balik lagi ke TPS sekitar jam 11 (Siang),” terangnya. 

Setelah kembali ke TPS untuk melanjutkan tugasnya, lanjut Tri, suaminya kembali pulang ke rumah sekitar pukul 13.00 WIB untuk beristirahat sambil menunggu waktu perhitungan.

Namun, saat tengah beristirahat, Hanafi kembali diminta agar balik lagi ke TPS untuk melakukan penandatanganan. 

“Bapaknya mau berangkat (ke TPS), tapi udah benar-benar tidak kuat. Terus saya bilang, tanda tangan bisa dibawa ke rumah tidak?,” tanya Tri kepada para anggota KPPS yang datang ke rumahnya. 

Tri menambahkan, semenjak saat itu suaminya tak mampu lagi untuk bangun dan hanya dapat terbaring lemah di kasur. Hingga akhirnya, Tri memanggil dokter untuk datang ke rumahnya pada malam hari. 

“Kata dokter sih asam lambungnya naik,” tuturnya.

Keesokan harinya, Kamis, 18 April 2019, Hanafi masih tetap terbaring lemas. Karena kondisi yang mengkhawatirkan itu, Tri memanggil tokoh agama di wilayah Pondok Aren untuk dilakukan rukyah kepada suaminya. 

“Saran dari ustaz, kalau sudah bisa membuka matanya tolong dibawa ke rumah sakit, takutnya nanti ada gangguan medis yang tidak ketahuan,” tandasnya.

Namun takdir berkata lain, ketika hendak di bawa ke rumah sakit, Hanafi harus menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 17.00 WIB. 

Tri menduga Kepergian Hanafi tersebut lantaran beberapa faktor. Faktor utama ialah karena kelelahan dan juga pola makan yang tak teratur. Diketahui, sebelum hari pencoblosan Hanafi bertugas mengurus distribusi logistik pemilu, serta keperluan lainnya yang mengharuskan dirinya bermalam di TPS.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Trending