Connect with us

Pemilu

Alasan Kelelahan Dipertanyakan, Kematian 440 Petugas KPPS Akan Ditelusuri Lembaga Ini

Published

on

Petugas KPPS menunjukkan Surat suara tercoblos

Petugas KPPS di Kota Tangerang, menunjukkan surat suara tercoblos untuk Jokowi-Ma’ruf saat Pemilu, 17 April 2019.(Tangkap layar YouTube)

Tangerang – KPU RI telah mengumumkan, jumlah petugas penyelenggara pemungutan suara atau KPPS yang tertimpa musibah hingga Sabtu, 4 Mei 2019 sudah mencapai 4.228 jiwa. Dengan rincian, 440 orang meninggal dunia dan 3.788 lainnya jatuh sakit.

Sejauh ini, faktor kelelahan disebut menjadi penyebab utama kematian petugas yang angkanya menjadi terbesar sejak era demokrasi.

Namun, alasan kelelahan yang diklaim KPU dipertanyakan Anggota Presidium Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, Arief Rahman. Alasannya, secara natural, orang yang lelah biasanya tidur.

“Kelelahan berakibat kematian kalau korban tidak memiliki penyakit berat menjadi pertanyaan,” kata Arief seperti dilansir viva.co.id, Senin, 6 Mei 2019.

BACA :  Bawaslu Sebut Masih Banyak APK yang Melanggar di Cilegon

Arief mengaku bisa memaklumi alasan kelelahan jika korban yang kelelahan mempunyai riwayat penyakit jantung, darah tinggi kronik, tekanan darah naik sehingga menjadi stroke dan pendarahan.

“Tapi kalau kelelahan tanpa yang lain-lain perlu kita buktikan. Apalagi yang terbaca, dari distribusi korban ada korban-korban berusia muda di bawah 40 tahun, belum masuk kategori mereka yang punya penyakit kronik,” tegasnya.

Kematian Korban Ditelusuri

Arief menegaskan, lembaganya berniat menelusuri kematian para korban, mulai dari waktu kejadiannya, yakni saat proses penghitungan dimulai pasca-pencoblosan pada 17 April 2019.

“Itukan tanggal 17 di TPS, 18 naik berjenjang, dari kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota. Di tingkat mana saja korban-korban itu terjadi,” katanya.

BACA :  Koordinator #2019GantiPresiden: Umat Islam Harus Memilih Pemimpin yang Direkomendasikan Ulama Bukan Ulama Pilihan Presiden

Arief menegaskan hampir tidak mungkin jika faktornya cuma karena kelelahan. Terlebih, korban timbul di pihak keamanan atau kepolisian bukan hanya petugas KPPS.

“Padahal mereka sudah berpengalaman, bertugas di bawah tekanan, bermalam-malam kok,” ujarnya.

Dibanding Pemilu 2014, lanjut Arief, korban meninggal tidak terlalu signifikan. Lagipula, pemilu di Indonesia juga tidak dalam situasi konflik, berbeda di negara-negara yang demokrasinya baru mulai seperti di Afrika.

“Korban timbul karena bentrok langsung antara kedua kubu, berhadap-hadapan. Ini kita relatif menjalankan secara normal, lancar,” tuturnya.

Arief juga mengkritik sistem yang diterapkan KPU. Dia menilai panitia seperti tidak peduli terhadap kondisi yang terjadi. Di satu sisi, proses penghitungan jalan terus sementara di sisi yang lain korban meninggal jumlahnya naik terus.

BACA :  Jokowi Ragukan Analisis Prabowo soal Kebocoran APBN, Ternyata Riset KPK Ungkap Nilai Kebocoran Lebih Besar

“Idealnya dalam kondisi ini, pilihannya setop atau ganti. Kalau semuanya lelah, meninggal setop dong atau petugas dirotasi,” katanya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler