Connect with us

METROPOLITAN

Digerebek Warga saat Sekamar sama Wanita di Kosan, Pria di Legok Sukmajaya Sebut-sebut Tuhan

Published

on

Warga Legok Sukmajaya grebek kos-kosan yang diduga jadi tempat asusila. (BantenHits.com/ Nurmansyah Iman)

Serang – Kesal lantaran kampungnya kerap dijadikan tempat praktik asusila, warga Kampung Legok Sukmajaya, Kelurahan Derangong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, menggerebek komplek kos-kosan, Senin dini hari, 3 Juni 2019.

Warga menyisir satu persatu kos-kosan yang berjumlah 30 pintu. Hasilnya, seorang pria berinisial WBS didapati berada di dalam kos-kosan perempuan.

Di hadapan warga, WBS mengaku dirinya tidak melakukan tindakan asusila. Dia berada di kosan untuk menunggu temannya.

“Demi Allah saya gak ngelakuin apa-apa. Saya lagi nungguin temen di sini. Saya udah bilang ke temen cewek saya buka ajah pintunya tapi dia bilangnya tutup ajah gak enak katanya sama yang di luar,” ungkapnya.

Tempat PSK

Ketua RT 03 RW 01 Badrudin mengatakan, penggerebekan dilakukan menyusul laporan warga yang melihat pasangan bukan muhrim masuk ke dalam kosan.

“Berdasarkan laporan, banyak kos-kosan di sini sekitar tiga puluhan. Kalau pengawasannya maksimal, cuma kan gak ketahuan seperti apa yah,” ungkapnya saat ditemui di lokasi penggerebekan.

Ahmad Khotib, salah seorang pemuda pengurus kerohanian di kampung itu menambahkan, di Kampung Legok banyak penghuni kos-kosan berprofesi sebagai wanita tuna susila (WTS)  yang sering mangkal di Pandean.

“Yang berprofesi sebagai WTS yang mangkal di Pandean banyak yang ngontrak di sini. Selain itu kontarakan-kontrakan di sini dijadikan sebagai ladang yang asyik untuk melakukan hal-hal negatif contoh di sini pernah kejadian narkoba bandarnya di sini pernah ketangkep sama Polda dan sekarang kami melakukan swiping karena kebanyakan di sini yang ngontrak sebagai WTS kalau gak percaya ikuti kami sebagai warga untuk swiping, kebanyakan profesinya sebagai WTS di Pandean,” terangnya.

Menurutnya, penggerebekan yang dilalukan warga sudah atas izi pihak kepolisian dan Kelurahan setempat.

“Sangat meresahkan kalau kami harus berbicara, kita sudah berkoordinasi dengan Polsek Taktakan dan Pak RT sudah dizinkan kalau mau melakukan sweeping. Karena suatu wilayah bukan hanya menganut hukum negara tapi juga hukum adat,” ucapnya.

Khotib berharap ke depannya pemilik kontrakan bisa duduk bareng bersama tokoh mayarakat dan kelurahan untuk merumuskan aturan penghuni kos-kosan.

“Ke depannya kami ingin mengumpulkan semua pemilik kontrakan agar lebih selektif siapa yang akan menempati kontrakan,” jelasnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Trending